Kepanikan kembali melanda pasar energi global setelah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kian memanas. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam lebih dari tiga persen pada perdagangan Senin, dipicu oleh gelombang serangan udara terhadap infrastruktur energi vital di Arab Saudi serta meningkatnya ancaman keamanan terhadap jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent tercatat melonjak sebesar USD 2,93 atau sekitar 2,8 persen hingga menyentuh level USD 107,54 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah standar Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat USD 2,88 atau 2,9 persen menjadi USD 102,93 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam para pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah global secara berkelanjutan.
Pipa Utama Ditutup, Pasokan Global Terancam
Penutupan sementara pipa minyak jalur East-West milik Kerajaan Arab Saudi menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga tersebut. Pipa strategis ini sejatinya dirancang untuk mengalirkan minyak mentah dari kawasan timur Arab Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, guna menghindari jalur rawan di Selat Hormuz. Namun, serangan pesawat tanpa awak (drone) memicu penghentian pengoperasian pipa tersebut secara mendadak.
| Indikator Pasar / Energi | Nilai Terkini | Dampak / Catatan |
|---|---|---|
| Minyak Mentah Brent | USD 107,54 / barel | Naik +2,8% (+USD 2,93) |
| Minyak Mentah WTI | USD 102,93 / barel | Naik +2,9% (+USD 2,88) |
| Potensi Pasokan Terganggu | Hingga 4% pasokan dunia | Akibat penghentian pipa East-West |
| Cadangan Ekspor Pelabuhan Yanbu | 5 hingga 7 hari | Kapasitas tersisa tanpa pasokan pipa |
Kondisi ini menempatkan pasokan minyak dunia dalam risiko besar, mengingat instalasi pipa tersebut menyalurkan hingga 4 persen dari total pasokan minyak dunia. Tim analis komoditas dari bank investasi ING menegaskan bahwa ketidakpastian mengenai durasi perbaikan menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas harga saat ini.
“Langkah ini mengikuti peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, termasuk penargetan pipa East-West yang sangat krusial. Masih belum jelas seberapa parah kerusakan yang terjadi atau berapa lama pipa tersebut akan berhenti beroperasi,” ungkap tim strategis komoditas ING dalam laporan analisis resminya.
Krisis Pelayaran di Selat Hormuz dan Eskalasi Militer
Dampak penghentian operasional pipa kian memburuk karena Pelabuhan Yanbu kini hanya memiliki stok persediaan minyak yang sangat terbatas. Menurut tiga sumber industri ekspor Arab Saudi, persediaan di Pelabuhan Yanbu diperkirakan hanya cukup untuk menopang aktivitas ekspor selama lima hingga tujuh hari. Kondisi ini menjadi sinyal bahaya nyata bagi negara-negara pengimpor energi yang sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah.
Sementara itu, krisis keamanan juga merembet ke jalur maritim vital lainnya. Lembaga Keamanan Maritim Britania Raya (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz dihantam proyektil. Serangan tersebut memicu kebakaran di atas kapal dan memaksa seluruh awak kapal melakukan evakuasi darurat. Insiden ini menambah panjang deretan gangguan keamanan pelayaran yang melibatkan militer di kawasan Teluk.
Kerusakan Infrastruktur Sipil dan Implikasi Ekonomi Global
Di wilayah daratan, media pemerintah Arab Saudi merilis rekaman video yang memperlihatkan kerusakan parah pada permukiman warga dan sebuah masjid di Provinsi Jazan kawasan selatan akibat serangan milisi Houthi. Pihak Houthi mengklaim bahwa mereka juga telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Arab Saudi di provinsi tetangga.
Eskalasi militer yang beruntun ini diprediksi akan terus menahan harga minyak mentah di atas level USD 100 per barel. Jika gangguan pasokan fisik benar-benar terjadi dalam skala luas, gelombang inflasi baru dipastikan akan membayangi pertumbuhan ekonomi global yang saat ini tengah berusaha bangkit dari ketidakpastian.
Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas. Minyak mentah Brent melesat ke level $107,54 per barel setelah pipa utama East-West Arab Saudi ditutup akibat serangan drone, ditambah insiden penembakan kapal di Selat Hormuz. Penutupan pipa ini mengancam hingga 4% pasokan minyak dunia. Simak berita selengkapnya hanya di Beritatercepat.com!
Comments (0)