Produksi Kedelai RI Baru 8,14%, Impor Masih Mendominasi

JAKARTA – Kesenjangan antara produksi kedelai nasional dan kebutuhan dalam negeri terus melebar. Data terbaru pemerintah menunjukkan bahwa dari rata-rata kebutuhan 2.620.294 ton per tahun, kontribus...

Jul 28, 2026 - 07:40
0 0
Produksi Kedelai RI Baru 8,14%, Impor Masih Mendominasi

JAKARTA – Kesenjangan antara produksi kedelai nasional dan kebutuhan dalam negeri terus melebar. Data terbaru pemerintah menunjukkan bahwa dari rata-rata kebutuhan 2.620.294 ton per tahun, kontribusi produksi bersih lokal hanya sekitar 190.223 ton atau setara 8,14 persen.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, memaparkan fakta tersebut dalam seminar “Tempe Goes to UNESCO” di Jakarta, Senin (27/7). Ia menyebut angka produksi masih sangat timpang, dengan kekurangan pasokan yang ditambal melalui impor sekitar 2 juta ton per tahun.

Produksi 2025 Anjlok, 2026 Baru Sentuh 7 Ribu Ton

Kondisi lapangan tidak banyak berubah. Produksi kedelai nasional pada 2025 hanya tercatat 78.693 ton, turun tajam seiring penyusutan luas panen hingga 11,68 persen menjadi sekitar 137 ribu hektare. Memasuki 2026 hingga bulan Mei, angka produksi justru baru mencapai 7.691 ton.

Meski begitu, pemerintah mencatat rata-rata pertumbuhan produksi dalam beberapa tahun terakhir masih cukup tinggi, yakni 11,4 persen. Sebaran areal tanam juga kian meluas, meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

95,68% untuk Tahu, Tempe, dan Kecap

Hampir seluruh konsumsi kedelai nasional berasal dari sektor industri dan horeka. Porsinya mencapai 95,68 persen dari total pemanfaatan, terutama untuk bahan baku tahu, tempe, dan kecap. Ketergantungan pada impor pun menjadi nyaris mutlak karena produsen dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan pasar yang sangat besar.

Strategi Mengejar Swasembada

Pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah langkah percepatan telah disiapkan untuk mempersempit jurang antara produksi lokal dan kebutuhan nasional. Di antaranya adalah penyediaan lahan baru, pengadaan benih unggul, pupuk dan pestisida, alat mesin pertanian, serta irigasi. Penguatan sumber daya manusia, pendampingan petani, akses pembiayaan, hingga hilirisasi juga masuk dalam paket kebijakan. Terakhir, kepastian pasar menjadi kunci agar petani mendapat jaminan serapan hasil panennya.

Widiastuti menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut dirancang untuk mengejar capaian swasembada, meskipun diakui bahwa perjalanan menuju kemandirian pangan utama masih panjang dan terjal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User