Megawati Bahas Relevansi Gerakan Asia Afrika di Tengah Krisis Geopolitik
Jakarta — BARU SAJA, Megawati Soekarnoputri turun langsung menggelar seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jaka...
Jakarta — BARU SAJA, Megawati Soekarnoputri turun langsung menggelar seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kehadiran Presiden ke-5 RI ini menegaskan urgensi membangkitkan kembali solidaritas negara berkembang di tengah panasnya tensi global.
Ratusan kader partai, akademisi, dan perwakilan diplomatik memadati ruang seminar. Megawati tampil sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, ia menyoroti akar historis Gerakan Asia Afrika yang berpuncak pada Konferensi Bandung 1955, di mana prinsip Dasasila Bandung lahir sebagai pedoman perdamaian dan anti-kolonialisme.
Krisis Geopolitik Masa Kini
Megawati menekankan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi serangkaian krisis multipolar. Konflik bersenjata di Eropa Timur, perang dagang AS-China, serta ketegangan di Laut China Selatan disebutnya sebagai ancaman nyata bagi stabilitas global. Data yang ia paparkan menunjukkan bahwa pengeluaran militer global pada 2025 telah menembus 2,3 triliun dolar AS, naik 7% dari tahun sebelumnya. “Angka-angka ini memperlihatkan betapa rapuhnya arsitektur perdamaian yang kita bangun puluhan tahun lalu,” ujarnya.
Ia menyayangkan banyak negara besar kembali menggunakan pendekatan kekuatan, meninggalkan diplomasi multilateral. Di tengah situasi itu, Megawati menilai Gerakan Non-Blok dan semangat Asia Afrika justru menjadi vaksin diplomasi yang dibutuhkan.
Relevansi dan Aksi Konkret
Menurut Megawati, relevansi Gerakan Asia Afrika tidak berada di museum sejarah. Prinsip-prinsip seperti saling menghormati kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian damai masih menjadi fondasi kuat untuk meredakan konflik. Ia mendorong pemerintah dan parlemen untuk menginisiasi forum Global South Summit dengan agenda tunggal: resolusi konflik berbasis solidaritas regional.
- Mendorong Indonesia memimpin reaktivasi forum Asia Afrika secara berkala.
- Mengajak negara-negara ASEAN dan Afrika untuk memperkuat kerjasama ekonomi sebagai jaring pengaman krisis pangan dan energi.
- Menolak segala bentuk penjajahan modern, termasuk perang proxy dan hegemoni ekonomi.
Megawati juga mengkritik lemahnya peran PBB dalam menghentikan konflik. Ia menyebut veto di Dewan Keamanan sebagai penyakit multilateralisme yang harus disembuhkan melalui tekanan dari negara-negara Selatan. “Kita tidak boleh hanya menjadi penonton ketika kekuatan besar saling baku hantam menggunakan tanah dan sumber daya negara lain,” tegasnya.
Seminar ini berlangsung selama dua jam dan diakhiri dengan deklarasi bersama yang menegaskan komitmen PDIP untuk menjadikan semangat Asia Afrika sebagai bagian dari platform diplomasi partai dan nasional. Para analis politik yang hadir menilai langkah ini sebagai pengingat bahwa Indonesia, sebagai salah satu penggagas Konferensi Bandung, memiliki kartu sejarah yang kuat untuk memainkan peran global di tengah krisis.
Comments (0)