Polisi Persilakan Keluarga Sutrimo Melapor Jika Cium Kejanggalan
JAKARTA — Polda Metro Jaya secara resmi membuka akses seluas-luasnya bagi keluarga Sutrimo, warga yang tewas dalam bentrokan maut di Jalan Tambak, untuk segera melapor jika mencium adanya keanehan p...
JAKARTA — Polda Metro Jaya secara resmi membuka akses seluas-luasnya bagi keluarga Sutrimo, warga yang tewas dalam bentrokan maut di Jalan Tambak, untuk segera melapor jika mencium adanya keanehan pada kematiannya. Langkah taktis ini dipastikan langsung oleh Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Senin (27/7/2026), sebagai wujud komitmen transparansi penyidikan.
Prioritas Transparansi
“Pintu kami terbuka lebar. Jika keluarga mendapati keganjilan sekecil apa pun, laporkan segera. Kami tidak akan menutupi,” tegas Budi dalam jumpa pers darurat yang digelar setelah situasi di lokasi dinyatakan kondusif. Pihaknya menekankan, pelibatan keluarga menjadi kunci akuntabilitas, terutama karena insiden ini merenggut lima korban jiwa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pelaporan resmi dari pihak keluarga. Meski demikian, tim penyidik gabungan sudah menyiapkan jalur khusus. “Begitu ada laporan, kami langsung bentuk tim investigasi tambahan. Setiap bukti baru akan diuji secara forensik,” tambahnya.
Kronologi dan Korban
Bentrokan pecah pada Sabtu petang (25/7/2026) di kawasan Tambak, Jakarta Pusat, dipicu sengketa lahan parkir yang memanas antardua kelompok warga. Dalam waktu singkat, serangan membabi buta memakan korban. Sutrimo (45), penduduk asli Rawa Bebek, termasuk di antara lima nama yang meregang nyawa setelah dihantam senjata tajam.
- Jumlah korban tewas: 5 orang, termasuk Sutrimo
- Pelaku diamankan: 12 orang (3 di antaranya masih diperiksa intensif)
- Barang bukti diamankan: 8 senjata tajam, 4 bambu runcing, 6 unit motor
- Lokasi: Jalan Tambak, Kelurahan Rawa Bebek, Jakarta Pusat
Jenazah Sutrimo telah diserahkan ke pihak keluarga pada Minggu dini hari, setelah tim forensik merampungkan otopsi awal. Hasil pemeriksaan toksikologi dan patologi akan diumumkan pekan depan. “Kami mengimbau keluarga korban lain juga turut memanfaatkan ruang laporan ini,” kata Budi.
Respons Warga dan Saksi
Sejumlah saksi mata mengaku prihatin. Rohman (52), pemilik warung di dekat TKP, menuturkan, “Suasana kacau. Saya dengar teriakan minta tolong, lalu banyak yang jatuh.” Ia berharap kepolisian segera mengungkap aktor intelektual di balik serangan. Sementara itu, tetangga Sutrimo, Sukirman, mengatakan keluarga masih terpukul. “Mereka belum sanggup bicara. Tapi kami dorong agar laporan segera dibuat,” ucapnya.
Polda Metro Jaya memastikan kawasan Tambak sudah kembali normal. Sebanyak 45 personel gabungan masih disiagakan untuk mencegah gesekan susulan. Rekaman CCTV dari 12 titik sedang dianalisis oleh laboratorium forensik digital. Pihak kepolisian juga memeriksa rekaman ponsel milik para pelaku yang diamankan.
Komitmen Tanpa Perlindungan
Budhi menegaskan, pihaknya tidak akan melindungi siapa pun. “Apapun hasil pemeriksaan internal, termasuk jika ada oknum yang lalai, akan dibuka ke publik. Tidak ada ruang untuk impunitas,” tandasnya. Untuk menjamin objektivitas, Polda Metro akan melibatkan Kompolnas dan Komnas HAM dalam pemantauan kasus ini.
Masyarakat luas yang memiliki informasi pendukung diminta segera menghubungi call center 110 atau mendatangi kantor polisi terdekat. Seluruh laporan dijamin kerahasiaannya dan akan ditindaklanjuti maksimal 1x24 jam. “Kami butuh partisipasi publik. Sekecil apapun informasi, bisa jadi kunci,” tutup Budi.
Kejadian ini menjadi ujian serius bagi keamanan Jakarta di paruh kedua 2026. Transparansi dan kecepatan penuntasan kasus akan menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian, terutama pasca-bentrokan yang merenggut nyawa warga biasa.
Comments (0)