JAKARTA — Suasana haru dan keprihatinan mendalam menyelimuti ruang pertemuan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta pada Jumat (11/9/2026). Puluhan jurnalis dari berbagai media massa berkumpul untuk menggelar doa bersama menyusul kabar hilangnya kontak lima jurnalis dan tiga awak kapal di kawasan perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas peliputan.
Aksi solidaritas ini menjadi wujud dukungan moral bagi keluarga korban serta dorongan bagi seluruh tim penyelamat yang tengah berjibaku di lapangan. Komunitas pers nasional berharap seluruh awak kapal dan jurnalis yang bertugas dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
"Kami berkumpul di sini dengan satu harapan dan doa yang tulus, agar rekan-rekan jurnalis dan seluruh kru kapal segera ditemukan dalam keadaan selamat. Solidaritas ini adalah bentuk kekuatan moral kami untuk keluarga yang tengah menanti kabar baik," ujar perwakilan PFI Jakarta dalam sambutannya.
Kronologi Hilangnya Kontak di Perairan Selat Sunda
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari posko pencarian dan laporan rekan sejawat, rombongan jurnalis tersebut bertolak untuk melakukan peliputan maritim sebelum cuaca buruk melanda kawasan perairan. Berikut adalah rangkaian waktu kejadian sebelum kapal dinyatakan hilang kontak:
- Pukul 08.00 WIB: Kapal motor yang membawa lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) bertolak dari dermaga menuju titik liputan di sekitar gugusan pulau Selat Sunda.
- Pukul 13.45 WIB: Tim liputan sempat mengirimkan pembaruan materi dan laporan visual singkat kepada redaksi masing-masing.
- Pukul 15.30 WIB: Sinyal radio dan komunikasi satelit terputus secara mendadak seiring memburuknya anomali cuaca dan gelombang tinggi di perairan.
- Pukul 18.00 WIB: Otoritas pelabuhan bersama kantor SAR setempat secara resmi menetapkan status hilang kontak (lost contact) setelah upaya pemanggilan frekuensi darurat tidak membuahkan hasil.
Upaya Pencarian Maksimal oleh Tim SAR Gabungan
Menindaklanjuti laporan tersebut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama Polairud dan TNI AL langsung mengerahkan armada kapal penyelamat serta helikopter patroli untuk menyisir koordinat terakhir terpantaunya kapal.
Pihak berwenang menghadapi tantangan berat berupa gelombang laut setinggi 3 hingga 4 meter serta angin kencang di sekitar Selat Sunda. Kendati demikian, operasi pencarian terus diintensifkan dengan membagi area penyisiran ke dalam beberapa sektor utama.
- Penyisiran Udara: Melibatkan helikopter intai maritim untuk memantau kemungkinan serpihan atau pelampung darurat dari udara.
- Penyisiran Laut: Pengerahan kapal KN SAR dan armada patroli cepat menyusuri rute pelayaran resmi.
- Koordinasi Pesisir: Mengimbau nelayan lokal dan masyarakat pesisir Banten serta Lampung untuk segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan kapal.
PFI bersama berbagai organisasi pers lainnya terus membuka posko informasi terpadu guna memastikan arus informasi bagi keluarga korban tetap akurat, transparan, dan terverifikasi.
Comments (0)