Ratusan Pelajar Kendari Dibekali Ilmu Jaga Ginjal Sejak Dini
KENDARI — Universitas Mandala Waluya (UMW) Kendari menggelar program edukasi bertajuk “Ginjal Sehat Remaja Hebat” yang menyasar ratusan pelajar SMAN 4 dan SMK Kesehatan Kendari, Kamis (3/4). Keg...
KENDARI — Universitas Mandala Waluya (UMW) Kendari menggelar program edukasi bertajuk “Ginjal Sehat Remaja Hebat” yang menyasar ratusan pelajar SMAN 4 dan SMK Kesehatan Kendari, Kamis (3/4). Kegiatan ini didorong oleh kekhawatiran tim medis melihat gaya hidup remaja masa kini yang akrab dengan minuman berpemanis tinggi dan minim konsumsi air putih.
Data Riset Kesehatan Dasar 2024 menunjukkan prevalensi penyakit ginjal kronis pada kelompok usia 15–24 tahun naik 3,2% dalam lima tahun. Lebih mencengangkan, 1 dari 7 remaja di perkotaan memiliki kebiasaan kurang minum air putih yang berpotensi merusak fungsi ginjal secara permanen.
Pola Hidup Berisiko
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMW, Dr. Andi Nurul, M.Kes., memaparkan bahwa konsumsi minuman bersoda dan berenergi menjadi pemicu utama kerusakan ginjal di usia muda. “Satu kaleng minuman bersoda mengandung fosfat tinggi yang memaksa ginjal bekerja ekstra. Ditambah kebiasaan menahan kencing, ini seperti racun perlahan,” tegasnya.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa kedokteran UMW mendemonstrasikan cara membaca label komposisi minuman. Peserta terkejut mengetahui bahwa satu botol minuman berenergi 500 ml mengandung gula setara 17 sendok teh. “Padahal batas aman harian hanya 4 sendok,” ujar Rina, mahasiswa semester akhir yang menjadi pemateri.
Skrining Urine Massal
Program ini bukan sekadar teori. Tim medis UMW melakukan pemeriksaan urine langsung kepada 120 siswa menggunakan dipstick. Hasilnya mengejutkan: 12,5% sampel menunjukkan kadar protein urine di atas normal (proteinuria), suatu penanda awal gangguan ginjal. Mereka yang positif langsung diberi kartu rujukan ke Puskesmas untuk evaluasi lebih lanjut.
Seorang siswi kelas XII, Dila, mengaku baru menyadari dirinya mengalami dehidrasi kronis setelah melihat warna urine-nya pekat. “Saya kira warna kuning tua itu normal karena sering minum teh manis. Sekarang saya paham bahayanya,” katanya.
Komunitas Digital untuk Keberlanjutan
UMW membentuk wadah bernama “Komunitas Peduli Ginjal Remaja” yang memanfaatkan grup WhatsApp untuk pendampingan jarak jauh. Setiap pekan akan dibagikan tips kesehatan, tantangan minum air putih, serta monitoring asupan cairan melalui aplikasi sederhana.
Kepala SMAN 4 Kendari, Sry Wahyuni, S.Pd., menyambut baik inisiatif ini. “Kami sering menemukan siswa lemas dan pusing di kelas, yang ternyata karena kurang minum. Program ini membuka mata kami semua,” ujarnya.
Rektor UMW, Dr. H. Muhammad Yamin, M.Si., menargetkan program ini menyentuh 20 sekolah di Sulawesi Tenggara sepanjang 2025. Pihak kampus juga tengah menggodok aplikasi deteksi dini ginjal berbasis smartphone yang akan diluncurkan dalam enam bulan ke depan. “Pencegahan jauh lebih murah dibanding biaya cuci darah yang kini menembus Rp1,5 juta per sesi,” pungkasnya.
Baca juga:
Comments (0)