JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto baru saja menegaskan Mars Syubbanul Wathan sebagai bukti nasionalisme Nahdlatul Ulama jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.
Pesan itu disampaikan Prabowo dalam kesempatan yang baru saja berlangsung. Ia menyoroti satu lagu yang menurutnya menyimpan semangat perjuangan umat. Bagi Prabowo, Syubbanul Wathan bukan sekadar mars organisasi keumatan. Ia menyebutnya rekaman hidup tentang ulama, santri, dan rakyat yang berdiri di garda terdepan kemerdekaan sejak zaman kolonial.
BREAKING — Sorotan presiden itu langsung menghadirkan kembali satu babak penting sejarah. Babak yang kerap luput dari pembahasan di ruang kelas. Yaitu peran organisasi keumatan terbesar di Indonesia dalam menumbuhkan kesadaran kebangsaan sejak awal abad ke-20.
Prabowo menilai pengakuan atas sejarah itu penting. Bukan sekadar formalitas seremonial. Ia ingin generasi sekarang memahami bahwa kemerdekaan diraih lewat banyak jalur. Ada jalur politik, ada jalur bersenjata, dan ada jalur keumatan yang digelar ulama di tengah rakyat.
Lagu Lahir Sebelum Proklamasi
Syubbanul Wathan diperkirakan lahir pada dekade 1920-an. Lagu itu diciptakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Frasa Syubbanul Wathan berarti pemuda bangsa. Tercatat, mars ini dinyanyikan di lingkungan pesantren Jawa Timur sebelum organisasi keumatan itu resmi berdiri pada 31 Januari 1926.
Sejarah mencatat lagu ini sudah menggema jauh sebelum Indonesia Raya dikumandangkan pertama kali. Bahkan sejumlah riwayat menyebut mars ini sempat masuk bahan kajian sebagai calon lagu kebangsaan. Kedengarannya mustahil, namun fakta itu menegaskan betapa awal kesadaran keindonesiaan tumbuh subur di tengah komunitas pesantren.
Liriknya membangun semangat pemuda untuk membangun bangsa. Melodinya mudah dihafal dan dinyanyikan bersama. Karena itu, lagu ini cepat menyebar dari satu pesantren ke pesantren lain. Dari Jawa Timur, ia merambat ke berbagai wilayah tempat murid-murid Chasbullah mengajar.
Simbol Perlawanan dan Kebangkitan
Di masa kolonial, lagu ini berfungsi lebih dari hiburan. Ia menjadi alat pemersatu. Dinyanyikan dalam pengajian, haul, hingga pertemuan ulama. Melodinya menggerakkan semangat. Liriknya menanamkan cinta tanah air sekaligus keberanian melawan penindasan.
Saksi sejarah melaporkan lagu ini ikut menemani perlawanan terhadap berbagai kebijakan kolonial. Termasuk penolakan terhadap upaya memecah belah umat Islam Hindia Belanda. Semangat itu kemudian mengalir deras ke Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Keputusan bersejarah yang menyatakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai harga mati.
Prabowo menyoroti benang merah itu. Menurutnya, semangat yang dibangun lagu tersebut tidak berhenti pada 1945. Ia terus hidup dalam berbagai perjuangan bangsa, dari masa revolusi hingga era pembangunan.
Hingga kini, mars itu tetap dinyanyikan dalam berbagai acara besar NU. Dari haul ulama kramat hingga peringatan hari berdirinya organisasi. Generasi demi generasi santri mewariskannya tanpa putus. Sebuah tradisi hidup yang jarang dimiliki organisasi lain di dunia.
Pesan Prabowo untuk Generasi Muda
Prabowo menegaskan satu hal penting. Nasionalisme NU bukan retorika belakangan. Ia sudah teruji sejak sebelum republik ini berdiri. Menurutnya, generasi muda perlu meneladani semangat itu di tengah derasnya arus globalisasi.
Pesan tersebut dinilai relevan di tengah dinamika politik saat ini. Identitas keagamaan dan kebangsaan kerap dipersempit oleh kepentingan sesaat. Padahal sejarah menunjukkan keduanya bisa berjalan seiring. NU membuktikannya hampir satu abad lamanya, tanpa pernah meninggalkan panggung kebangsaan.
Apresiasi dari kepala negara ini dibaca banyak kalangan sebagai pengakuan resmi. Bahwa jasa ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan layak masuk narasi utama sejarah nasional. Bukan sekadar catatan kaki.
Makna bagi NU dan Republik
Bagi kalangan NU, sorotan ini menyegarkan. Organisasi yang berakar di pesantren itu memang menempuh jalan perjuangan berbeda. Bukan lewat senjata semata. Melainkan lewat pendidikan, dakwah, dan mobilisasi rakyat dari bawah. Syubbanul Wathan menjadi pengingat jalur perjuangan yang khas itu.
NU sendiri kini berusia lebih dari satu abad. Jutaan anggotanya tersebar di seluruh nusantara. Pengakuan atas simbol-simbol perjuangannya dipandang bisa mempererat hubungan pemerintah dan komunitas keagamaan. Sebuah modal sosial yang tidak murah harganya.
Perkembangan Selanjutnya
Belum ada keterangan resmi soal tindak lanjut apresiasi tersebut. Yang jelas, sorotan itu memicu diskusi luas di media sosial. Warganet berbondong memutar ulang mars berusia seabad itu. Sebagian menantang pemerintah menghadirkan sejarah NU lebih banyak dalam kurikulum.
Beritatercepat akan terus memantau perkembangan isu ini. Update berikutnya segera menyusul. Konfirmasi resmi dari lingkaran istana maupun pengurus NU masih ditunggu.
Comments (0)