Danantara Mulai Pembangunan PSEL Bali, Investasi Rp 3 Triliun
DENPASAR — Langkah besar di sektor energi hijau resmi dimulai. Danantara memulai proses konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dan Energi (PSEL) di Ba
DENPASAR — Langkah besar di sektor energi hijau resmi dimulai. Danantara memulai proses konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dan Energi (PSEL) di Bali dengan total investasi mencapai Rp 3 triliun. Proyek ambisius ini digadang-gadang mampu menyuplai kebutuhan listrik hingga 100 ribu rumah di Pulau Dewata, menandai era baru dalam pengelolaan sampah terintegrasi dan penyediaan energi bersih di Indonesia.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) berlangsung di kawasan Suwung, Denpasar Selatan, yang selama ini dikenal sebagai pusat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di Bali. Kehadiran PSEL ini diharapkan langsung menyelesaikan dua masalah kronis sekaligus: krisis sampah yang kian mencekik dan ketergantungan pada energi fosil yang masih dominan di sistem kelistrikan Bali.
“Ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah pernyataan sikap bahwa Indonesia serius dalam transisi energi. Danantara hadir untuk mengakselerasi agenda nasional menuju Net Zero Emission,” ujar Direktur Utama Danantara dalam sambutannya.
Mekanisme Teknologi dan Kapasitas Produksi
PSEL Bali akan mengadopsi teknologi thermal treatment generasi terbaru yang mampu mengonversi 1.500 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Dengan sistem pembakaran terkendali dan filtrasi gas buang ketat, fasilitas ini diklaim memenuhi standar emisi Uni Eropa, sehingga aman bagi lingkungan sekitar. Berikut spesifikasi kunci yang mencuri perhatian:
- Kapasitas Olah: 1.500 ton sampah/hari (setara 550.000 ton/tahun)
- Output Listrik: 45 MW, cukup untuk 100.000 rumah
- Teknologi Utama: Moving Grate Incineration + Flue Gas Treatment
- Luas Lahan: 12 hektar di area TPA Suwung
- Masa Konstruksi: 30 bulan, target operasional Q1 2029
Pemilihan Bali bukan tanpa alasan. Selain menjadi etalase pariwisata dunia yang membutuhkan lingkungan bersih, provinsi ini mencatat rata-rata 4.200 ton produksi sampah per hari dengan angka daur ulang yang masih rendah. PSEL akan langsung mereduksi volume sampah yang masuk ke TPA Suwung hingga 70%, memperpanjang usia pakai lahan dan memutus rantai pencemaran air tanah yang selama ini dikeluhkan warga.
Dampak Ekonomi dan Model Bisnis
Danantara menegaskan bahwa proyek ini tidak membebani APBD Bali secara langsung. Skema investasi murni berasal dari dana kelolaan Danantara dan sindikasi perbankan nasional, dengan pengembalian investasi melalui mekanisme tipping fee (biaya pengolahan sampah) dan penjualan listrik ke PLN melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) selama 25 tahun. Tarif listrik dari PSEL dipatok di angka US$ 13,5 sen per kWh, lebih kompetitif dibandingkan rata-rata biaya pokok produksi listrik di sistem kelistrikan Bali saat ini.
Selain itu, proyek ini berpotensi menciptakan 800 lapangan kerja langsung selama fase konstruksi dan 350 tenaga kerja permanen saat operasional. Telah disiapkan pula kemitraan dengan SMK dan politeknik lokal untuk memastikan penyerapan tenaga kerja asli Bali.
“Kami tidak ingin proyek ini menjadi pulau terisolasi. Kolaborasi dengan masyarakat adat, desa dinas, dan pengusaha lokal sudah terjalin sejak tahap studi kelayakan. Ini milik Bali,” tegas Project Director PSEL.
Implikasi Strategis bagi Portofolio Danantara
PSEL Bali adalah proyek energi hijau pertama Danantara sejak dibentuk sebagai sovereign wealth fund Indonesia. Keberhasilan proyek ini akan menjadi template replikasi ke 12 kota lain yang sudah mengantre, termasuk Surabaya, Bandung, dan Makassar. Portofolio hijau Danantara ditargetkan mencapai 15% dari total AUM pada 2030, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement dan transisi energi nasional.
Dengan nilai investasi Rp 3 triliun, proyek ini sekaligus menjadi tes bagi kapabilitas Danantara dalam mengelola proyek infrastruktur kompleks secara langsung—bukan sekadar penyertaan modal seperti model investasi sebelumnya. Kacamata pasar dan lembaga pemeringkat akan tertuju pada setiap milestone pembangunan: apakah tepat waktu, sesuai anggaran, dan berdampak nyata.
Saham-saham konstruksi dan energi terbarukan di Bursa Efek Indonesia tercatat langsung menguat tipis pasca pengumuman groundbreaking. Para analis menyebut PSEL Bali sebagai “katalis positif” bagi ekosistem investasi hijau nasional.
Comments (0)