Perdagangan Emisi Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Salah satu instrumen yang dikaji adalah perdagangan emisi di sektor pembangkit

Jul 14, 2026 - 21:09
0 0
Perdagangan Emisi Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Salah satu instrumen yang dikaji adalah perdagangan emisi di sektor pembangkit listrik. Paul Butarbutar, pengamat energi dan ekonomi, menilai mekanisme ini bukan sekadar pelengkap, melainkan dapat menjadi penentu percepatan pencapaian target tersebut.

Perdagangan Emisi: Insentif Ekonomi dan Lingkungan

Perdagangan emisi memungkinkan perusahaan pembangkit listrik yang berhasil menurunkan emisi karbonnya untuk menjual kelebihan kuota kepada perusahaan lain yang masih tinggi emisinya. Mekanisme ini menciptakan insentif ekonomi yang langsung dirasakan pelaku industri. Dalam jangka pendek, pengurangan emisi sering dianggap sebagai biaya tambahan, tetapi melalui perdagangan emisi justru berubah menjadi sumber pendapatan baru.

"Perdagangan emisi bukan beban. Ini adalah pasar baru yang bisa mendorong efisiensi sekaligus investasi hijau. Jika dikelola dengan baik, kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB bisa signifikan," ujar Paul Butarbutar dalam diskusi daring, akhir pekan lalu.

Data Kementerian ESDM menunjukkan sektor ketenagalistrikan menyumbang sekitar 40 persen dari total emisi nasional. Dengan diterapkannya perdagangan emisi, potensi pengurangan emisi di sektor ini mencapai 30 juta ton CO2 per tahun hingga 2030. Nilai ekonomi dari pasar karbon ini diperkirakan mencapai Rp 50 triliun per tahun.

Meluruskan Asumsi Keliru tentang Perdagangan Emisi

Masih banyak pihak yang menganggap perdagangan emisi justru menghambat pertumbuhan karena menambah biaya produksi listrik. Anggapan ini keliru. Faktanya, perusahaan yang efisien justru diuntungkan. Selain itu, dana dari pembelian kuota emisi dapat dialokasikan untuk program transisi energi yang mendorong investasi baru.

IndikatorTanpa Perdagangan EmisiDengan Perdagangan Emisi
Biaya kepatuhan emisiBiaya langsung bagi operatorMenjadi sumber pendapatan bagi operator efisien
Investasi hijauKurang insentifTerbuka pasar baru
Dampak ke pertumbuhan ekonomiPotensi perlambatan karena biaya tambahanPositif, mendorong efisiensi dan inovasi

Paul Butarbutar menambahkan bahwa tantangan utama adalah kesiapan infrastruktur sistem MRV (Monitoring, Reporting, and Verification) dan regulasi yang jelas. Tanpa itu, perdagangan emisi bisa gagal memberikan dampak optimal.

Pelajaran dari Negara Lain

Uni Eropa telah menerapkan sistem perdagangan emisi (EU ETS) sejak 2005. Pasar karbon UE saat ini bernilai lebih dari €50 miliar per tahun. Indonesia dapat belajar dari pengalaman UE, terutama dalam hal transparansi data dan pengawasan pasar. Negara seperti Cina dan Korea Selatan juga telah memulai perdagangan karbon domestik mereka, menunjukkan bahwa instrumen ini semakin diakui secara global sebagai alat mitigasi perubahan iklim yang juga menggerakkan ekonomi.

Rekomendasi Kebijakan

Untuk mengoptimalkan peran perdagangan emisi dalam mendorong pertumbuhan 8 persen, pemerintah perlu: (1) mempercepat penetapan batas emisi (cap) sektoral yang ambisius namun realistis; (2) membangun sistem MRV yang kredibel dan terintegrasi secara nasional; (3) mengedukasi pemangku kepentingan tentang manfaat ekonomi perdagangan emisi, bukan hanya beban lingkungan.

Dengan langkah-langkah tersebut, perdagangan emisi tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga pengungkit utama pertumbuhan berkelanjutan. Paul Butarbutar menutup, "Ini saatnya Indonesia tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga kualitas pertumbuhan yang rendah karbon."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User