Mubasyier Fatah Dorong Literasi Keamanan Siber di Kalangan Nahdliyin

JAKARTA — Di tengah derasnya arus digitalisasi, organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) semakin menyadari pentingnya benteng pertahanan di

Jul 12, 2026 - 19:52
0 0
Mubasyier Fatah Dorong Literasi Keamanan Siber di Kalangan Nahdliyin

JAKARTA — Di tengah derasnya arus digitalisasi, organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) semakin menyadari pentingnya benteng pertahanan di ruang maya. Suasana khidmat menyelimuti pelantikan Mubasyier Fatah sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) periode 2024–2029. Namun, yang membuat seremoni di Gedung PBNU itu berbeda adalah pesan tegas sang bendahara: keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan bagian dari jihad intelektual warga nahdliyin.

Mubasyier Fatah, yang selama lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia keamanan siber, hadir dengan perspektif segar. Ia bukan hanya bendahara, tetapi juga praktisi yang memahami celah-celah kritis infrastruktur digital. Dalam pidato perdananya, ia menyinggung data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat lebih dari 370 juta anomali trafik siber sepanjang 2023. Angka itu menjadi alarm bahwa organisasi masyarakat sipil, termasuk sayap-sayap NU, rentan menjadi korban.

Profil Singkat: Dari Forensik Digital ke Pucuk Keuangan

Nama Mubasyier Fatah sudah tidak asing di kalangan keamanan siber Indonesia. Kariernya dimulai sebagai analis forensik digital di sejumlah perusahaan konsultan internasional sebelum akhirnya mendirikan firma konsultan sendiri yang fokus pada audit keamanan sistem. Keterlibatannya di ISNU bukanlah hal baru; ia telah lama aktif di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU. “Saya melihat ada irisan antara integritas keuangan dan keamanan data. Dana umat harus dikelola transparan, dan sistem yang menyimpannya harus aman dari serangan,” ujarnya saat ditemui usai pelantikan.

Kehadiran figur berlatar belakang teknologi di jajaran kepengurusan inti ISNU dipandang sebagai langkah strategis. Pengamat organisasi Islam, Dr. Ahmad Syafi’i, menyebut ini sebagai lompatan paradigma. “NU sering dipandang sebagai organisasi tradisional, padahal kader-kadernya kini melek teknologi. Penempatan ahli siber di posisi vital adalah sinyal bahwa NU siap bertransformasi,” katanya.

Ancaman Siber Mengintai Organisasi Keagamaan

Mubasyier memaparkan sejumlah modus serangan yang kerap menyasar lembaga keagamaan. Mulai dari phishing yang mengincar data donasi, peretasan akun media sosial tokoh agama, hingga ransomware yang melumpuhkan sistem administrasi.

“Bayangkan jika data jamaah haji atau penerima zakat bocor. Kepercayaan publik hancur. Kita tidak bisa lagi mengandalkan firewall sederhana. Perlu budaya keamanan dari level akar rumput,” tegas Mubasyier dengan nada serius.

Ia mencontohkan kasus pembobolan situs salah satu lembaga zakat besar tahun lalu yang mengakibatkan kebocoran data lebih dari 50 ribu muzakki. Pengalaman pahit itu, menurutnya, harus menjadi cambuk. Setidaknya 60% organisasi keagamaan di Indonesia tidak memiliki tim tanggap insiden siber yang memadai, merujuk pada survei internal ISNU.

Strategi ISNU Perkuat Pertahanan Digital

Sebagai langkah awal, Mubasyier menggagas program Cyber-Smart Pesantren. Program ini akan menyasar 100 pesantren di Jawa dan Sumatra sepanjang tahun pertama. Pelatihan meliputi keamanan dasar, manajemen kata sandi yang kuat, hingga deteksi berita bohong. Program ini juga akan melibatkan santri sebagai agen literasi digital di lingkungan masing-masing.

Selain itu, ia berencana mengintegrasikan sistem keuangan ISNU berbasis blockchain parsial untuk meningkatkan transparansi dan ketahanan dari manipulasi. “Ini bukan soal mengikuti tren. Teknologi distributed ledger bisa mengurangi risiko penggelapan dan memudahkan audit,” jelasnya.

InisiatifTargetTahun
Pelatihan dasar keamanan siber100 pesantren2024-2025
Integrasi sistem keuangan berbasis blockchainPilot project 5 cabang2025
Pembentukan tim tanggap insiden siber1 tim nasional, 10 regional2026

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. “Manusia tetap menjadi rantai terlemah. Kesadaran adalah kunci. Jangan sampai kiai kita di-phishing hanya karena mengklik tautan berisi doa palsu,” candanya, disambut senyum hadirin.

Tantangan dan Harapan

Perjalanan Mubasyier Fatah di PP ISNU tidak akan mulus. Infrastruktur digital di lingkungan NU masih timpang—ada cabang yang sudah terbiasa dengan cloud computing, namun banyak juga yang masih bergulat dengan koneksi internet stabil. Namun optimisme tetap membuncah. Ia percaya, dengan pendekatan yang humanis dan berbasis komunitas, revolusi digital di tubuh NU bukan hal mustahil.

Senja mulai menyapa halaman gedung PBNU. Mubasyier melangkah keluar dengan setumpuk PR. Namun di matanya, ada binar keyakinan: bahwa keamanan siber bisa menjadi jembatan baru bagi Nahdlatul Ulama menuju peradaban digital yang berkeadaban. “NU harus jadi teladan. Bukan hanya di mimbar, tapi juga di layar,” pungkasnya.

[SOCIAL_TWEET]: Mubasyier Fatah, praktisi siber & Bendahara Umum PP ISNU: "Ancaman siber ke organisasi keagamaan nyata. Saatnya pesantren melek digital." Program Cyber-Smart Pesantren segera dimulai! #KeamananSiber #NahdlatulUlama #ISNU[SOCIAL_TG]: 🛡️ Mubasyier Fatah, Bendahara Umum PP ISNU, dorong literasi keamanan siber di kalangan pesantren. Target 100 pesantren dilatih tahun ini. #ISNU #CyberSecurity

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User