LINGAYEN — Pangasinan Polytechnic College (PPC), perguruan tinggi milik pemerintah provinsi Pangasinan di Filipina yang baru beroperasi selama tiga tahun, menghadapi krisis serius menyusul tingginya angka putus kuliah (dropout) di kalangan mahasiswanya. Ironisnya, mayoritas mahasiswa yang berhenti menempuh pendidikan tinggi tersebut merupakan penerima beasiswa penuh dari keluarga berpenghasilan rendah yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidup harian.
Meskipun biaya kuliah telah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah, beban biaya penunjang seperti transportasi, konsumsi harian, tempat tinggal, serta perlengkapan belajar tetap menjadi penghalang utama yang memaksa banyak mahasiswa angkat kaki dari ruang kelas.
Kronologi Masalah dan Realitas Kesejahteraan Mahasiswa
Kondisi memprihatinkan ini disorot langsung oleh otoritas akademik kampus setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tingkat retensi mahasiswa dalam beberapa semester terakhir:
- Pendirian Kampus Tiga Tahun Lalu: PPC didirikan oleh Pemerintah Provinsi Pangasinan dengan misi utama membuka akses pendidikan tinggi gratis bagi anak-anak dari keluarga marginal dan prasejahtera.
- Tingginya Antusiasme Awal: Ratusan pelajar dari berbagai wilayah pedesaan mendaftar dan berhasil lolos seleksi sebagai penerima beasiswa penuh untuk menempuh berbagai program kejuruan dan sarjana.
- Tekanan Finansial Harian: Memasuki tahun kedua dan ketiga perkuliahan, kendala operasional mulai muncul ketika mahasiswa tidak memiliki uang saku yang cukup untuk ongkos perjalanan harian ke kampus Lingayen maupun membeli makanan.
- Pilihan Berat untuk Bekerja: Sebagian besar mahasiswa terpaksa membagi waktu dengan bekerja serabutan atau memilih berhenti sepenuhnya demi membantu perekonomian keluarga yang berada di garis kemiskinan.
"Pendidikan gratis saja terbukti belum cukup ketika mahasiswa kami harus berjuang keras hanya untuk mengisi perut dan membayar ongkos kendaraan menuju kampus setiap harinya," ujar Dr. Raymundo Rovillos, President Emeritus Pangasinan Polytechnic College (PPC).
Tantangan Sistemik dan Evaluasi Kebijakan Beasiswa
Menurut Dr. Rovillos, situasi di PPC mencerminkan dilema klasik dalam program pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan formal. Mahasiswa yang berasal dari keluarga ekonomi lemah kerap berada pada posisi terjepit di mana melanjutkan kuliah dipandang sebagai 'kemewahan' yang membebani pengeluaran harian rumah tangga mereka.
Pihak manajemen kampus bersama pemerintah daerah kini tengah mengevaluasi model bantuan yang ada guna mencegah angka putus kuliah semakin bertambah parah di masa mendatang. Beberapa rencana strategis yang dipertimbangkan meliputi:
- Pemberian tunjangan biaya hidup (stipend/living allowance) tambahan di luar pembebasan biaya kuliah pokok.
- Penyediaan fasilitas transportasi kampus bersubsidi atau asrama mahasiswa berbiaya sangat terjangkau di sekitar Lingayen.
- Program kerja paruh waktu di lingkungan kampus (student employment) yang fleksibel dengan jadwal akademik.
Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menjaga komitmen pemerintah setempat dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui akses pendidikan tinggi yang benar-benar berkelanjutan.
Comments (0)