JAKARTA — Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman kantor pusat partai, Jakarta, Minggu (27/7). Prosesi berlangsung khidmat, dihadiri oleh pengurus partai dan kader setia.
Didampingi putranya, Prananda Prabowo, Megawati menyampaikan bahwa monumen ini bukan sekadar struktur batu. Ia adalah kristalisasi dari perenungan panjang—sebuah kontemplasi atas nilai-nilai perjuangan yang telah menjadi napas gerakan. “Monumen ini adalah hasil kontemplasi,” tegasnya di hadapan hadirin, menggambarkan bagaimana ide itu muncul dari keheningan batin, bukan sekadar instruksi politik.
Lambang Kesabaran Revolusioner
Monumen Kudatuli membawa pesan utama tentang kesabaran revolusioner. Bagi Megawati, kesabaran bukan berarti diam tanpa gerak. Sebaliknya, ia adalah energi yang terakumulasi, siap meledak pada saat yang tepat demi perubahan. Pesan ini ia warisi dari ayahnya, Presiden Soekarno, yang selalu mengajarkan bahwa perjuangan besar membutuhkan ketabahan dan visi jangka panjang.
“Bung Karno selalu bermimpi tentang Indonesia yang sejahtera, berdikari, dan dihormati dunia. Monumen ini adalah pengingat bagi kita semua, khususnya kader PDIP, bahwa cita-cita itu masih harus kita perjuangkan,” ujar Megawati dengan nada penuh keyakinan.
Ruang Kontemplasi bagi Generasi Penerus
Megawati menjelaskan bahwa proses kontemplasi yang melahirkan monumen ini melibatkan dialog lintas generasi di tubuh partai. Ia berharap monumen tersebut menjadi ruang hening yang menyulut refleksi, terutama bagi politisi muda. Di tengah hiruk-pikuk politik elektoral, keberadaan monumen ini diharapkan mampu menarik kembali kesadaran akan akar perjuangan.
“Saya ingin setiap kader yang melintas di sini berhenti sejenak, merenungkan apa yang sudah kita lakukan untuk rakyat. Jangan sampai kita terjebak pada rutinitas kekuasaan dan melupakan esensi perjuangan,” pesan Megawati.
Hadirnya Prananda dan Sinyal Regenerasi
Kehadiran Prananda Prabowo di samping Megawati selama prosesi peresmian menjadi sorotan. Figur putra mahkota ini memberi kesan kuat tentang kesinambungan nilai-nilai partai. Meski tidak banyak bicara, gestur Prananda yang penuh perhatian mengisyaratkan penerimaan tanggung jawab besar mewarisi ajaran leluhur.
Monumen Kudatuli kini berdiri sebagai penanda baru di markas PDIP. Ia tak hanya menyimpan ingatan sejarah, tetapi juga menantang masa depan. Ajakan Megawati untuk mewujudkan cita-cita Bung Karno bukan lagi sekadar retorika, melainkan termaktub dalam beton yang berdiri tegak. Seperti kata Megawati, “Kita masih punya banyak pekerjaan rumah. Monumen ini adalah alarm bagi kita semua.”
Acara diakhiri dengan doa dan sesi foto bersama di depan monumen. Para kader tampak antusias mengamati setiap detail ukiran yang sarat makna. (tim/detik)
Comments (0)