MEDAN — Tugu Tirta Malang Primadona ICE APEKSI, Diserbu Kepala Daerah
MEDAN (SurabayaPost.id) – Derap langkah para kepala daerah seolah tak pernah putus mengalir ke salah satu sudut paling benderang di Ballroom Hotel Santika
MEDAN (SurabayaPost.id) – Derap langkah para kepala daerah seolah tak pernah putus mengalir ke salah satu sudut paling benderang di Ballroom Hotel Santika Dyandra, Medan. Di sana, Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang mendirikan benteng inovasi bertajuk Smart Water City, dan sejak hari pertama Indonesia City Expo (ICE) 2026 bergulir, 1 Juli, booth itu langsung menjelma magnet raksasa.
ICE 2026, yang menjadi rangkaian Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) diikuti 98 pemerintah kota se-Indonesia, memang panggung bergengsi. Namun, Tugu Tirta tampil bukan sekadar peserta. Mereka memboyong pengalaman digital imersif: mulai dari sumber air di lereng pegunungan, proses pengolahan mutakhir, sistem distribusi pipa cerdas, hingga air aman yang mengalir ke rumah pelanggan—semuanya dibentangkan lewat layar interaktif nan atraktif.
Teknologi Smart Water City yang Bikin Penasaran
Bukan brosur atau poster statis yang disodorkan. Tim Tugu Tirta mengajak setiap pengunjung “berwisata” secara digital. Ada sensasi tersendiri saat jari menyentuh layar, lantas data real-time kualitas air, tekanan distribusi, hingga deteksi kebocoran muncul seketika. Inilah yang membuat para wali kota, wakil wali kota, dan pejabat daerah lain terpaku, lantas bertubi-tubi melontarkan pertanyaan teknis kepada Direktur Utama Perumda Tugu Tirta, Priyo Sudibyo, SE, S.Sos, MM, yang siaga penuh di lokasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa air minum bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari ekosistem smart city yang melayani warga dengan transparansi penuh,” ujar Priyo Sudibyo. “Respons para kepala daerah sungguh di luar dugaan. Mereka tidak hanya melihat, tapi langsung membayangkan mereplikasi sistem serupa di kota masing-masing.”
Visualisasi digital yang memanjakan mata itu seolah membuktikan bahwa Malang tak main-main mengelola air minum kota. Layar interaktif tersebut memproyeksikan perjalanan air dari hulu ke hilir, lengkap dengan data laboratorium dan indeks kepuasan pelanggan yang terus diperbarui.
Antrean Kepala Daerah Silih Berganti
Sejak pagi hingga petang, tim Tugu Tirta nyaris tak sempat duduk. Kewalahan adalah kata yang tepat. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turut mendampingi sejumlah tamu penting yang sengaja datang untuk menimba inspirasi.
Siapa saja mereka? Deretan nama yang mampir cukup mentereng: Wakil Wali Kota Tomohon Sendy Gladys Adolfina Rumajar, Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes, Wali Kota Manado Andrei Angouw, Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG-KFM, serta perwakilan resmi dari Palembang, Padang, dan tuan rumah Medan. Masing-masing datang dengan rasa ingin tahu, meninggalkan booth dengan setumpuk prospek kerja sama.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah dialog intens antara Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, dan Wali Kota Wahyu Hidayat. Keduanya berbincang serius di depan panel distribusi digital, saling bertukar pengalaman soal tantangan layanan air minum di wilayah berbukit.
Kolaborasi yang Diharapkan Terjalin
Keramaian di booth Tugu Tirta bukan sekadar angka kunjungan. Ini adalah sinyal bahwa kota-kota di Indonesia kini berlomba mengadopsi transparansi dan inovasi dalam tata kelola air. ICE APEKSI 2026 yang berlangsung hingga 3 Juli mendatang menjadi saksi bagaimana Malang, melalui Tugu Tirta, membuka jalan bagi jejaring kolaborasi antardaerah yang lebih solid. Bagi banyak kepala daerah, apa yang dipamerkan Tugu Tirta bukan lagi mimpi abstrak, melainkan cetak biru yang siap direplikasi.
Apakah pameran ini akan melahirkan nota kesepahaman baru? Waktu yang akan menjawab. Yang pasti, Booth Smart Water City telah meninggalkan jejak mendalam di benak para pemimpin kota—sebuah pesan kuat bahwa layanan air minum masa depan bukan milik segelintir kota, melainkan bisa diwujudkan di seluruh Indonesia.
Comments (0)