Masyarakat Tetap Ramai ke Mal, Daya Beli Kelas Menengah Terus Tergerus

Gemerlap pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia tetap memancarkan daya tariknya. Setiap akhir pekan, lautan manusia memadati koridor mal, namun di

Jul 12, 2026 - 02:42
0 0
Masyarakat Tetap Ramai ke Mal, Daya Beli Kelas Menengah Terus Tergerus

Gemerlap pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia tetap memancarkan daya tariknya. Setiap akhir pekan, lautan manusia memadati koridor mal, namun di balik keramaian itu tersimpan paradoks yang mengkhawatirkan: tingkat konsumsi riil justru menunjukkan tren penurunan. Data terbaru Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat, tingkat kunjungan ke mal nasional sepanjang kuartal II-2026 tumbuh 8,4 persen secara tahunan, tetapi rata-rata pengeluaran per kunjungan merosot hampir 12 persen.

Fenomena ini terutama dipicu oleh perilaku belanja yang lebih selektif dari kelompok kelas menengah-bawah, yang merupakan tulang punggung konsumsi domestik. Mereka tetap datang ke mal untuk menikmati waktu luang, bersosialisasi, atau sekadar mencari hiburan gratis seperti acara live music atau pameran, namun uang yang dibelanjakan jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Mal sudah berubah fungsi menjadi ruang publik sosial. Pengunjung datang, jalan-jalan, foto-foto, lalu pulang tanpa membawa banyak belanjaan,"
ujar Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), saat dihubungi Kamis (10/7).

Perubahan Pola Konsumsi: Dari Belanja ke Pengalaman

Data dari Bank Indonesia menunjukkan indeks keyakinan konsumen masih berada di zona optimis (di atas 100), namun ekspektasi pembelian barang tahan lama justru menurun. Masyarakat lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan. Sementara belanja pakaian, aksesori, dan barang elektronik non-esensial menjadi pos yang paling banyak dipangkas.

"Kami tidak lagi impulsif membeli baju baru setiap gajian. Sekarang kalau ke mal, paling sekadar membeli minuman di food court dan itu pun sering berbagi," tutur Rianti, seorang karyawan swasta di Jakarta. Pengalaman Rianti menjadi potret pergeseran budaya konsumsi yang dipicu oleh inflasi pangan yang persisten di level 5,7 persen serta ketidakpastian pendapatan pasca-gelombang PHK di sektor teknologi dan manufaktur.

Perubahan ini tidak lepas dari peran e-commerce yang kian agresif. Platform belanja online seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada rutin menggelar flash sale dengan potongan harga hingga 80 persen. Akibatnya, konsumen memanfaatkan kunjungan ke mal untuk melihat dan mencoba barang, lalu membelinya melalui gawai mereka. Fenomena showrooming ini semakin menekan penjualan ritel fisik.

Perbandingan Kunjungan vs Pengeluaran di Mal (Kuartal II 2026)
IndikatorGrowth (YoY)
Kunjungan Mal+8,4%
Nilai Transaksi Per Kunjungan-11,8%
Rata-rata Pengeluaran per OrangRp 187.000 (turun dari Rp 210.000)

Menurut data internal salah satu department store besar, penjualan pakaian jadi turun 18% dibanding periode sama tahun lalu, sementara penjualan produk kebutuhan sehari-hari seperti makanan ringan di supermarket dalam mal justru naik 5%. Hal ini memperkuat sinyal bahwa konsumen kini hanya membelanjakan uang untuk hal-hal yang benar-benar diperlukan.

Para peritel pun mulai beradaptasi. Beberapa merek besar menerapkan strategi pemasaran berbasis diskon agresif dan program loyalitas. Namun, pemotongan margin ini belum mampu mendongkrak volume penjualan secara signifikan. Total penjualan ritel modern hanya tumbuh 2,1 persen year-on-year, jauh di bawah target Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sebesar 4-5 persen.

Dampak Bagi Industri Ritel dan Prospek ke Depan

Tekanan terhadap ritel fisik diperparah oleh migrasi belanja ke platform e-commerce yang sering menawarkan harga lebih murah dan promosi ongkos kirim gratis. Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey, menyatakan kondisi ini memaksa pusat belanja untuk berinovasi.

"Kami tidak bisa lagi hanya mengandalkan penyewa sebagai magnet. Mal harus menjadi destinasi hiburan terintegrasi: bioskop, taman bermain, restoran tematik, hingga co-working space,"
ujarnya.

Meskipun demikian, ekonom senior PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro, memperkirakan perbaikan daya beli baru akan terasa pada kuartal IV-2026, seiring dengan realisasi penuh anggaran bantuan sosial dan pembayaran THR pada akhir tahun. Sementara itu, para pengamat menyarankan agar pemerintah mempercepat penyaluran insentif untuk sektor padat karya serta menjaga stabilitas harga pangan agar kelompok menengah-bawah kembali memiliki ruang untuk konsumsi sekunder.

Dengan situasi yang belum menentu, peritel harus terus membaca perubahan preferensi konsumen yang kini sangat menghargai value for money. Ke depan, siapa yang mampu memadukan pengalaman belanja yang menyenangkan dengan harga terjangkau akan menjadi pemenang di tengah ketatnya persaingan.

[SOCIAL_TWEET]: Kunjungan ke mal melonjak 8,4%, tapi pengeluaran per orang justru anjlok 12%. Masyarakat tetap nongkrong, tapi makin irit belanja. Fenomena baru di tengah tekanan ekonomi. #EkonomiRI #RitelTertekan #Celios[SOCIAL_TG]: 🛍️👀 Fakta mengejutkan: mal makin rame, tapi masyarakat makin pelit belanja. Pengeluaran per kunjungan turun 12%! Simak analisis lengkapnya ⬇️

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User