Aug 25, 2026
breaking

Wamenpar Ni Luh Hadiri Festival Budaya Lembah Baliem ke-34 di Jayawijaya

WAMENA — BARU SAJA: Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh turun langsung ke jantung Papua. Ia menghadiri Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.Kehad...

Wamenpar Ni Luh Hadiri Festival Budaya Lembah Baliem ke-34 di Jayawijaya

WAMENA — BARU SAJA: Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh turun langsung ke jantung Papua. Ia menghadiri Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.

Kehadiran orang nomor dua di Kementerian Pariwisata itu membawa pesan keras. Pemerintah pusat serius mengangkat budaya Papua ke panggung dunia.

FBLB ke-34 digelar di kawasan Wamena, pusat pemerintahan Jayawijaya. Ribuan pengunjung dilaporkan memadati arena festival sejak rangkaian acara dibuka.

Fakta kunci: Festival Budaya Lembah Baliem memasuki edisi ke-34 tahun ini. Ajang tahunan ini menampilkan kekayaan budaya Suku Dani dan suku-suku pegunungan lainnya. Lokasi penyelenggaraan berada di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh hadir langsung memberikan dukungan pemerintah pusat.

Sinyal Kuat Dukungan Pemerintah Pusat

Ni Luh menyebut FBLB sebagai aset pariwisata nasional yang tak ternilai harganya. Menurutnya, festival ini membuktikan budaya lokal mampu menjadi magnet wisata kelas dunia.

Ia menegaskan Kementerian Pariwisata akan terus mendorong promosi destinasi Papua Pegunungan. Baik di pasar domestik maupun mancanegara.

Kehadiran pejabat setingkat wakil menteri dinilai menjadi angin segar bagi pelaku pariwisata lokal. Mereka berharap dukungan nyata berupa promosi, pelatihan sumber daya manusia, dan perbaikan layanan wisata.

Papua Pegunungan sendiri merupakan provinsi muda hasil pemekaran. Dukungan pusat seperti ini sangat dinantikan untuk mempercepat pembangunan sektor pariwisata di wilayah tersebut.

Atraksi yang Memukau Ribuan Mata

FBLB dikenal luas lewat atraksi perang antarsuku yang disimulasikan secara aman. Ratusan warga berpakaian adat lengkap turun ke arena dengan tombak, panah, dan perisai tradisional.

Ada pula tradisi bakar batu, ritual memasak bersama yang menjadi simbol kebersamaan masyarakat pegunungan. Aroma daging babi dan ubi jalar yang dimasak di atas batu panas menyambut setiap pengunjung.

Wisatawan juga disuguhi tarian tradisional dan alunan musik pikon khas pegunungan. Kerajinan tangan seperti noken menjadi buruan utama untuk dibawa pulang sebagai cendera mata.

Rumah honai yang berdiri kokoh di sekitar lokasi menambah kuat nuansa otentik lembah. Banyak pengunjung memanfaatkan momen ini untuk berfoto dan mengenal kehidupan masyarakat adat lebih dekat.

Dampak Ekonomi Nyata bagi Warga Lokal

Festival ini bukan hanya panggung budaya. Ia juga mesin ekonomi bagi masyarakat Jayawijaya.

Hotel dan penginapan di Wamena dilaporkan penuh selama penyelenggaraan. Pedagang kaki lima, penjual kerajinan, hingga sopir angkutan ikut kecipratan rezeki.

Pelaku UMKM lokal membuka lapak di area festival. Noken, ukiran kayu, koteka, dan hasil bumi pegunungan laris manis diborong wisatawan.

Pemerintah daerah mencatat perputaran uang selama festival mencapai angka signifikan setiap tahunnya. Angka pasti untuk edisi tahun ini masih dalam proses penghitungan resmi.

Aksesibilitas Jadi Pekerjaan Rumah

Meski potensinya besar, tantangan tetap ada. Akses menuju Wamena hingga kini bergantung penuh pada jalur udara.

Harga tiket penerbangan ke wilayah pegunungan tengah Papua kerap menjadi keluhan wisatawan. Ketersediaan kursi pesawat juga terbatas saat musim festival tiba.

Ni Luh mengakui persoalan ini secara terbuka. Ia menyebut koordinasi lintas kementerian terus diperkuat agar konektivitas ke Papua Pegunungan makin lancar.

Infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, dan jaringan internet masuk daftar prioritas. Semua demi kenyamanan wisatawan yang datang dari berbagai penjuru.

Festival Warisan yang Terus Diperjuangkan

FBLB pertama kali digelar lebih dari tiga dekade silam. Awalnya sederhana, kini menjelma menjadi salah satu festival budaya terbesar di Indonesia timur.

Gelaran tahun ini membawa misi pelestarian yang kuat. Generasi muda Suku Dani dilibatkan aktif agar tradisi leluhur tak tergerus zaman.

Para tetua adat menyambut positif keterlibatan anak muda tersebut. Mereka menilai festival menjadi jembatan penting antara tradisi dan masa depan.

Target Kunjungan Wisatawan

Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan ke Papua Pegunungan terus naik setiap tahun. FBLB menjadi lokomotif utama pencapaian target tersebut.

Wisatawan mancanegara dari Eropa, Asia, dan Australia diketahui rutin hadir. Mereka rela terbang jauh demi menyaksikan langsung keaslian budaya Lembah Baliem.

UPDATE: Rangkaian FBLB ke-34 masih berlangsung hingga saat ini. Sejumlah agenda budaya tambahan dijadwalkan digelar hingga penutupan resmi.

Pemerintah daerah mengimbau wisatawan mematuhi arahan panitia dan menjaga ketertiban. Keamanan serta kenyamanan pengunjung menjadi prioritas utama penyelenggara.

Dengan dukungan penuh pemerintah pusat, Festival Budaya Lembah Baliem diproyeksikan makin mendunia. Papua Pegunungan kini siap menyambut dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User