Wajib Lacak 100 Persen Kontak Erat TBC, Erlina Burhan: Putus Penularan

JAKARTA — Pemerintah resmi mewajibkan pelacakan 100 persen kontak erat pasien tuberkulosis (TBC). Strategi agresif ini langsung mendapat dukungan penuh dari pakar paru dr. Erlina Burhan, Sp.P., yang...

Jul 12, 2026 - 05:43
0 0

JAKARTA — Pemerintah resmi mewajibkan pelacakan 100 persen kontak erat pasien tuberkulosis (TBC). Strategi agresif ini langsung mendapat dukungan penuh dari pakar paru dr. Erlina Burhan, Sp.P., yang menyebutnya sebagai langkah krusial memutus rantai transmisi.

Langkah Tepat dan Tak Bisa Ditawar

“Ini langkah tepat untuk memutus mata rantai penularan,” tegas Erlina, Rabu dini hari. Ia menekankan, selama ini pelacakan kontak masih setengah hati. Kini, setiap satu kasus TBC positif wajib diikuti penelusuran menyeluruh terhadap seluruh individu yang pernah berinteraksi erat, tanpa kecuali. Komitmen penuh dari seluruh faskes menjadi penentu keberhasilan.

Erlina menjelaskan, penularan TBC sangat cepat di lingkungan tertutup. Satu pasien tidak terdeteksi bisa menyebarkan kuman ke 10–15 orang per tahun. Maka, penelusuran kontak tak boleh menyisakan celah. Pemerintah menargetkan cakupan investigasi kontak 100 persen di seluruh kabupaten/kota pada tahun ini.

Fakta Kunci Pelacakan Kontak

  • Target 100%: Setiap pasien terkonfirmasi TBC harus dilacak seluruh kontak serumah dan non‑serumah dalam 3×24 jam.
  • Pemeriksaan gratis: Kontak erat mendapat skrining gejala, tes dahak, dan rontgen tanpa biaya di puskesmas.
  • Terapi pencegahan: Kontak dengan infeksi laten langsung diberi TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis) agar tak berkembang jadi sakit.
  • Data nasional: Kemenkes mencatat hingga awal 2026 tercatat 1,1 juta kasus TBC baru, namun baru 45% kontak yang tertelusuri.

Urgensi di Indonesia

Indonesia masih menduduki peringkat kedua beban TBC global. Angka kematian mencapai 144 ribu jiwa per tahun. Penemuan kasus secara pasif terbukti gagal menekan laju penularan. Dengan kebijakan pelacakan agresif 100 persen, diharapkan setiap mata rantai bisa diinterupsi sejak dini.

“Kita tidak bisa lagi menunggu pasien datang. Harus jemput bola ke komunitas, tes semua kontak, lalu obati. Itu satu‑satunya cara menuju eliminasi TBC 2030,” tambah Erlina. Ia juga menyoroti pentingnya melibatkan kader kesehatan di tingkat RT/RW agar tak ada kontak yang lolos.

Di sisi lain, pemerintah menyiapkan insentif bagi kader dan petugas surveilans yang berhasil menuntaskan pelacakan di wilayahnya. Dukungan logistik, alat tes cepat molekuler (TCM), dan stok TPT juga dipercepat distribusinya ke 10 ribu puskesmas prioritas. Langkah ini diyakini akan mempercepat deteksi dan memutus transmisi di level akar rumput.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User