TNI AD Tembus 55,24% Target Produksi Beras 2026
Jakarta – TNI Angkatan Darat mencatat capaian strategis dengan merealisasikan 55,24 persen target produksi beras nasional 2026, memperkuat kontribusi institusi militer dalam program ketahanan pangan...
Jakarta – TNI Angkatan Darat mencatat capaian strategis dengan merealisasikan 55,24 persen target produksi beras nasional 2026, memperkuat kontribusi institusi militer dalam program ketahanan pangan nasional. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengonfirmasi bahwa hasil positif ini berasal dari pengelolaan lahan sawah yang dioptimalkan di berbagai wilayah, membuktikan efektivitas sinergi antara prajurit dan sektor pertanian.
Peran TNI dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
Sejak dua tahun terakhir, TNI AD mendapat mandat khusus untuk membantu Kementerian Pertanian dalam mengonversi dan mengelola lahan tidur menjadi areal persawahan produktif. Program ini tidak sekadar menyasar peningkatan angka, tetapi juga memastikan distribusi beras berkualitas sampai ke seluruh provinsi. Dengan mengerahkan Babinsa dan satuan kewilayahan, TNI melakukan pendampingan mulai dari pengolahan tanah, penyediaan bibit unggul, hingga sistem irigasi sederhana di daerah-daerah terpencil.
Lahan sawah yang kini dikelola secara langsung oleh institusi militer mencapai ratusan ribu hektare, tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Fokus utama diarahkan pada wilayah dengan indeks pertanaman rendah yang selama ini terkendala akses dan infrastruktur. "Kita sudah melampaui separuh target. Ini bukti bahwa pendekatan disiplin dan kerja keras prajurit bisa menjadi katalis produksi pangan nasional," ujar Agus Subiyanto saat meninjau panen raya di Kalimantan Tengah, yang menunjukkan lonjakan produktivitas hingga 2 ton per hektare dibandingkan musim sebelumnya.
Teknologi dan Pendekatan Militer
Prestasi ini tak lepas dari penerapan metode korporasi pertanian berbasis teknologi tepat guna. TNI AD mengintegrasikan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, pompa air, dan drone pemantau kondisi lahan dengan sistem komando terstruktur. Setiap satuan tugas melaporkan perkembangan lahan secara harian melalui pusat kendali, sehingga intervensi bisa dilakukan segera jika ada hamparan sawah terserang hama atau mengalami kekeringan.
Selain itu, pola kemitraan dengan kelompok tani setempat dipertahankan agar alih pengetahuan berjalan dua arah. Personel TNI bertindak sebagai fasilitator dan motivator, bukan pengganti petani. Langkah ini menjaga keberlanjutan program setelah masa tugas satuan berakhir. "Kita tidak ingin sawah kembali menjadi lahan tidur begitu prajurit ditarik. Transfer teknologi adalah kunci," tegas Agus.
Target 2026 dan Dampak Luas
Pemerintah menetapkan target produksi beras 2026 sebesar 35 juta ton untuk memenuhi kebutuhan domestik dan membangun cadangan strategis. Capaian 55,24 persen yang sudah ditorehkan TNI AD berarti sekitar 19,3 juta ton beras sudah teramankan dari kontribusi lahan militer. Sisa target akan dikejar melalui percepatan tanam di lahan rawa lebak dan lahan kering yang tengah disiapkan.
Diperkirakan, jika tren positif ini bertahan, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor beras secara drastis. Dampak ikutannya terasa pada stabilisasi harga di tingkat konsumen dan peningkatan pendapatan petani binaan. Wilayah-wilayah yang sebelumnya tercatat sebagai daerah rentan rawan pangan, seperti Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur, mulai menunjukkan perbaikan signifikan dalam indeks ketahanan pangan.
Dengan sisa waktu sekitar 18 bulan menuju batas akhir 2026, TNI AD optimistis mampu melampaui target. Penambahan lahan seluas 100.000 hektare sudah masuk dalam rencana kerja, bersamaan dengan pengembangan varietas padi tahan iklim ekstrem. “Ini bukan pekerjaan selesai, tapi batu loncatan untuk kedaulatan pangan yang sesungguhnya,” pungkas Panglima.
Comments (0)