Mensos Puji Pameran Seni Inklusif Siswa SD-SMP di Jakarta
JAKARTA – Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan apresiasi tinggi terhadap pameran seni Canvas of Dreams 2026 yang digelar di Jakarta. Acara ini menjadi panggung kreativitas bagi siswa sekolah da...
JAKARTA – Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan apresiasi tinggi terhadap pameran seni Canvas of Dreams 2026 yang digelar di Jakarta. Acara ini menjadi panggung kreativitas bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama, tanpa terkecuali anak-anak penyandang disabilitas.
Dalam sambutannya, Gus Ipul—sapaan akrab Mensos—menekankan bahwa seni adalah media inklusi yang ampuh. “Pameran ini membuktikan bahwa tidak ada batasan bagi anak-anak untuk bermimpi dan berkarya. Setiap goresan kuas dan bentukan tangan adalah suara hati mereka yang harus kita dengar,” ujarnya di sela-sela pembukaan.
Canvas of Dreams 2026 diikuti oleh lebih dari 200 siswa dari 50 sekolah di wilayah DKI Jakarta. Sebanyak 30 persen di antaranya adalah peserta dengan kebutuhan khusus, meliputi tunanetra, tunarungu, gangguan spektrum autisme, dan disabilitas fisik. Panitia menyediakan pendamping khusus serta alat bantu agar semua anak dapat berpartisipasi secara maksimal.
Karya Tanpa Batas
Ratusan karya dipajang di ruang pamer utama, mulai dari lukisan kanvas, instalasi daur ulang, patung mini, hingga mural kolaboratif. Salah satu yang menarik perhatian adalah lukisan bertekstur tinggi berjudul “Hujan di Pagi Hari” karya Andi (12), seorang siswa tunanetra. Dengan bimbingan guru, ia menggunakan campuran pasir dan lem untuk menciptakan dimensi yang bisa dinikmati lewat sentuhan.
“Saya ingin orang merasakan hujan seperti yang saya rasakan, melalui bunyi dan tekstur,” kata Andi saat ditemui. Sementara itu, Dina (10), penyandang autisme, memamerkan seri gambar binatang dengan warna-warna cerah yang mencerminkan dunianya yang penuh imajinasi.
Para pengunjung, yang terdiri dari orang tua, guru, dan masyarakat umum, tampak antusias. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga diajak berinteraksi melalui sesi sentuh dan cerita di mana pengunjung dapat menyentuh beberapa karya dengan mata tertutup untuk merasakan perspektif penyandang tunanetra.
Dukungan Penuh Pemerintah
Gus Ipul menegaskan bahwa Kementerian Sosial akan terus mendorong kegiatan serupa sebagai bagian dari program pemberdayaan penyandang disabilitas. “Ini bukan sekadar pameran, tetapi gerakan sosial. Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa mereka bukan kelompok yang harus dikasihani, melainkan individu dengan potensi luar biasa,” tegasnya.
Mensos juga mengumumkan rencana kerja sama dengan dinas pendidikan untuk memperluas program pelatihan seni inklusif di sekolah-sekolah negeri. Targetnya, pada akhir tahun 2027, setidaknya 100 sekolah di Jakarta memiliki kelas seni yang ramah disabilitas.
Ketua panitia, Rina Marlina, menjelaskan bahwa Canvas of Dreams berawal dari komunitas seniman muda yang peduli terhadap isu inklusi. “Kami percaya seni bisa menjadi jembatan. Tahun ini adalah yang kedua, dan responsnya luar biasa. Kami berharap bisa menjadi agenda tahunan yang berdampak,” ujarnya.
Pameran yang berlangsung selama empat hari ini juga dimeriahkan dengan lokakarya melukis bersama, pertunjukan teater mini, dan bazar makanan ringan hasil karya siswa. Dana yang terkumpul dari penjualan katalog pameran akan disumbangkan untuk pengembangan fasilitas seni di sekolah luar biasa.
Dengan suksesnya acara ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tergerak untuk menciptakan ruang ekspresi bagi semua anak. “Seni tidak pernah memandang fisik. Ia hanya membutuhkan hati dan keberanian,” tutup Gus Ipul penuh haru.
Comments (0)