Tahun Ajaran Baru, Belanja Alat Tulis dan Krisis Air Meningkat
Di tengah suka cita menyambut lembaran baru pendidikan, masyarakat Indonesia dihadapkan pada dua realitas yang sama mendesaknya: lonjakan kebutuhan perleng
Di tengah suka cita menyambut lembaran baru pendidikan, masyarakat Indonesia dihadapkan pada dua realitas yang sama mendesaknya: lonjakan kebutuhan perlengkapan sekolah dan krisis air bersih yang kian meluas. Para orang tua di sejumlah daerah tidak hanya sibuk mengurus pendaftaran ulang, tetapi juga berburu alat tulis di toko-toko yang mendadak ramai. Di saat yang sama, kemarau panjang memaksa banyak keluarga mengantre bantuan air bersih dari truk tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Ramainya Pasar Perlengkapan Sekolah
Di kawasan Cibadak, Kota Bandung, suasana salah satu pusat penjualan alat tulis, Teatrika Putri, berubah menjadi lautan pembeli. Para ibu dan anak-anak memadati setiap lorong toko sejak pagi. Buku tulis, pulpen, tas, hingga sepatu baru menjadi buruan utama. Seorang pemilik toko mengaku omzet hariannya naik hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Tahun ini pembeli datang lebih awal. Barang yang paling laris adalah buku tulis isi 38 lembar dan paket alat tulis karakter. Banyak orang tua yang membeli dalam jumlah sekaligus untuk mengantisipasi kenaikan harga nanti,” ujar salah satu pegawai toko, yang enggan disebutkan namanya.
Pantauan tim kami, harga alat tulis masih relatif stabil meski permintaan melonjak. Namun sejumlah merek buku tulis impor mengalami sedikit penyesuaian akibat pelemahan nilai tukar. Para pedagang berharap pasokan tetap lancar mengingat arus belanja biasanya bertahan hingga minggu pertama masa sekolah.
Kemarau dan Krisis Air Bersih
Sementara itu, di berbagai pelosok negeri, suara keran kering menjadi latar hari-hari yang melelahkan. Musim kemarau tahun ini terasa lebih ganas—sumur warga mengering, sawah retak, dan anak-anak harus menahan haus di sekolah. BPBD di sejumlah kabupaten mencatat peningkatan permintaan air bersih hingga 40 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
“Kami harus mengantre sejak subuh hanya untuk mendapat dua jeriken air bersih. Ini sangat berat, apalagi anak-anak harus berangkat ke sekolah dalam keadaan segar,” kata Sumarni, seorang ibu tiga anak di Desa Sukamulya, Kabupaten Garut.
Truk-truk tangki BPBD hilir-mudik mendistribusikan bantuan ke titik-titik krisis. Selain Garut, daerah-daerah seperti Gunungkidul, Pacitan, dan sebagian Nusa Tenggara Timur juga mulai mengirimkan sinyal darurat. Beberapa pemda telah mengalokasikan dana khusus untuk operasional tangki mingguan. Namun, keterbatasan armada seringkali membuat distribusi tidak merata.
Beban Ganda Orang Tua
Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis dan ekonomi yang tak ringan bagi keluarga, terutama di wilayah perdesaan dan pinggiran kota. Mereka harus membagi uang belanja antara membeli perlengkapan sekolah dan mencukupi kebutuhan air minum serta sanitasi. Di Cibadak sendiri, beberapa pembeli mengaku terpaksa mengurangi anggaran untuk seragam baru karena prioritas bergeser ke pasokan air bersih.
Seorang ayah bernama Dedi, yang membawa dua anaknya ke Teatrika Putri, berkata ia hanya bisa membeli barang esensial. “Yang penting anak bisa tulis-menulis dulu. Untuk seragam, nanti pakai yang lama. Sisihkan uang buat beli air galon karena air PAM kadang mati,” ujarnya lirih. Hal serupa dirasakan oleh warga Jakarta Timur yang mengeluhkan tekanan air yang rendah saat pagi, sehingga mereka harus membeli air kemasan untuk kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah melalui dinas pendidikan diimbau agar memberikan keringanan biaya sekolah bagi keluarga yang terdampak kekeringan. Beberapa sekolah di daerah terdampak juga mulai menerapkan sistem pembelajaran daring sementara jika akses air di lingkungan sekolah benar-benar terhenti. Meski begitu, kebijakan itu belum merata.
Harapan di Tengah Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir bulan depan, sementara sebagian wilayah sudah mulai memasuki masa pancaroba. Masyarakat berharap agar bantuan air bersih terus mengalir, terutama saat anak-anak menjalani masa orientasi sekolah yang membutuhkan kondisi fisik prima.
Di sisi lain, penjualan alat tulis diperkirakan kembali melonjak pada pekan kedua tahun ajaran ketika daftar kebutuhan tambahan dari sekolah mulai disampaikan guru. Para pelaku usaha di Cibadak optimistis, namun tetap waspada terhadap kemungkinan perlambatan jika daya beli masyarakat tergerus oleh biaya tak terduga akibat krisis air.
Koordinator BPBD setempat, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa koordinasi dengan pihak swasta dan relawan terus diperkuat. “Kami menjamin air bersih akan tiba di setiap dusun yang membutuhkan. Masyarakat juga kami ajak untuk mengurangi konsumsi air secara berlebihan dan melakukan penyimpanan di penampungan sederhana,” tuturnya.
Terlepas dari tantangan, semangat menyambut tahun ajaran baru tetap membara. Anak-anak tetap antusias memegang buku baru, meski mungkin di rumahnya persediaan air kian menipis. Momen ini menjadi cermin ketangguhan warga Indonesia yang selalu beradaptasi, sekalipun dihimpit dua krisis sekaligus: peralatan sekolah yang dibutuhkan untuk masa depan, dan air bersih yang menjadi kebutuhan paling dasar hari ini.
Comments (0)