Sep 18, 2026
Hukum

MRT Jakarta Terapkan Konsep Placemaking Ciptakan Ruang Ketiga Publik

PT MRT Jakarta (Perseroda) terus berinovasi dalam mengoptimalkan pengelolaan kawasan transit di ibu kota. Tidak lagi sekadar berfungsi sebagai jalur mobili

MRT Jakarta Terapkan Konsep Placemaking Ciptakan Ruang Ketiga Publik

PT MRT Jakarta (Perseroda) terus berinovasi dalam mengoptimalkan pengelolaan kawasan transit di ibu kota. Tidak lagi sekadar berfungsi sebagai jalur mobilitas fisik warga, area di sekitar stasiun kini ditransformasikan menjadi ruang publik yang hidup dan dinamis lewat pendekatan placemaking. Strategi ini dirancang untuk menumbuhkan keterikatan emosional (sense of place) sekaligus menghadirkan ruang interaksi sosial baru bagi masyarakat metropolitan.

Menghadirkan Ruang Ketiga yang Humanis

Langkah penataan kawasan perkotaan ini bertujuan menciptakan apa yang dikenal sebagai third place atau ruang ketiga—sebuah destinasi beraktivitas yang nyaman di luar rumah (ruang pertama) dan tempat kerja (ruang kedua). Melalui konsep ini, MRT Jakarta ingin memberikan ruang inklusif bagi masyarakat untuk berekspresi, berinteraksi, dan melepas penat di sela rutinitas perkotaan yang padat.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, menegaskan bahwa penataan kawasan tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik semata, melainkan harus memiliki jiwa yang menyatu dengan penggunanya.

"Placemaking adalah sebuah konsep di mana saat kita menata sebuah kawasan, menjadi ruang ketiga. Tempat di mana kita beraktivitas sehari-hari setelah rumah-kantor, supaya kita bisa mengekspresikan diri," kata Samuel dalam forum MRTJ Fellowship Program di Jakarta.

Bukan Sekadar Tempat Duduk dan Kuliner

Samuel menggarisbawahi bahwa implementasi placemaking jauh melampaui penyediaan fasilitas dasar seperti bangku taman atau area pujasera. Prinsip utamanya adalah membangun ekosistem yang melibatkan partisipasi aktif publik, kelompok kreatif, dan komunitas lokal agar kawasan tersebut memiliki identitas yang kuat serta dicintai warganya.

Dalam penerapannya di berbagai simpul stasiun MRT, strategi penataan kawasan berbasis placemaking mencakup beberapa pilar utama, antara lain:

  • Aktivasi Komunitas: Menyediakan panggung terbuka dan ruang kolaborasi seni, budaya, hingga pameran kreatif bagi masyarakat urban.
  • Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Mengintegrasikan pelaku UMKM dan gerai komersial modern ke dalam alur pejalan kaki tanpa mengorbankan kenyamanan publik.
  • Konektivitas Ramah Pejalan Kaki: Membangun fasilitas integrasi antarmoda dan jalur pedestrian yang teduh, aman, serta aksesibel bagi penyandang disabilitas.
  • Penguatan Identitas Lokal: Memperkaya estetika visual kawasan dengan elemen desain yang merefleksikan sejarah serta keunikan lingkungan setempat.

Mendorong Transformasi Gaya Hidup Urban

Melalui pengembangan berorientasi transit (Transit-Oriented Development/TOD), MRT Jakarta bertekad menjadikan area transit sebagai magnet kehidupan kota. Integrasi ruang publik multifungsi seperti extended concourse terbukti mampu mengubah persepsi stasiun dari sekadar titik perlintasan menjadi titik temu komunitas.

Dengan keterlibatan publik yang terus dipupuk, konsep placemaking diharapkan mampu mengubah wajah Jakarta menjadi kota yang lebih humanis, berkelanjutan, dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi warganya untuk merajut interaksi sosial yang sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User