Menbud Fadli Zon Buka Festival Liangkobori, Dorong Lindungi Situs Prasejarah Muna
MUNA, DETIK INI JUGA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru saja membuka Festival Liangkobori IV di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (13/7/2026). Pembukaan ini menjadi tonggak penting dalam up...
MUNA, DETIK INI JUGA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru saja membuka Festival Liangkobori IV di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (13/7/2026). Pembukaan ini menjadi tonggak penting dalam upaya penyelamatan warisan budaya prasejarah yang kian terancam.
Festival yang digelar di kawasan Gua Metanduno ini menampilkan kekayaan budaya lokal dan langsung menarik perhatian ratusan pengunjung. Fadli Zon menegaskan bahwa gua-gua prasejarah di Muna, dengan lukisan dinding berusia ribuan tahun, adalah aset tak ternilai yang harus dilindungi bersama.
Perkuat Identitas Bangsa
“Liangkobori bukan hanya milik Muna, tetapi milik Indonesia dan dunia. Kami mengajak seluruh elemen untuk aktif menjaga situs ini dari kerusakan,” ujar Menbud di hadapan peserta festival. Pemerintah, katanya, akan mempercepat penetapan kawasan ini sebagai cagar budaya nasional.
Festival yang berlangsung selama tiga hari ini menyuguhkan berbagai kegiatan. Di antaranya pameran artefak, lomba foto situs prasejarah, pertunjukan musik tradisional, dan jelajah gua. Tujuannya jelas: mengedukasi publik tentang pentingnya konservasi sambil mendongkrak pariwisata berkelanjutan.
Fakta Kunci Festival Liangkobori IV
- Lokasi: Gua Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
- Tanggal: 13–15 Juli 2026.
- Peserta: Ratusan warga lokal, pelajar, seniman, dan wisatawan mancanegara.
- Warisan: Gua Liangkobori memiliki lukisan telapak tangan dan fauna yang diperkirakan berusia 5.000 tahun SM.
Data Balai Pelestarian Kebudayaan menunjukkan, sedikitnya 40 gua prasejarah tersebar di Muna. Gua Metanduno menjadi salah satu yang paling terawat, namun ancaman vandalisme dan abrasi alam terus menghantui. Festival ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif.
Fadli Zon juga menyoroti potensi ekonomi dari pariwisata budaya. “Jika dikelola dengan baik, situs ini bisa menjadi magnet wisata dunia. Pendapatan masyarakat akan naik tanpa mengorbankan kelestarian,” tegasnya. Ia meminta pemerintah daerah menyiapkan infrastruktur ramah lingkungan dan pelatihan bagi pemandu lokal.
Festival Liangkobori pertama kali digelar pada 2018 dan kini menjadi agenda tahunan. Edisi keempat ini menandai perluasan cakupan, dengan menggandeng Kementerian Pariwisata serta UNESCO untuk advokasi penetapan warisan dunia. Pengakuan internasional dinilai krusial untuk mengamankan pendanaan dan perlindungan jangka panjang.
Salah satu rangkaian acara yang menyedot antusiasme adalah ritual adat “Kabanti” yang digelar tetua adat Muna. Ritual ini diyakini menjadi doa bagi kelestarian alam dan leluhur. Warga setempat, La Ode Muhammad (45), mengaku bangga situs leluhurnya kian dikenal. “Kami berharap festival ini tak hanya seremonial, tapi ada tindakan nyata dari pemerintah,” ujarnya.
Ke depan, Kementerian Kebudayaan berencana membangun pusat interpretasi di dekat area gua. Fasilitas ini akan memamerkan replika lukisan dinding serta menyediakan informasi mendalam tentang peradaban prasejarah Muna. Langkah ini sekaligus untuk mengedukasi pengunjung agar tidak menyentuh langsung dinding gua yang rentan.
UPDATE: Hingga berita ini diturunkan, panitia mencatat lebih dari 500 pengunjung hadir pada hari pertama. Festival masih akan berlangsung hingga Selasa (15/7) dengan puncak acara berupa konser kolaborasi musisi nasional dan lokal. Masyarakat diimbau untuk datang dan turut serta menjaga warisan dunia yang ada di depan mata.
Baca juga:
Comments (0)