Masjid Sunda Kelapa Gelar Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa
Masjid Sunda Kelapa yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi saksi penyelenggaraan acara Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqta
Masjid Sunda Kelapa yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi saksi penyelenggaraan acara Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa pada Jumat lalu. Acara yang dihadiri oleh ratusan jamaah, akademisi, serta tokoh agama Islam ini berlangsung khidmat di aula utama masjid bersejarah tersebut. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama kontemporer yang mendedikasikan karyanya untuk memberikan panduan komprehensif kepada umat Islam dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama secara kontekstual.
Rangkaian Acara Pembukaan: Khidmat dan Antusiasme Tinggi
Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh qari internasional asal Jakarta, Ustadz Ahmad Fauzi. Lantunan merdunya menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam bagi seluruh hadirin yang memadati ruangan berkapasitas 500 orang tersebut. Tercatat lebih dari 350 peserta hadir secara langsung, sementara 1.200 lebih menyaksikan melalui siaran langsung kanal YouTube resmi Masjid Sunda Kelapa.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Sunda Kelapa, H. Muhammad Rasyid, Lc., MA. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya tradisi keilmuan Islam yang terus dihidupkan melalui karya tulis. "Masjid bukan sekadar tempat ibadah mahdhah, tetapi juga pusat peradaban dan intelektualitas. Launching kitab ini membuktikan bahwa tradisi keilmuan ulama terdahulu masih terjaga," tegasnya di hadapan audiens.
Profil Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa: Jembatan Tradisi dan Modernitas
Ithafu Ummati Al-Muqtafa merupakan kitab multidisipliner yang memadukan kajian fikih, tasawuf, dan tafsir tematik. Judul lengkap kitab ini—yang berarti "Persembahan untuk Umat yang Mengikuti"—mencerminkan misi penulisnya, Syekh Dr. Muhammad Najib Al-Aththas An-Nadwi, untuk memberikan panduan bagi umat Islam agar tidak tercerabut dari akar tradisi di tengah arus modernitas.
Kitab setebal 780 halaman ini terdiri dari 12 bab utama yang mencakup pembahasan tentang:
- Prinsip-prinsip akidah Ahlusunnah wal Jama'ah di era post-truth
- Metodologi istinbath hukum Islam kontemporer
- Etika bermedia sosial dalam perspektif maqashid syariah
- Konsep jihad intelektual sebagai respons terhadap tantangan sekularisasi
- Panduan membangun keluarga Islami di era digital
Menariknya, kitab ini juga dilengkapi dengan skema dan diagram yang memudahkan pembaca memahami konsep-konsep kompleks secara visual. Setiap bab diakhiri dengan latihan soal dan studi kasus kontemporer yang aplikatif.
Sesi Bedah Kitab: Tiga Narasumber Kompeten
Memasuki sesi inti, acara bedah kitab menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang keilmuan yang beragam.
1. Prof. Dr. KH. Miftahul Huda, MA (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah) mengupas metodologi penulisan kitab dari sisi akademik. Ia memuji pendekatan integratif yang digunakan penulis. "Kitab ini berhasil menjembatani dikotomi antara ilmu naqli dan aqli. Metode tematiknya memungkinkan pembaca memahami isu kontemporer tanpa kehilangan pijakan turats klasik," papar Prof. Miftahul.
2. Dr. Hj. Amany Lubis, MA (Rektor UIN Syarif Hidayatullah periode 2019-2023) menyoroti kontribusi kitab dalam pemberdayaan perempuan Islam. "Bab tentang keluarga Islami di era digital sangat relevan. Data menunjukkan 67% ibu rumah tangga di Indonesia mengakses media sosial lebih dari 4 jam per hari. Kitab ini memberikan solusi praktis bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai keluarga," jelasnya.
3. Habib Muhsin Al-Attas, Lc., MA (Pimpinan Majelis Taklim Jakarta Pusat) mengkaji dimensi spiritual kitab. Ia menekankan bahwa tasawuf yang ditawarkan dalam kitab ini adalah tasawuf amali, bukan sekadar teoritis. "Penulis berhasil menghadirkan tasawuf yang membumi, yang menjadikan aktivitas keseharian—termasuk bekerja dan bermedia sosial—sebagai ladang ibadah," ungkap Habib Muhsin.
Antusiasme Peserta dan Sesi Tanya Jawab Interaktif
Sesi tanya jawab berlangsung sangat interaktif dengan lebih dari 20 pertanyaan diajukan baik secara langsung maupun melalui kolom chat daring. Seorang peserta asal Bekasi, Fatimah Azzahra, bertanya tentang aplikasi praktis kitab ini bagi remaja milenial. Panelis merespons dengan memberikan contoh konkret bagaimana remaja dapat menerapkan etika bermedia sosial perspektif maqashid syariah dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta lain dari Komunitas Penulis Muslim Nasional menanyakan kemungkinan penerjemahan kitab ke dalam bahasa Inggris dan Arab. Pihak penerbit, Pustaka Al-Mizan, mengkonfirmasi bahwa versi terjemahan sedang dalam proses dan diperkirakan terbit pada triwulan ketiga 2026.
Penutup: Komitmen Menerbitkan Karya Ilmiah Berkualitas
Acara ditutup pada pukul 12.30 WIB dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Syukron Ma'mun. Pihak DKM Masjid Sunda Kelapa menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat peradaban dan intelektualitas Islam di Jakarta melalui penyelenggaraan acara serupa secara berkala. "Kami akan melanjutkan program Kajian Bulanan Masjid Sunda Kelapa dengan mendatangkan penulis dan cendekiawan Muslim dari berbagai daerah," janji H. Muhammad Rasyid menutup acara.
Bagi masyarakat yang ingin memiliki Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa, kitab telah tersedia di toko buku Islami terkemuka dengan harga Rp 245.000. Untuk pemesanan daring, pembaca dapat mengunjungi situs resmi penerbit Pustaka Al-Mizan.
[SOCIAL_TWEET]: Tradisi keilmuan Islam terus menggeliat! Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Masjid Sunda Kelapa hadirkan tiga pakar dan 350+ peserta. Kitab setebal 780 halaman ini jawab isu kontemporer dari etika medsos hingga jihad intelektual. #BedahKitab #MasjidSundaKelapa #KajianIslam[SOCIAL_TG]: 📚✨ Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa sukses digelar di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. 350+ peserta hadir langsung, 1.200+ saksikan via streaming. Para pakar kupas tuntas isi kitab—dari etika medsos perspektif syariah sampai panduan keluarga Islami di era digital. Kitab sudah tersedia di toko buku! 🕌
Comments (0)