Pernah Sakit-sakitan, Bos Sido Muncul Ungkap Rahasia Tetap Bugar di Usia 79 Tahun
Jakarta - Figur Irwan Hidayat acap kali dipandang sebagai lambang kesehatan yang tak tergoyahkan. Sebagai pemilik dan Direktur Utama Sido Muncul, ia identik dengan dunia jamu yang lekat dengan kebuga
Jakarta - Figur Irwan Hidayat acap kali dipandang sebagai lambang kesehatan yang tak tergoyahkan. Sebagai pemilik dan Direktur Utama Sido Muncul, ia identik dengan dunia jamu yang lekat dengan kebugaran. Namun, siapa sangka, di balik penampilannya yang penuh vitalitas di usia 79 tahun, tersimpan masa lalu yang dipenuhi perjuangan melawan penyakit. Irwan justru mengaku semasa mudanya sering keluar-masuk rumah sakit, bergelut dengan sejumlah kondisi serius yang nyaris merenggut semangatnya.
Dari Demam Tifoid hingga Depresi
Pria kelahiran Yogyakarta, 23 April 1947 ini membuka lembaran kelam riwayat kesehatannya. Ia pernah didiagnosis demam tifoid, mengalami gangguan ginjal, serta infeksi paru-paru yang membuat tubuhnya sangat lemah. Tak hanya fisik, tekanan mental pun menerpa hingga ia mengalami depresi. “Ada masa di mana saya bahkan tidak sanggup sekadar bangun dari tempat tidur,” kenangnya. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan gambaran dirinya saat ini yang masih cekatan memimpin perusahaan jamu legendaris itu.
Tanpa Pantangan, Asal Tidak Berlebihan
Kepada media kami, Irwan membagikan kunci sederhana yang ia pegang hingga tetap bugar di usia senja. Jauh dari kesan disiplin ketat yang mungkin dibayangkan banyak orang, ia justru tidak menerapkan pantangan makanan. Semua hidangan lezat boleh dinikmati, asalkan dalam porsi yang terkontrol. Ia menekankan bahwa tidak pernah mengonsumsi sesuatu secara berlebihan. Prinsip ini, menurutnya, jauh lebih penting daripada sekadar menghindari jenis makanan tertentu.
“Saya enggak punya pantangan soal makanan. Apa saja yang enak saya santap, tapi tidak pernah banyak, apalagi berlebihan,” ujarnya saat berbincang dengan tim laporan kami di House of Jamu, Cipete, Jumat (3/7/2026).
Filosofi sederhana itulah yang ia yakini sebagai fondasi kesehatannya kini. Setelah melewati masa-masa kritis di rumah sakit, Irwan belajar bahwa keseimbangan adalah segalanya. Tidak ada obat ajaib atau ramuan khusus, melainkan kesadaran penuh untuk tidak memforsir tubuh, baik dalam hal makan, bekerja, maupun mengelola stres. Baginya, tubuh yang pernah begitu rapuh justru menjadi guru terbaik dalam menghargai kesehatan.
Sosoknya kini menjadi bukti nyata bahwa masa lalu yang suram tak lantas menentukan masa depan. Irwan Hidayat tetap berdiri tegap, mematahkan anggapan bahwa usia lanjut harus identik dengan penurunan fisik. Rahasianya sesederhana pesan leluhur yang sering ia hidupi: segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik.
Comments (0)