BARU SAJA — Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Polres Luwu Utara resmi dicopot dari jabatannya. Pencopotan ini dikonfirmasi hanya beberapa jam setelah dugaan aksi kekerasan terhadap seorang tahanan mencuat ke publik.
Langkah tegas ini diambil menyusul laporan yang menyebutkan seorang tahanan mengalami luka serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Korban yang identitasnya belum diungkap ke media kini masih menjalani perawatan intensif.
Kronologi dan Investigasi
Unit Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Luwu Utara bergerak cepat. Tim investigasi internal langsung diterjunkan untuk mengusut isu sensitif ini. Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi mata dan rekan sejawat terlapor kini memasuki babak krusial.
- Korban: Tahanan tidak disebutkan identitasnya, kondisinya dilaporkan mengalami trauma fisik dan tengah dievakuasi ke fasilitas kesehatan.
- Terlapor: Oknum polisi berpangkat Inspektur Satu (Iptu) yang sebelumnya menjabat posisi strategis di Unit PPA.
- Status: Telah dinonaktifkan dari seluruh tugas struktural dan sedang menjalani proses disiplin serta kode etik Polri.
Respons Institusi
Pihak Kepolisian Resor Luwu Utara memastikan tidak akan menutup-nutupi pelanggaran. "Kami sedang membuktikan secara ilmiah melalui konstruksi hukum," demikian keterangan resmi tanpa menyebut nama juru bicara. Penonaktifan dilakukan untuk memuluskan proses pemeriksaan agar berjalan transparan dan mencegah intervensi.
Situasi di Mapolres dikabarkan meningkat. Meski eskalasi keamanan masih kondusif, pengawasan internal diperketat secara darurat. Kasus ini menjadi sorotan tajam karena melibatkan seorang perwira yang seharusnya menjadi pelindung bagi kelompok rentan.
Proses Hukum Lanjutan
Saat ini Propam fokus pada pengumpulan alat bukti. Jika terbukti melanggar, terlapor tidak hanya menghadapi sanksi etik berat berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH), tapi juga jeratan pidana umum. Pasal penganiayaan yang mengakibatkan luka berat tengah dijadikan dasar penyelidikan.
Publik Sulawesi Selatan menanti perkembangan konkret. Transparansi investigasi ini dinilai sebagai ujian kredibilitas institusi Polri dalam membersihkan oknum yang menodai seragam kebanggaan. Hingga berita ini diturunkan, tim kedokteran masih melakukan visum terhadap korban untuk memperkuat konstruksi pelanggaran.
Comments (0)