Pengendara Ojol Jatuh Akibat Kabel Menjuntai di Kebayoran Baru
Seorang penumpang ojek online (ojol) mengalami kecelakaan lalu lintas akibat kabel telekomunikasi yang menjuntai rendah di jalan protokol Jakarta Selatan.
Seorang penumpang ojek online (ojol) mengalami kecelakaan lalu lintas akibat kabel telekomunikasi yang menjuntai rendah di jalan protokol Jakarta Selatan. Insiden terjadi di kawasan Perumahan Menteri Widya Chandra, Kebayoran Baru, pada Kamis pagi (6/3/2026). Korban terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah tersangkut kabel yang melintang hanya setinggi dada pengendara sepeda motor. Kejadian ini kembali membuka borok infrastruktur Ibu Kota yang kerap memakan korban akibat kabel-kabel semrawut.
Detik-detik Kecelakaan
Menurut saksi mata, pengendara ojol yang membawa seorang penumpang perempuan melaju dari arah Jalan Gatot Subroto menuju kawasan Senayan. Saat melintasi tikungan dekat kompleks Widya Chandra, sebuah kabel yang semula tergerai di atas tiba-tiba menjuntai lebih rendah karena putusnya pengikat. Kabel itu langsung menyangkut di bagian leher penumpang dan membuatnya terlempar ke belakang. Motor oleng, lalu jatuh ke sisi kiri jalan.
“Saya lihat kabel itu tiba-tiba melintang, lalu perempuan itu langsung terseret. Kejadiannya sangat cepat. Beruntung tidak ada kendaraan besar di belakangnya,” ujar Pak Joko, seorang pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lokasi.
Korban mengalami luka robek di bagian leher dan benturan di kepala. Ia langsung dievakuasi oleh relawan yang kebetulan melintas, sementara pengendara ojol mengalami luka ringan di lengan. Pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan setempat mengamankan lokasi dan menyelidiki pemilik kabel yang terpasang melintang tanpa izin tersebut.
Jakarta dan Masalah Kronis Kabel Semrawut
Insiden ini bukanlah yang pertama. Sejak tahun 2020, setidaknya tercatat 15 kasus serupa terjadi di wilayah Jakarta, dari kabel menjuntai yang menyebabkan pengendara terjatuh hingga kabel putus yang mengakibatkan korsleting listrik. Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) DKI mencatat, 23% kebakaran di Jakarta disebabkan oleh hubungan pendek listrik yang sebagian besar dipicu oleh kabel udara yang tidak terawat.
Masalah ini diperparah oleh tumpang tindihnya kepemilikan kabel. Berbagai penyedia jasa—listrik, telepon, internet, fiber optik—saling menyambung tanpa koordinasi yang baik. Banyak kabel yang sudah tidak terpakai tetapi tidak segera diturunkan, menciptakan “sarang laba-laba” berbahaya di atas kepala warga.
Respons Pemerintah dan Operator
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan telah menggulirkan program penanaman kabel bawah tanah (ducting) di beberapa ruas jalan utama. Namun, realisasi proyek ini berjalan lambat karena terkendala pembiayaan dan resistensi dari operator yang enggan menanggung biaya pemindahan.
Pasca insiden di Kebayoran Baru, PLN dan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) berjanji akan melakukan inspeksi mendadak di seluruh penjuru Jakarta. “Kami akan sisir titik-titik rawan dan mencabut kabel ilegal yang membahayakan pengguna jalan. Ini sudah menjadi perhatian serius,” kata juru bicara PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya. Namun, warga menuntut lebih dari sekadar inspeksi—mereka mendesak percepatan penghilangan kabel udara secara masif dan penerapan sanksi pidana bagi perusahaan yang abai.
Mendesain Ulang Tata Kelola Infrastruktur
Para pakar tata kota menilai bahwa solusi komprehensif memerlukan pendekatan multisektor. Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan:
- Pemetaan dan inventarisasi kabel secara digital untuk mengidentifikasi status setiap kabel dan pemiliknya.
- Penegakan regulasi yang ketat dengan memberikan tenggat waktu bagi operator untuk merapikan atau mencabut kabel tidak aktif, disertai denda progresif.
- Percepatan program ducting dengan model pembiayaan sharing antara pemerintah dan operator, serta insentif pajak bagi yang segera memindahkan kabel ke bawah tanah.
- Pelibatan masyarakat melalui aplikasi laporan warga yang terintegrasi dengan command center, sehingga setiap kabel bahaya bisa segera ditangani dalam hitungan jam.
Kasus penumpang ojol yang menjadi korban kabel semrawut ini adalah bukti nyata bahwa ketidakberesan infrastruktur tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga menelan keselamatan, bahkan nyawa. Jakarta butuh langkah berani untuk memindahkan semua kabelnya ke dalam tanah, bukan sekadar janji yang menggantung seperti kabel-kabel itu sendiri.
[SOCIAL_TWEET]: Kabel semrawut kembali makan korban. Seorang penumpang ojol jatuh tersangkut kabel menjuntai di kawasan elite Widya Chandra, Jakarta. Ke mana janji penertiban kabel udara? #KabelMematikan #JakartaBahaya #InfrastrukturKota[SOCIAL_TG]: ⚠️🛵 Lagi, pengguna jalan terluka akibat kabel menjuntai. Kali ini di Widya Chandra, Kebayoran Baru. Penumpang ojol tersangkut, jatuh dari motor. Kabel-kabel maut itu masih bergelantungan bebas di atas jalanan Jakarta. Hati-hati, kapan ada penertiban total?
Comments (0)