Prabowo Akui Skor PISA RI Rendah, Beberkan Tantangan 388 Ribu Sekolah
JAKARTA — BREAKING: Presiden Prabowo Subianto blak-blakan mengakui mutu pendidikan Indonesia masih tertinggal dalam penilaian internasional PISA. Pengakuan itu disampaikan langsung di hadapan para p...
JAKARTA — BREAKING: Presiden Prabowo Subianto blak-blakan mengakui mutu pendidikan Indonesia masih tertinggal dalam penilaian internasional PISA. Pengakuan itu disampaikan langsung di hadapan para pimpinan Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Istana. Nada bicaranya tegas. Tidak ada upaya menutupi keadaan.
Prabowo menilai ketertinggalan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ada persoalan struktural yang mengakar. Pemerintah, katanya, wajib membenahi kualitas pembelajaran di ratusan ribu sekolah di seluruh Tanah Air.
Pengakuan Terbuka dari Kepala Negara
Prabowo menegaskan pemerintah tidak menutup mata terhadap hasil PISA. Skor pelajar Indonesia dinilai belum menggembirakan. Kemampuan membaca, matematika, dan sains masih berada di bawah capaian banyak negara lain.
Ia meminta seluruh jajaran bergerak cepat. Perbaikan mutu pendidikan disebut sebagai agenda mendesak. Menurutnya, persoalan ini tidak bisa lagi ditunda-tunda. Masa depan generasi muda menjadi taruhannya.
Pernyataan terbuka semacam ini jarang terdengar dari level kepala negara. Biasanya hasil penilaian internasional hanya dibahas di tingkat kementerian teknis. Kali ini presiden sendiri yang turun tangan menyorotinya.
Tantangan Geografis yang Sangat Berat
Prabowo membeberkan salah satu akar persoalan: kondisi geografis Indonesia. Negara ini merupakan kepulauan terbesar di dunia. Lebih dari 17 ribu pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Sebaran sekolah sangat luas dan tidak merata. Banyak sekolah berdiri di daerah terpencil. Akses jalan terbatas. Konektivitas minim. Kondisi itu membuat pemerataan kualitas sangat sulit diwujudkan.
Distribusi guru juga timpang. Kota besar kelebihan tenaga pendidik. Sementara pelosok justru kekurangan. Standar pembelajaran yang sama nyaris mustahil diterapkan serentak di semua wilayah.
Inilah tantangan yang disebut presiden sebagai beban besar. Membangun sistem pendidikan merata di negara kepulauan jauh lebih rumit dibanding negara dengan daratan menyatu.
Mengelola 388 Ribu Sekolah
Skala sistem pendidikan nasional memang masif. Jumlah sekolah di Indonesia mencapai sekitar 388 ribu unit. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Semuanya harus dikelola dalam satu sistem terpadu.
Mengelola jaringan sebesar itu bukan pekerjaan sederhana. Butuh tata kelola yang kuat. Butuh data yang akurat. Butuh pengawasan berlapis dari pusat hingga daerah.
Prabowo menegaskan tantangan ini harus dijawab dengan kerja keras. Tidak cukup hanya dengan wacana dan retorika. Diperlukan eksekusi nyata di lapangan.
Anggaran Besar, Hasil Belum Sebanding
Indonesia sebenarnya mengalokasikan anggaran pendidikan sangat besar setiap tahun. Konstitusi mewajibkan minimal 20 persen dari APBN untuk sektor ini. Nilainya mencapai ratusan triliun rupiah.
Namun dana besar belum otomatis melahirkan hasil besar. Efektivitas belanja menjadi sorotan utama. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus benar-benar berdampak hingga ke ruang kelas.
Persoalannya, alokasi anggaran selama ini lebih banyak terserap untuk belanja rutin. Porsi untuk peningkatan kualitas pembelajaran dinilai masih perlu diperbesar. Inilah yang harus dikoreksi ke depan.
Perintah Perbaikan Kualitas Menyeluruh
Prabowo meminta perbaikan dilakukan menyeluruh. Kualitas guru menjadi prioritas utama. Guru adalah ujung tombak pendidikan. Tanpa guru berkualitas, mustahil melahirkan murid unggul.
Kurikulum juga harus relevan dengan kebutuhan zaman. Sarana dan prasarana belajar wajib memadai. Sekolah rusak harus segera direvitalisasi.
Pemerintah turut mendorong pemerataan akses. Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar menjadi perhatian khusus. Anak-anak di pelosok harus mendapat layanan pendidikan setara dengan anak di kota besar.
Sejumlah program turunan disiapkan pemerintah. Mulai dari perbaikan gedung sekolah hingga penguatan kesejahteraan pengajar. Semua diarahkan untuk mengangkat mutu pembelajaran nasional.
Sekilas Tentang PISA
PISA merupakan singkatan dari Programme for International Student Assessment. Program penilaian ini digagas OECD. Sasarannya adalah pelajar usia 15 tahun di puluhan negara.
Tiga kemampuan dasar yang diuji: membaca, matematika, dan sains. Hasilnya kerap dijadikan cermin daya saing sumber daya manusia suatu bangsa di panggung global.
Posisi Indonesia dalam pemeringkatan ini memang kerap berada di papan bawah. Fakta itulah yang kini diakui terbuka oleh presiden.
UPDATE: Pernyataan Prabowo menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan nasional. Publik kini menanti langkah konkret pemerintah. Perbaikan nyata di ruang kelas adalah ukuran sesungguhnya dari keseriusan ini.
Comments (0)