Aug 27, 2026
breaking

Tangis Pilu Bocah SD di Sulut Usai Diolok Teman Sebaya

Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara — Sebuah rekaman video yang menunjukkan seorang anak perempuan menangis histeris menjadi perbincangan hangat publik dalam 24 jam terakhir. Bocah berusia 9 tahun itu...

Tangis Pilu Bocah SD di Sulut Usai Diolok Teman Sebaya

Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara — Sebuah rekaman video yang menunjukkan seorang anak perempuan menangis histeris menjadi perbincangan hangat publik dalam 24 jam terakhir. Bocah berusia 9 tahun itu diduga kuat menjadi korban perundungan verbal oleh rekan-rekan sebayanya di lingkungan tempat tinggalnya di Kabupaten Minahasa Tenggara.

Dalam potongan video yang beredar luas di platform media sosial, tampak anak bernama Anisa tersebut tak kuasa membendung air matanya. Raut wajahnya merekam luka mendalam saat sejumlah teman sepermainannya melontarkan ejekan pedas. Akar persoalannya bukan terletak pada pertengkaran anak-anak biasa, melainkan pada stigma sosial terkait kondisi ekonomi keluarganya.

Kronologi Ejekan yang Memicu Tangis

Berdasarkan penelusuran di lapangan, insiden ini terjadi pada Selasa sore (27/7/2026) di sebuah gang pemukiman. Saksi mata yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa mulanya sekelompok anak bermain bersama. Suasana berubah menjadi tegang saat seseorang di antara mereka melontarkan kalimat bernada menghina. “Katanya bapaknya miskin, rumahnya jelek sekali,” ujar saksi menirukan perkataan tersebut. Kata-kata itu diikuti dengan tawa dan sorakan anak-anak lain, yang membuat korban langsung terdiam dan menunduk lesu.

Tak lama kemudian, tangisan Anisa pecah. Seorang warga yang menyadari situasi itu langsung merekam momen tersebut, yang kini telah ditonton oleh jutaan pasang mata. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak orang tua korban, namun beberapa kerabat membenarkan bahwa trauma mendalam kini menyelimuti sang anak.

Respon Warganet dan Psikolog

Di linimasa, tagar #StopBullyingAnak sempat mencuat. Ribuan warganet mengutuk tindakan perundungan terhadap Anisa dan mendesak perlunya pendampingan psikologis. “Bukan salah anak-anak sepenuhnya, ini refleksi didikan orang dewasa di sekitar mereka,” tulis salah seorang netizen yang mendapat banyak dukungan. Psikolog anak dari Universitas Sam Ratulangi, dalam keterangannya terpisah, menjelaskan bahwa ejekan semacam ini bisa meninggalkan luka psikis permanen. “Anak seusia itu sedang membangun konsep diri. Jika terus mendapat label negatif, ia bisa mengalami gangguan kecemasan dan depresi di kemudian hari,” paparnya.

Langkah Penanganan

Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara melalui Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak dikabarkan sudah mulai menelusuri kebenaran video viral ini. Rencananya, tim akan melakukan kunjungan ke rumah korban untuk memberikan pendampingan psikososial. Pihak kepolisian sektor setempat juga mengimbau orang tua untuk lebih aktif mengawasi interaksi sosial anak-anaknya. “Ini bukan sekadar kenakalan ringan, sudah masuk ranah perundungan. Kita harus selamatkan generasi penerus,” tegas seorang perwira Polres Mitra.

Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa perbedaan status ekonomi masih menjadi senjata yang dengan mudah digunakan oleh anak-anak untuk saling menyakiti. Tanpa edukasi empati yang kuat dari lingkungan keluarga dan sekolah, tragedi serupa berpotensi terus berulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User