Penyaluran Biodiesel B50 di SPBU Sumut Capai 73,2 Persen
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mencatat pencapaian signifikan dalam penyaluran Biodiesel B50 di Stasiun Pengisian Bahan
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mencatat pencapaian signifikan dalam penyaluran Biodiesel B50 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Sumatera Utara. Hingga awal Juli 2026, tingkat penyaluran mencapai 73,2% dari total target SPBU yang direncanakan. Implementasi program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam percepatan adopsi energi terbarukan dan pengurangan emisi karbon di sektor transportasi.
Perjalanan Implementasi Biodiesel B50 di Sumut
Program penyaluran B50—campuran 50% minyak solar nabati berbasis kelapa sawit dengan 50% solar fosil—mulai digelar secara bertahap sejak awal tahun 2026. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memprioritaskan SPBU di jalur transportasi utama dan kota-kota besar seperti Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Pematangsiantar. Pada tahap awal, hanya sekitar 15% SPBU yang siap menyalurkan B50 karena keterbatasan infrastruktur penampungan dan pencampuran. Namun, seiring dengan peningkatan kesiapan fasilitas, angka tersebut terus merangkak naik.
Menurut Area Manager Communication & Relations Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Budi Santoso, pencapaian 73,2% ini melampaui target awal yang dipatok sebesar 65% pada semester pertama 2026. "Kami optimis pada akhir tahun 2026, seluruh SPBU di Sumatera Utara sudah mampu menyalurkan Biodiesel B50," ujarnya saat dihubungi, Kamis (9/7/2026).
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Penggunaan Biodiesel B50 diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 40% dibandingkan solar murni. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia menuju net zero emission pada 2060. Di sisi ekonomi, program ini meningkatkan permintaan minyak sawit domestik yang berpotensi menjaga stabilitas harga tandan buah segar (TBS) petani. Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Utara, Dr. Ir. Mardiana, mengapresiasi langkah Pertamina karena memberikan dampak langsung bagi lebih dari 200 ribu petani sawit di wilayah tersebut.
Harga jual B50 di SPBU sendiri dipatok setara dengan harga solar subsidi, sehingga tidak memberatkan konsumen. Hal ini diharapkan dapat mempercepat adopsi tanpa mengorbankan daya beli masyarakat. Salah satu konsumen di SPBU Jalan Gatot Subroto, Andi, mengatakan mobil dieselnya berjalan lebih halus dan asap buang terlihat lebih bersih. "Awalnya ragu, tapi setelah pakai B50, tenaga tetap sama dan katanya lebih ramah lingkungan," ungkapnya.
Dukungan Lembaga dan Akademisi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Energi Terbarukan merilis studi yang menyatakan B50 mampu menurunkan emisi karbon monoksida hingga 35% dan partikulat hingga 45% dibandingkan solar B20. Dr. Andi Prasetyo, peneliti senior, mengatakan, "Ini merupakan langkah konkret yang patut diapresiasi. Jika diterapkan nasional, dampaknya pada kualitas udara perkotaan akan sangat signifikan."
Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut menyatakan dukungan penuh terhadap program mandatori biodiesel. Mereka mencatat penyerapan minyak sawit untuk B50 di Sumut sudah mencapai 120 ribu ton per bulan, mengerek harga TBS petani ke level Rp2.800 per kilogram.
Respon Pemerintah dan Sektor Otomotif
Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi, dalam pernyataannya menyambut positif capaian ini. "Transformasi energi memang butuh proses, tapi Sumut siap menjadi contoh provinsi yang berhasil mengadopsi B50 secara luas," tegasnya. Pemerintah provinsi juga telah menginstruksikan seluruh kendaraan dinas berbahan bakar diesel untuk beralih menggunakan B50.
Dari sisi industri otomotif, sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) kendaraan diesel telah menyesuaikan spesifikasi mesin untuk kompatibilitas B50. Namun, untuk kendaraan produksi di bawah tahun 2020, disarankan melakukan pengecekan ulang di bengkel resmi. "Sebaiknya konsumen konsultasi dulu, terutama untuk mesin common rail generasi awal," kata Kepala Teknisi Bengkel Resmi Toyota, Hendra.
Tantangan dan Proyeksi Menuju 100%
Meski progresnya menggembirakan, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Ketersediaan biodiesel di daerah-daerah terpencil seperti Nias dan Tapanuli Tengah masih terbatas karena kendala distribusi. Selain itu, masa simpan biodiesel yang lebih pendek dari solar biasa membutuhkan manajemen stok yang lebih ketat. Pertamina Patra Niaga berencana membangun terminal blending baru di Pelabuhan Belawan untuk menambah kapasitas penyimpanan hingga 50.000 kiloliter.
Untuk mencapai 100% penyaluran, Pertamina Patra Niaga memetakan tiga strategi utama: (1) percepatan pembangunan tangki blending mini di 15 SPBU besar, (2) pendampingan teknis bagi pemilik SPBU swasta, dan (3) kampanye "B50 Go Green" yang menyasar pengguna kendaraan diesel komersial. Target akhir 2026 adalah seluruh 412 SPBU di Sumut dapat menyalurkan B50.
Tidak hanya itu, Pertamina juga berencana meluncurkan program uji coba B60 di jalur Medan–Belawan pada kuartal keempat 2026, menjadikan Sumut sebagai laboratorium hidup transisi energi Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Penyaluran B50 di SPBU Sumut capai 73,2%! Langkah besar menuju energi bersih Indonesia. #BiodieselB50 #EnergiTerbarukan #Pertamina[SOCIAL_TG]: 🛢️ Penyaluran B50 di SPBU Sumut sudah 73,2%! 🌿 Lebih ramah lingkungan, tanpa mengorbankan performa mesin. Info lengkap cek artikel ini.
Comments (0)