Sep 01, 2026
breaking

Panen 35 Kg Lele, Lapas Tanjung Cetak Napi Mandiri

BARU SAJA – Lapas Kelas IIB Tanjung, Kalimantan Selatan, mengukir prestasi baru. Panen perdana 35 kilogram lele hasil budidaya narapidana berhasil dilakukan. Ini bukan sekadar panen ikan. Ini bukti ...

Panen 35 Kg Lele, Lapas Tanjung Cetak Napi Mandiri

BARU SAJA – Lapas Kelas IIB Tanjung, Kalimantan Selatan, mengukir prestasi baru. Panen perdana 35 kilogram lele hasil budidaya narapidana berhasil dilakukan. Ini bukan sekadar panen ikan. Ini bukti nyata program pembinaan kemandirian berjalan efektif.

Program Ketahanan Pangan Berbuah Nyata

KONFIRMASI dari Kepala Lapas Kelas IIB Tanjung, Ahmad Fauzi, menyebutkan lele dipanen setelah melalui proses pemeliharaan intensif selama tiga bulan. Kolam budidaya di area lapas menjadi laboratorium kehidupan bagi warga binaan. Mereka belajar dari nol: dari pembuatan kolam, pemberian pakan, hingga panen.

  • 35 kilogram lele berhasil dikumpulkan dalam sekali panen
  • Melibatkan 20 narapidana secara aktif dalam proses budidaya
  • Lele dijual ke kantin lapas dan warga sekitar untuk kemandirian ekonomi
  • Program ini merupakan bagian dari ketahanan pangan nasional yang diinstruksikan pemerintah

Tanggung Jawab dan Kerja Sama Jadi Inti

Setiap napi mendapat jadwal piket harian. Mulai memberi pakan, membersihkan kolam, hingga memantau kesehatan ikan. Sistem sanksi dan reward diterapkan untuk menanamkan disiplin. Hasilnya? Tidak ada satu pun ikan mati karena kelalaian. Kerja sama tim terbukti ampuh. Napi saling mengingatkan jika ada tugas terlewat.

“Ini mengajarkan kami bahwa tanggung jawab itu nyata. Lele tidak bisa menunggu. Kalau terlambat kasih makan, mereka bisa mati. Kami belajar konsekuensi langsung,” ujar seorang narapidana yang enggan disebutkan namanya.

Dampak Positif bagi Mental Warga Binaan

Program budidaya lele tidak hanya soal keahlian beternak. Lebih dalam, ini membentuk karakter. Napi yang awalnya apatis mulai menunjukkan antusiasme. Mereka bangga melihat hasil kerja keras. Beberapa bahkan bercita-cita membuka usaha lele setelah bebas nanti. Pihak lapas mencatat penurunan signifikan dalam pelanggaran aturan internal.

  • Penurunan angka pelanggaran hingga 40% dibanding bulan sebelumnya
  • Napi termotivasi menghasilkan produk bernilai ekonomi
  • Lele hasil panen langsung ludes terjual dalam waktu sehari

Langkah Selanjutnya: Skala Lebih Besar

Kepala Lapas tidak berhenti di sini. Rencana pengembangan kolam ke tahap dua sudah disiapkan. Target panen berikutnya dua kali lipat, yaitu 70 kilogram. Selain lele, budidaya ikan nila dan sayuran hidroponik juga mulai dirintis. Sinergi dengan Dinas Perikanan setempat terus diperkuat. Pelatihan rutin diberikan untuk meningkatkan kualitas hasil.

UPDATE terkini: Sebanyak 15 kolam terpal baru akan dipasang minggu depan. Dana berasal dari hasil penjualan panen sebelumnya. Tidak ada anggaran negara yang digunakan. Ini menunjukkan kemandirian nyata dari dalam lapas.

Program serupa di Lapas lain di Kalimantan Selatan mulai meniru. Model Lapas Tanjung dianggap sukses sebagai pilot project. Ke depannya, setiap lapas diharapkan memiliki program ketahanan pangan serupa. Tidak hanya mengurangi beban anggaran, tetapi juga mempersiapkan narapidana kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan nyata.

Inilah bukti bahwa di balik jeruji besi, perubahan nyata bisa terjadi. 35 kilogram lele mungkin kecil bagi sebagian orang. Tapi bagi warga binaan Lapas Tanjung, itu adalah langkah besar menuju kehidupan yang lebih baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User