Puslabfor Kembali Olah TKP Klinik Kecantikan Kasus Sutrimo
JAKARTA – Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri kembali menyisir sebuah klinik kecantikan di kawasan elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa pagi. Kedatangan kedua ini me...
JAKARTA – Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri kembali menyisir sebuah klinik kecantikan di kawasan elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa pagi. Kedatangan kedua ini menandai eskalasi penyelidikan atas tewasnya Sutrimo, seorang pria berusia 43 tahun, yang jasadnya ditemukan di dalam ruang perawatan klinik tiga hari lalu tanpa tanda kekerasan jelas.
Olah TKP Ulang Demi Mengunci Bukti
Tim forensik berseragam putih memasuki gedung dua lantai itu pukul 09.42 WIB. Mereka membawa perangkat pemindai 3D, alat uji residu kimia, dan lampu ALS (Alternate Light Source) untuk mendeteksi cairan biologis yang luput dari pemeriksaan awal. Seorang perwira menolak berkomentar detail, namun gerak-gerik anggota di lapangan menunjukkan fokus pada satu ruang perawatan VIP di lantai dua. Karpet digulung, laci-laci dikeluarkan, sementara cairan dari botol-botol anestesi disegel sebagai sampel.
Langkah ini memperkuat dugaan bahwa kematian Sutrimo bukan sekadar gagal jantung biasa. Sumber internal menyebut korban diduga menjalani prosedur sedot lemak dan transfer ke bokong (Brazilian Butt Lift) sebelum kolaps. Hanya saja, tak ada rekam medis lengkap yang disita pada hari kejadian. Pemilik klinik, yang berinisial RAY, belum ditetapkan sebagai tersangka namun dicegah bepergian ke luar negeri.
Kronologi dan Titik Terang
Berdasarkan keterangan saksi, Sutrimo tiba sendirian pada Kamis sore. Ia masuk ke ruang operasi sekitar pukul 16.30 WIB. Satu jam kemudian, perawat mendapati pria itu tak sadarkan diri dengan bibir membiru. Tim darurat datang 20 menit berselang, tapi nyawa korban tak tertolong. Polisi yang semula menduga syok anafilaktik kini mengarah pada kemungkinan overdosis lidokain atau komplikasi emboli lemak.
”Kami tidak cukup hanya mengandalkan satu olah TKP,” ujar Komisaris Besar Daniel Prasetyo, Kepala Subdirektorat Forensik, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon. “Detik demi detik harus direkonstruksi. Material yang kami ambil hari ini akan dibandingkan dengan temuan toksikologi dari jenazah.” Hasil toksikologi sendiri diperkirakan rampung dalam dua pekan ke depan.
Hari ini, penyidik juga mengambil sampel dari sofa perawatan, jarum suntik bekas, serta tabung oksigen portabel. Satu unit CPU pengawas CCTV diamankan untuk memulihkan rekaman yang diduga terhapus. Tim siber dikerahkan karena ada indikasi perangkat perekam sengaja dimatikan tepat pada jam kritis.
Klinik tersebut diketahui beroperasi dengan izin praktik dokter umum, bukan spesialis bedah plastik. Temuan awal Puslabfor mengungkap bahwa ruang tindakan tidak memenuhi standar sterilisasi. Botol infus dan kateter ditemukan dalam kondisi kedaluwarsa. Fakta ini menambah bobot pelanggaran yang dapat menjerat pengelola dengan pasal kelalaian menyebabkan kematian, dan jika terbukti unsur kesengajaan, bisa naik ke pembunuhan.
Warga sekitar mengaku klinik itu ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. “Pasiennya banyak mobil bagus. Tapi kami tidak tahu soal kematian itu sampai polisi datang,” kata Jamil (51), penjaga warung di seberang gedung. Pihak keluarga Sutrimo, melalui pengacara, menuntut transparansi penuh dan meminta polisi segera memeriksa seluruh staf.
Hingga berita ini diturunkan, garis polisi masih terpasang. Lalu lintas di Jalan Kramat Pela sedikit tersendat akibat mobil laboratorium forensik yang parkir di bahu jalan. Masyarakat diminta melapor jika memiliki informasi tambahan. Kasus ini menjadi ujian besar bagi pengawasan klinik kecantikan ilegal yang menjamur di Jakarta Selatan.
Update: Polisi berencana menggelar rekonstruksi adegan pada Jumat pekan ini, melibatkan seluruh saksi kunci dan terduga pelaku.
Comments (0)