JAKARTA — Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menegaskan satu pesan keras: peringatan HUT Kemerdekaan RI tidak boleh berhenti pada seremoni belaka.
Pesan itu disampaikan Wiyagus kepada jajaran aparatur sipil negara dalam momentum peringatan kemerdekaan tahun ini. Ia menilai makna HUT RI jauh lebih dalam dari sekadar upacara bendera dan aneka lomba.
Menurut dia, perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan menuntut penghormatan yang lebih nyata. Penghormatan itu berupa kerja, dedikasi, dan nilai sportivitas dalam keseharian.
Ia mengingatkan, kemeriahan Agustusan kerap menipu. Bendera berkibar, lomba digelar, sorak-sorai pecah. Namun begitu acara usai, semangat ikut menguap. Kondisi itu harus diubah.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh jajaran pemerintahan. Peringatan kemerdekaan harus berdampak, bukan sekadar rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas.
Seremoni Penting, Tapi Bukan Tujuan Akhir
Wiyagus menegaskan dirinya tidak menolak tradisi perayaan. Upacara, lomba, dan kemeriahan rakyat tetap punya tempat. Namun semua itu hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Ia menyoroti pola yang berulang setiap tahun. Peringatan berhenti pada kemeriahan. Makna perjuangan tenggelam di balik hiruk-pikuk acara.
Ia mengingatkan bahwa anggaran dan energi yang dikeluarkan untuk perayaan harus sebanding dengan nilai yang didapat. Euforia sesaat tidak boleh mengalahkan substansi.
Karena itu, ia meminta peringatan kemerdekaan dijadikan titik evaluasi. Setiap ASN dituntut bertanya pada diri sendiri. Sudahkah kerja mereka sebanding dengan pengorbanan para pendiri bangsa.
Sportivitas Jadi Kunci
Wiyagus menawarkan satu nilai sentral: sportivitas. Bagi dia, sportivitas bukan hanya milik arena olahraga. Nilai itu sangat relevan bagi dunia birokrasi.
Sportivitas mengajarkan fair play. Ia menolak jalan pintas. Ia menghargai proses, bukan hanya hasil. Nilai-nilai itu wajib hidup di setiap instansi pemerintah.
Dalam dunia olahraga, kekalahan diterima dengan lapang dada. Kemenangan diraih dengan keringat dan disiplin. Prinsip yang sama ia minta diterapkan ASN saat melayani publik.
Ia juga menyinggung semangat pantang menyerah. Atlet bangkit setelah jatuh. Birokrat seharusnya bersikap sama saat menghadapi kegagalan kebijakan.
Ia mencontohkan para atlet yang berlatih bertahun-tahun demi satu pertandingan. Dedikasi seperti itu, kata dia, layak ditiru aparatur dalam mengabdi.
Bahkan lomba khas Agustusan menyimpan pelajaran. Panjat pinang mengajarkan kerja sama. Balap karung mengajarkan kegigihan. Semua nilai itu bisa dibawa ke ruang kerja.
ASN Dituntut Kerja Nyata
Bagi Wiyagus, ASN adalah garda terdepan pelayanan publik. Kualitas pelayanan menjadi cermin nyata penghayatan nilai kemerdekaan.
Ia meminta jajaran birokrasi mengisi kemerdekaan dengan kinerja. Bukan dengan slogan. Bukan pula dengan seremoni yang habis dalam sehari.
Setiap pelayanan yang cepat dan bersih adalah bentuk penghormatan kepada pahlawan. Sebaliknya, pelayanan lambat dan berbelit mengkhianati makna kemerdekaan itu sendiri.
Wiyagus juga menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi. Dalam olahraga tim, ego pribadi dikalahkan demi kemenangan bersama. Hal serupa ia minta terjadi di pemerintahan.
Wiyagus juga mengajak ASN menjadikan momentum HUT RI sebagai ajang pembaruan komitmen. Semangat gotong royong dan persatuan harus dikonkretkan dalam program kerja nyata.
Ia menegaskan, integritas adalah syarat mutlak. Sportivitas tanpa integritas hanya akan menjadi retorika kosong.
Makna Kemerdekaan Hari Ini
Pesan Wiyagus datang di tengah tantangan bangsa yang kian kompleks. Birokrasi dituntut adaptif, transparan, dan berorientasi hasil.
Ia meyakini nilai sportivitas mampu menjawab tuntutan itu. Birokrasi yang sportif berani mengakui kesalahan. Ia juga terbuka pada koreksi publik.
Ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Kesadaran bahwa kemerdekaan diperjuangkan, bukan diberikan. Karena itu, mengisinya adalah kewajiban bersama.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan warisan yang cukup dirayakan setahun sekali. Kemerdekaan adalah amanah yang harus diisi setiap hari, lewat kerja nyata dan integritas.
Pesan itu kini menjadi cambuk bagi seluruh jajaran ASN. Momentum Agustus diharapkan tidak lagi berhenti di seremoni. Ia harus berlanjut menjadi gerakan perubahan birokrasi yang berkelanjutan.
Kini, bola berada di tangan para aparatur. Pesan sang wakil menteri sudah disampaikan. Pelaksanaannya akan menentukan apakah peringatan kali ini benar-benar bermakna.
Dengan semangat itu, Wiyagus berharap peringatan HUT RI kali ini meninggalkan jejak. Bukan sekadar kenangan meriah, melainkan lompatan kualitas pelayanan kepada rakyat.
Comments (0)