Malaysia Ikuti Jejak QRIS, Hapus Jaringan QR Eksklusif

Kuala Lumpur, Malaysia – Pemerintah Malaysia melalui Bank Negara Malaysia (BNM) mengumumkan rencana ambisius untuk menyatukan seluruh sistem pembayaran kod

Jul 12, 2026 - 00:48
0 0

Kuala Lumpur, Malaysia – Pemerintah Malaysia melalui Bank Negara Malaysia (BNM) mengumumkan rencana ambisius untuk menyatukan seluruh sistem pembayaran kode QR di negaranya dalam waktu dua tahun mendatang. Langkah ini sekaligus menghapus model jaringan eksklusif yang selama ini mendominasi lanskap transaksi digital di Negeri Jiran tersebut. Para pengamat menilai, keputusan ini terinspirasi langsung oleh keberhasilan Indonesia dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Malaysia Berbenah Menuju Interoperabilitas Pembayaran

Dalam konferensi pers yang digelar di Menara BNM, Gubernur Bank Negara Malaysia menyatakan bahwa fragmentasi sistem QR saat ini justru menghambat pertumbuhan ekonomi digital. Saat ini, konsumen Malaysia harus mengunduh berbagai aplikasi terpisah – mulai dari GrabPay, Boost, Touch ‘n Go eWallet, hingga Maybank QRPay – hanya untuk bertransaksi di merchant yang berbeda. Kondisi ini dinilai tidak efisien dan memberatkan baik pengguna maupun pelaku usaha kecil.

“Kami ingin menciptakan ekosistem pembayaran yang inklusif dan efisien, seperti yang telah dibuktikan oleh Indonesia dengan QRIS. Dalam dua tahun, kami akan menghapus hambatan eksklusif dan mewujudkan satu standar nasional yang berlaku untuk semua,” ujar Gubernur BNM.

Langkah ini akan dimulai dengan masa transisi pada awal tahun depan, di mana seluruh penyelenggara jasa pembayaran diwajibkan untuk mengadopsi standar teknis yang memungkinkan interoperabilitas penuh. Pemerintah Malaysia menargetkan pada akhir 2028 tidak ada lagi kode QR yang hanya bisa dibaca oleh aplikasi tertentu.

QRIS Jadi Role Model Regional

QRIS yang diluncurkan Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019 telah menjadi tonggak revolusi digital Indonesia. Hingga pertengahan 2026, tercatat lebih dari 28 juta merchant telah terdaftar sebagai pengguna QRIS, dengan volume transaksi harian mencapai puluhan triliun rupiah. Keberhasilan ini tak lepas dari kebijakan tegas BI yang mewajibkan seluruh Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) untuk terhubung dalam satu standar QR nasional.

Keberhasilan Indonesia menarik perhatian banyak negara. Malaysia dan Singapura menjadi dua negara yang terang-terangan meniru model tersebut. Singapura sendiri telah mengembangkan SGQR+ yang mengusung prinsip serupa, meskipun diakui bahwa Indonesia adalah pelopor sejati dalam standarisasi kode QR di kawasan Asia Tenggara.

  • Indonesia mulai QRIS 2019, Malaysia target 2028 interoperabel penuh.
  • Singapura kembangkan SGQR+ tetapi masih dalam skala terbatas.
  • Bank Dunia menyebut QRIS sebagai contoh sukses inovasi pembayaran di negara berkembang.

Dampak Ekonomi dan Potensi Ekspor Teknologi

Keputusan Malaysia ini tidak hanya menjadi bukti keunggulan sistem buatan Indonesia, tetapi juga membuka peluang ekspor teknologi dan konsultasi. Sejumlah perusahaan teknologi finansial (fintech) asal Indonesia dikabarkan telah menjajaki kerja sama dengan bank-bank di Malaysia untuk membantu implementasi standar baru tersebut. “QRIS bukan hanya standar teknis, tapi juga membawa ekosistem digital yang matang,” kata Aditya Nugraha, pengamat fintech dari Universitas Indonesia.

Pakar ekonomi digital dari LIPI juga menilai bahwa keberhasilan Indonesia mendorong negara lain mengadopsi pendekatan serupa menandakan kematangan sektor pembayaran nasional. “Ini momen kebanggaan. Kita yang biasanya mengimpor teknologi, kali ini justru menjadi kiblat. Malaysia bisa belajar dari pengalaman kita dalam mengatasi resistensi awal dari penyedia layanan,” ujarnya.

Tantangan yang Menanti

Meskipun demikian, transformasi ini tidak tanpa tantangan. Beberapa penyedia layanan besar di Malaysia yang selama ini menikmati keuntungan dari ekosistem tertutup diprediksi akan kehilangan keunggulan kompetitif. Pihak Grab Malaysia, misalnya, menyambut baik inisiatif ini namun mengakui perlunya penyesuaian besar dari sisi infrastruktur. Sementara itu, asosiasi pedagang kecil menyambut gembira karena dengan satu kode QR universal, biaya transaksi dapat ditekan hingga 30 persen.

Bank Negara Malaysia berjanji akan memberikan insentif bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mempercepat adopsi, termasuk subsidi mesin EDC yang mendukung standar baru. Harapannya, pada tahun 2029 seluruh lapisan masyarakat Malaysia dapat menikmati kemudahan transaksi digital yang setara dengan Indonesia.

Integrasi Pembayaran Lintas Negara

Tidak hanya di level domestik, keberhasilan QRIS juga membuka jalan bagi kerja sama regional. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura tengah merintis sistem pembayaran QR lintas negara (cross-border QR). Dengan standar yang semakin seragam, wisatawan Indonesia dapat bertransaksi di Kuala Lumpur atau Singapura hanya dengan memindai kode QR di ponsel mereka. “Ini langkah awal menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sesungguhnya. Inovasi Indonesia telah membuka mata negara tetangga bahwa solusi lokal bisa menjadi solusi global,” tutup Gubernur Bank Indonesia dalam acara fintech festival tahun lalu.

Dengan langkah ini, teknologi kebanggaan Indonesia semakin menunjukkan taringnya di panggung internasional.

[SOCIAL_TWEET]: Malaysia resmi ikuti jejak sukses QRIS Indonesia. Dalam dua tahun, semua jaringan QR eksklusif akan dihapus demi transaksi lebih cepat dan murah. Bukti teknologi RI mendunia! #QRIS #Fintech #Malaysia[SOCIAL_TG]: 🚀 Malaysia ikuti jejak QRIS Indonesia! Dalam 2 tahun, semua QR eksklusif bakal dihapus. Teknologi kita mendunia! 🇮🇩🌏

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User