SUMEDANG — Silaturahmi Lintas Daerah Perkuat Adat di Sumedang
SUMEDANG – Ratusan warga dan perwakilan masyarakat adat dari berbagai penjuru Jawa Barat memadati Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun, Dayeuh Luhur, S
SUMEDANG – Ratusan warga dan perwakilan masyarakat adat dari berbagai penjuru Jawa Barat memadati Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun, Dayeuh Luhur, Sabtu (4/7/2027) sejak pukul 13.00 WIB. Mereka berkumpul dalam silaturahmi akbar bersama jajaran pengurus Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) yang dipusatkan di Saung Gajebo kompleks makam bersejarah tersebut. Inisiatif ini langsung menyedot perhatian karena menjadi titik temu langka antara warga adat lintas kota dan para penjaga situs leluhur di jantung Sumedang.
Ketua MASL, Susane Febriaty, S.H, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar temu kangen. “Kami ingin Majelis Adat Sumedang Larang menjadi jembatan. Temu hari ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga kekayaan Nusantara bersama-sama. Dari Sumedang untuk Indonesia,” ujarnya di sela diskusi. Pernyataan itu langsung disambut anggukan para sesepuh yang hadir, termasuk kuncen (juru pelihara) makam yang sehari-hari merawat situs Keramat Prabu Geusan Ulun. Kehadiran mereka menjadi simbol hidup bahwa rantai tradisi belum putus.
Suasana makin cair ketika Pak Tri, narasumber utama, memaparkan materi tentang kekayaan Nusantara. Peserta dari Bogor, Sukabumi, Bandung, dan daerah lainnya terlihat antusias menyimak, lalu bergantian melontarkan pertanyaan. “Kami datang jauh-jauh dari Bogor dan daerah lain karena ingin belajar langsung di sumbernya,” kata salah satu peserta. Dialog yang hidup ini menandai bahwa rasa ingin tahu tentang akar budaya tidak hanya milik kalangan tetua, melainkan juga generasi yang haus akan identitas.
Yang patut dicatat, silaturahmi ini berlangsung tanpa sekat formal. Semua peserta duduk lesehan, berbagi hidangan, dan bertukar cerita tentang kearifan lokal. Inilah wajah adat yang inklusif, di mana para pelaku budaya dari hulu ke hilir berkumpul dalam satu payung yang sama.
Analisis: Silaturahmi Adat sebagai Strategi Pelestarian Budaya
Langkah MASL menghimpun warga adat lintas daerah di Dayeuh Luhur bisa dibaca sebagai manuver pelestarian budaya yang proaktif. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis ingatan kolektif, forum tatap muka di situs bersejarah menjadi silent protest terhadap kepunahan warisan. Kehadiran perwakilan dari Bogor, Sukabumi, hingga Bandung membuktikan bahwa isu adat tidak lagi terisolasi di benteng lokal, melainkan menjelma gerakan jejaring. Ini sejalan dengan konsep “Sumedang untuk Indonesia” yang digaungkan Susane, di mana identitas lokal justru diperkuat oleh partisipasi regional.
Dari sisi regenerasi, pertemuan ini membuka jalur distribusi pengetahuan. Materi yang disampaikan Pak Tri tidak hanya mengisi ruang diskusi, tetapi juga memantik pertanyaan-pertanyaan baru dari peserta. Ini sinyal bahwa rasa kepemilikan terhadap sejarah mulai bergeser dari sekadar narasi lisan ke bentuk kajian yang lebih terstruktur. Bila dikelola berkelanjutan, model silaturahmi semacam ini bisa melahirkan semacam “akademi adat rakyat” yang mempertemukan praktisi lokal dengan pembelajar dari luar.
Namun, tantangan tetap mengintai: bagaimana menjaga ritme pertemuan agar tidak hanya menjadi seremonial tahunan? Dalam obrolan santai, beberapa sesepuh mengisyaratkan perlunya modul sederhana yang bisa dibawa pulang peserta. Ini menjadi pekerjaan rumah MASL ke depan—mengubah energi diskusi menjadi aksi dokumentasi dan publikasi yang menyentuh generasi digital.
| Unsur Peserta | Asal/Peran | Keterangan |
|---|---|---|
| Perwakilan Masyarakat Adat | Bogor, Sukabumi, Bandung, dan daerah lainnya | Hadir untuk belajar langsung; antusias dalam diskusi |
| Sesepuh Adat Sumedang | Tokoh masyarakat di wilayah Sumedang | Menjaga kesinambungan narasi leluhur |
| Kuncen/Juru Pelihara | Makam Keramat Prabu Geusan Ulun | Peran kunci dalam ritual harian dan pelestarian fisik situs |
| Narasumber | Pak Tri (Ahli Sejarah & Budaya Nusantara) | Memaparkan materi kekayaan Nusantara |
| Pengurus MASL | Sumedang | Dipimpin Ketua Susane Febriaty, S.H; sebagai fasilitator dan jembatan |
Opini Pembina Adat: Menurut pengamat budaya yang hadir dan enggan disebut namanya, “Model silaturahmi MASL ini efisien karena memotong birokrasi. Yang terjadi adalah pertukaran pengetahuan murni antara sumber primer dan pencari. Jika diteruskan, bisa menjadi laboratorium hidup untuk studi Nusantara.”
Dengan daya tarik sejarah dan iklim kebersamaan yang hangat, Silaturahmi Dayeuh Luhur ini menjadi cetak biru pertemuan adat yang tidak hanya seremonial, tetapi juga produktif. Dari Saung Gajebo kecil di kompleks makam, Sumedang mengirim pesan bahwa warisan leluhur masih terlalu berharga untuk ditinggalkan begitu saja.
Comments (0)