Toton Januar Pamerkan KALA di Mulia in Fashion 2026

JAKARTA, BARU SAJA – Gemuruh tepuk tangan memecah keheningan ballroom Hotel Mulia Senayan ketika 48 koleksi terbaru Toton Januar melenggang di runway. Bertajuk “KALA”, peragaan busana yang digel...

Jul 12, 2026 - 20:52
0 0
Toton Januar Pamerkan KALA di Mulia in Fashion 2026

JAKARTA, BARU SAJA – Gemuruh tepuk tangan memecah keheningan ballroom Hotel Mulia Senayan ketika 48 koleksi terbaru Toton Januar melenggang di runway. Bertajuk “KALA”, peragaan busana yang digelar dalam perhelatan Mulia in Fashion 2026 ini menjadi medium interpretasi waktu dan kekacauan, membawa pesan bahwa kehancuran bukanlah akhir, melainkan pintu menuju perubahan.

Dari Mitologi ke Runway: Batara Kala sebagai Inspirasi

KALA bukan sekadar label. Sang Creative Director merujuk pada sosok Batara Kala dari mitologi Jawa dan Bali yang identik dengan kematian dan kehancuran. Namun, di tangan Toton, figur angker itu berubah menjadi simbol ketangguhan. “Koleksi ini adalah cara saya untuk berdansa di dalam kekacauan yang terjadi dan bagaimana kita menyikapi serta ‘berdandan’ di tengah kekacauan itu,” ungkapnya beberapa menit sebelum show.

Keresahan terhadap ketidakpastian global menjadi bahan bakar kreatif. Situasi penuh keraguan dan kesulitan dunia diterjemahkan menjadi busana yang justru menawarkan kekuatan. Setiap helai kain dan potongan seolah menjadi tameng untuk bertahan di tengah badai.

Gerbang Ogoh-ogoh Mengawal 48 Look

Set piece runway memperkuat narasi. Sebuah ogoh-ogoh raksasa karya seniman Gusman Surya berdiri megah di mulut panggung, seolah menjadi penjaga gerbang menuju dimensi KALA. Patung perwujudan Bhuta Kala itu tidak mencuri perhatian dari busana, melainkan menambah lapisan misteri yang menyelimuti seluruh pertunjukan.

Ke-48 look hadir dengan siluet dramatis, permainan tekstur, dan warna-warna bumi yang kontras dengan aksen metalik. Koleksi ini mengajak audiens menikmati keindahan yang lahir dari kekacauan—sebuah tarian visual antara gelap dan terang, antara runtuh dan bangkit.

Pengalaman Multisensoris dalam Balutan Suara Alam

Lebih dari sekadar mode, KALA adalah pengalaman multisensoris. Tata suara yang memadukan bunyi alam dengan musik elektronik menciptakan atmosfer mencekam sekaligus meditatif. Dentum keras berpadu dengan suara tongeret yang bising, menggambarkan hiruk-pikuk dunia sekaligus panggilan kembali ke alam. Setiap dentuman seakan mewakili detak jantung yang bertahan di tengah chaos.

Audien tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan. Mata tertuju pada detail busana, telinga dijejali bunyi-bunyi primordial. Perpaduan ini menjadikan peragaan busana KALA bukan sekadar perhelatan fesyen, melainkan ritual kolektif tentang cara menghadapi perubahan zaman.

Warisan Budaya dengan Pendekatan Baru

Konsistensi Toton merajut warisan budaya dalam balutan kontemporer kembali terbukti lewat KALA. Motif, siluet, dan narasi yang diangkat tidak terjebak pada romantisme masa lalu, melainkan diolah menjadi pernyataan yang relevan dengan situasi hari ini. Mitologi bukan lagi cerita usang, melainkan bahasa universal untuk bicara tentang kondisi manusia modern.

Dengan KALA, Toton Januar mengukuhkan posisinya sebagai desainer yang bukan hanya menjahit kain, tetapi juga merangkai pikiran. Koleksi ini menjadi pengingat bahwa fesyen bisa menjadi kompas moral dan cermin peradaban, bahkan di saat dunia sedang serba tidak pasti.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User