Kinerja operasional PT Pegadaian Kantor Wilayah VII Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra) mencatatkan lonjakan signifikan sepanjang tahun berjalan. Nilai pinjaman yang masih beredar atau Outstanding Loan (OSL) perseroan berhasil menembus angka Rp14,49 triliun. Pencapaian gemilang ini didorong oleh geliat ekonomi daerah, di mana Provinsi Bali bertindak sebagai lokomotif utama pertumbuhan pembiayaan.
Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil VII Bali Nusra, Edy Purwanto, menegaskan bahwa wilayah Bali memberikan kontribusi yang sangat dominan terhadap total pembiayaan berkat aktivitas bisnis masyarakat yang kian dinamis dan bergairah pascapemulihan berbagai sektor unggulan.
“Untuk di Bali sendiri, pertumbuhan secara tahunan atau year on year (YoY) berhasil melampaui 49 persen,” ujar Edy Purwanto dalam keterangannya didampingi Kepala Departemen Business Support Pegadaian Kanwil VII Bali Nusra, I Made Suasmarajaya.
Tren Kenaikan Harga Emas Pacu Nilai Taksiran Agunan
Edy menjelaskan bahwa akselerasi penyaluran pembiayaan tidak semata-mata dipicu oleh naiknya kebutuhan modal tunai di kalangan masyarakat. Fluktuasi harga komoditas emas dunia yang terus berada dalam tren kenaikan memberikan dampak langsung terhadap kapasitas pembiayaan berbasis gadai.
Mengingat emas merupakan agunan utama di Pegadaian, kenaikan nilai komoditas tersebut secara otomatis meningkatkan nilai taksiran barang jaminan. Alhasil, nasabah memiliki ruang plafon pinjaman yang jauh lebih besar meski menjaminkan kuantitas barang yang sama seperti periode sebelumnya.
Faktor penguat kinerja pembiayaan Pegadaian Kanwil VII meliputi sejumlah indikator kunci:
- Kenaikan Nilai Taksiran Agunan: Menguatnya harga emas membuat barang jaminan nasabah memiliki nilai valuasi lebih tinggi.
- Pertumbuhan Basis Nasabah: Terjadi peningkatan kepercayaan masyarakat hingga tercatat sekitar 1,87 juta nasabah aktif.
- Aktivitas Ekonomi Produktif: Tingginya penyerapan dana segar untuk permodalan sektor pariwisata, perdagangan, dan industri kreatif.
Cetak Laba Rp1,15 Triliun dengan Manajemen Risiko Terjaga
Kinerja positif tersebut berimbas nyata pada buku keuangan perusahaan. Hingga September 2026, akumulasi omzet penyaluran dari seluruh lini produk Pegadaian Kanwil VII menyentuh Rp32,49 triliun, atau tumbuh pesat sebesar 39,60 persen. Dari perputaran bisnis tersebut, perseroan berhasil membukukan laba bersih hingga Rp1,15 triliun.
Kendati ekspansi bisnis berjalan sangat agresif, Pegadaian tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian demi menjaga portofolio kredit yang sehat. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang bertahan di level sangat aman, yakni sekitar 0,4 persen.
“Yang kami jaga adalah pertumbuhan bisnis tetap prudent. Jadi bukan hanya mengejar pertumbuhan nominal, tetapi kualitas pembiayaan dan manajemen risiko tetap terjaga secara ketat,” tegas Edy.
Karakteristik perekonomian Bali yang bertumpu pada sektor jasa dan perdagangan membuktikan bahwa produk keuangan berbasis gadai tetap menjadi solusi permodalan yang sangat adaptif, likuid, dan relevan dalam menopang arus kas pelaku usaha lokal.
Comments (0)