Warga Kelurahan Grogol Selatan, Jakarta Selatan, baru saja mendapat bekal keterampilan baru untuk mengelola limbah dapur menjadi produk bernilai guna. Bertempat di aula serbaguna setempat, puluhan peserta mengikuti pelatihan pembuatan komposter sederhana pada akhir pekan lalu. Inisiatif ini digelar sebagai respons terhadap persoalan sampah rumah tangga yang kian menumpuk.
Kegiatan yang diinisiasi oleh pengurus lingkungan bersama Dinas Lingkungan Hidup setempat itu menghadirkan praktisi pengelolaan sampah. Para peserta diajari merakit wadah khusus dari ember bekas yang dilengkapi pipa ventilasi. Teknik ini memungkinkan sampah organik seperti sisa sayuran dan kulit buah terurai secara alami dalam waktu dua hingga empat minggu.
Material Sederhana, Hasil Maksimal
Pelatihan menekankan pemanfaatan barang-barang yang mudah ditemukan di rumah. Setiap peserta membawa dua ember plastik bekas cat atau deterjen yang telah dibersihkan. Dengan bimbingan fasilitator, mereka melubangi bagian bawah ember dan memasang keran kecil untuk menampung cairan hasil dekomposisi โ dikenal sebagai lindi kompos yang kaya nutrisi. "Lindi ini bisa diencerkan dan dijadikan pupuk cair untuk tanaman hias atau sayuran," ujar Agus Priyono, salah satu instruktur pelatihan.
Proses pembuatan berlangsung interaktif. Peserta dibagi dalam kelompok kecil dan langsung mempraktikkan tahapan: memasukkan sampah organik yang telah dicacah, menambahkan serbuk gergaji atau sekam sebagai sumber karbon, lalu menutup rapat wadah. Setiap tiga hari, wadah dikocok untuk mempercepat penguraian. Dalam sebulan, material tersebut berubah menjadi kompos matang berwarna gelap dan tidak berbau.
Dampak Positif bagi Lingkungan
Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Dwi Rahayu, yang hadir membuka acara, menyebut program ini sebagai langkah strategis mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang. "Jika setiap rumah tangga mampu mengolah 30 persen sampahnya sendiri, volume kiriman ke TPA bisa turun signifikan," katanya. Data menunjukkan, warga Grogol Selatan rata-rata menghasilkan 0,5 kilogram sampah organik per hari. Dengan komposter, sampah tersebut tidak lagi berakhir sia-sia.
Selain menekan volume sampah, komposter rumahan turut mendukung gerakan pertanian perkotaan. Sejumlah peserta yang memiliki tanaman di pekarangan mengaku antusias. Sri Wahyuni, warga RT 03, mengungkapkan, "Saya selama ini bingung menangani sampah dapur. Sekarang malah jadi rezeki, bisa bikin pupuk sendiri tanpa beli." Ia berencana membagikan hasil komposnya kepada tetangga dan kelompok tani setempat.
Komitmen Berkelanjutan
Para peserta yang telah terlatih akan menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing. Panitia membagikan buku panduan ringkas dan menyediakan pendampingan daring melalui grup pesan singkat. Rencananya, setiap RW diminta membentuk bank komposter untuk memperluas jangkauan. Evaluasi akan dilakukan tiga bulan mendatang untuk melihat tingkat adopsi.
Kegiatan serupa dijadwalkan menyasar kelurahan lain di Kecamatan Kebayoran Lama pada bulan depan. Pemerintah kota menargetkan seribu rumah tangga memiliki komposter mandiri pada akhir tahun ini. "Ini bukan sekadar pelatihan, tapi gerakan budaya. Kami ingin warga memandang sampah sebagai sumber daya," pungkas Dwi. Dengan semangat kolaborasi, Grogol Selatan kini selangkah lebih maju dalam mengelola sampah berkelanjutan.
Comments (0)