Zulhas: Bantuan Nelayan Investasi Pangan, Bukan Pemborosan
BREAKING — Menko Pangan Zulkifli Hasan bergerak cepat menepis tudingan bahwa program bantuan untuk nelayan adalah pemborosan. Ia menegaskan, mendukung nelayan adalah investasi ketahanan pangan, buka...
BREAKING — Menko Pangan Zulkifli Hasan bergerak cepat menepis tudingan bahwa program bantuan untuk nelayan adalah pemborosan. Ia menegaskan, mendukung nelayan adalah investasi ketahanan pangan, bukan beban fiskal.
"Masa bantu nelayan dibilang boros," tegas Zulhas, sapaan akrabnya, di hadapan ratusan santri dan keluarga nelayan di Ponpes Modern Tazakka, Bandar, Batang, Minggu (1/3/2026). Kunjungan mendadak ini langsung menjadi panggung klarifikasi.
Bantahan Keras di Depan Warga Pesisir
Zulhas menolak mentah-mentah narasi negatif yang menyudutkan nelayan tradisional. Ia menyebut, setiap rupiah yang digelontorkan untuk sektor ini adalah investasi jangka panjang. "Mereka pahlawan pangan yang bekerja di laut, bertaruh nyawa setiap hari. Negara wajib hadir," tegasnya.
Fakta Kunci
- Lokasi: Ponpes Modern Tazakka, Bandar, Batang, Jawa Tengah
- Waktu: Minggu, 1 Maret 2026, pukul 08.30 WIB
- Pernyataan Utama: Program bantuan nelayan bukan pemborosan, melainkan investasi pangan
- Konteks: Maraknya kritik dari sejumlah ekonom terhadap belanja sektor kelautan
- Dampak: Dukungan moral bagi ribuan keluarga nelayan di Pantura
Pantauan Beritatercepat, Zulhas tiba pukul 08.30 WIB disambut antusiasme warga. Beberapa membawa poster dukungan. Setelah sambutan singkat, ia meninjau dapur umum dan berdialog dengan para istri nelayan.
Dialog langsung ini menjadi wadah aspirasi akar rumput. Warga mengeluhkan mahalnya BBM subsidi dan langkanya es balok. Zulhas berjanji akan menindaklanjuti temuan tersebut secepatnya.
Seorang nelayan, Slamet (45), mengaku lega. "Selama ini kami merasa diabaikan. Kedatangan Pak Zulhas membuat kami percaya pemerintah benar-benar peduli," ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah ekonom menilai dana perlindungan nelayan kurang efektif dan rawan salah sasaran. Zulhas membantah dengan data. Subsidi BBM untuk nelayan di Pantura, misalnya, telah mendongkrak hasil tangkapan rata-rata 20 persen pada 2025.
Pakar ekonomi kelautan dari Universitas Diponegoro, Dr. Agus Hartono, menilai pernyataan Zulhas krusial. "Narasi boros ini berbahaya. Tanpa dukungan negara, nelayan kecil bisa semakin terpinggirkan dalam persaingan dengan kapal besar," katanya.
UPDATE 09:45 WIB: Data Kemenko Pangan mencatat kontribusi perikanan tangkap terhadap PDB nasional mencapai 2,8% pada kuartal IV/2025. Sektor ini menyerap lebih dari 12 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Anggaran khusus perlindungan nelayan dalam RAPBN 2026 diusulkan naik 15 persen dibanding tahun sebelumnya.
Bupati Batang, Budi Santoso, yang turut mendampingi, menyambut baik kunjungan ini. Ia menyebut, bantuan alat tangkap modern telah meningkatkan kesejahteraan 500 keluarga nelayan di wilayahnya. "Ini bukti program tepat sasaran," tegasnya.
Berdasarkan data BPS, jumlah nelayan miskin di pesisir utara Jawa masih mencapai 2,1 juta orang. Namun, program bantuan seperti asuransi kecelakaan kerja dan subsidi alat tangkap dinilai mampu menurunkan angka kemiskinan 5% per tahun.
Ketegasan Zulhas ini menjadi respons atas meningkatnya tekanan publik terhadap program bantuan sosial. Ia menekankan, pemerintah tidak akan menghentikan program yang terbukti berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat kecil.
"Kalau bukan kita yang dukung nelayan, siapa lagi?" pungkasnya.
Comments (0)