JAKARTA — Tim Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri kembali melakukan pemeriksaan intensif di sebuah klinik kecantikan wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis siang. Langkah ini merupakan bagian eskalasi penyelidikan kematian tragis seorang pria bernama Sutrimo yang jasadnya ditemukan di lokasi tersebut beberapa hari lalu.
Kehadiran tim forensik kali ini membawa peralatan yang lebih lengkap dibandingkan olah tempat kejadian perkara sebelumnya. Terlihat sejumlah personel berpakaian hazmat putih memasuki area klinik dengan membawa tas berisi instrumen pendeteksi zat kimia serta kamera spektrum khusus. Proses sterilisasi area langsung dilakukan begitu tim tiba, menandakan bahwa tahap pengumpulan bukti mikroskopis menjadi prioritas utama hari ini.
Penyisiran Tahap Kedua
Komandan regu Puslabfor di lapangan mengonfirmasi bahwa agenda utama kedatangan mereka adalah melanjutkan pemetaan tiga dimensi ruang perawatan tempat korban terakhir terlihat. "Kami memerlukan rekonstruksi spasial yang lebih presisi untuk mencocokkan dengan keterangan para saksi," ujar seorang perwira yang enggan disebutkan namanya. Tim juga mengambil sampel dari sistem ventilasi dan saluran pembuangan klinik, memperkuat dugaan bahwa substansi tertentu menjadi fokus penyelidikan.
Sutrimo, pria berusia 42 tahun asal Tangerang, dilaporkan menjalani prosedur kecantikan di klinik tersebut pada akhir pekan lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban sempat mengeluhkan rasa tidak nyaman pasca-tindakan sebelum akhirnya dinyatakan tidak responsif oleh staf klinik. Pihak kepolisian belum merilis hasil autopsi secara resmi, namun sumber internal menyebutkan adanya indikasi reaksi toksik akut yang memerlukan analisis toksikologi lebih lanjut.
Klinik Dalam Pengawasan Ketat
Sejak insiden ini mencuat, klinik kecantikan tersebut telah dipasangi garis polisi dan seluruh operasionalnya dihentikan sementara. Investigasi awal mengungkap bahwa klinik ini telah beroperasi selama dua tahun dan memiliki basis pelanggan cukup luas di kawasan elite Jakarta Selatan. Polisi kini tengah memeriksa rekam medis seluruh pasien yang menerima perawatan di hari yang sama dengan Sutrimo.
Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menyatakan telah memeriksa sedikitnya enam orang saksi termasuk dokter penanggung jawab, perawat pendamping, serta bagian administrasi klinik. Barang bukti berupa alat medis, cairan injeksi, dan dokumentasi prosedur telah diamankan sejak gelombang pertama penggeledahan. Kedatangan kembali Puslabfor kali ini mengindikasikan bahwa aparat masih memerlukan data forensik tambahan untuk mengonstruksi kronologi yang solid.
Warga sekitar klinik mengaku kaget dengan kejadian tersebut. Seorang pemilik usaha di sebelah lokasi menuturkan bahwa klinik itu dikenal memiliki reputasi baik dan tidak pernah menimbulkan masalah sebelumnya. "Kami hanya melihat ambulans datang mendadak, lalu beberapa jam kemudian polisi berdatangan," ujarnya. Pihak keluarga Sutrimo sendiri disebut telah menunjuk kuasa hukum untuk mengawal proses penyelidikan dan menuntut transparansi penuh dari pihak klinik maupun kepolisian.
Menanti Titik Terang
Publik kini menanti kejelasan apakah kematian Sutrimo murni akibat malapraktik medis atau terdapat unsur kelalaian sistemik dalam operasional klinik tersebut. Hasil laboratorium forensik diperkirakan memakan waktu satu hingga dua pekan ke depan. Sementara itu, Kepolisian Daerah Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas perkara ini tanpa kompromi, mengingat menyangkut keselamatan publik di sektor jasa estetika yang semakin marak.
Comments (0)