Longsor Sampah Conakry Tewaskan 30 Orang, AS Deportasi 20 Warga ke Liberia
CONAKRY, GUINEA — Dua peristiwa besar mewarnai kawasan Afrika Barat dalam pekan terakhir Agustus 2026. Pemerintah Guinea mengonfirmasi bahwa tanah longsor
CONAKRY, GUINEA — Dua peristiwa besar mewarnai kawasan Afrika Barat dalam pekan terakhir Agustus 2026. Pemerintah Guinea mengonfirmasi bahwa tanah longsor di lokasi pembuangan sampah raksasa di ibu kota Conakry telah menewaskan 30 orang, sementara di Liberia, pesawat yang membawa 20 warga yang dideportasi dari Amerika Serikat mendarat di Bandara Internasional Roberts, Monrovia, pada Kamis (20/8).
Kedua peristiwa itu menyoroti dua persoalan krusial yang tengah dihadapi negara-negara Afrika Barat: bencana lingkungan akibat infrastruktur kota yang rapuh, serta dampak kebijakan imigrasi keras pemerintahan Presiden Donald Trump yang kembali menjabat sejak tahun lalu.
Kronologi Tanah Longsor di Tempat Pembuangan Sampah Conakry
Tanah longsor terjadi di sebuah tempat pembuangan sampah berukuran sangat besar di Conakry, ibu kota Guinea, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut semalaman. Longsoran sampah yang runtuh kemudian menimbun tenda-tenda dan gubuk-gubuk liar yang berdiri di sekitar lokasi pembuangan, yang selama ini dihuni warga kurang mampu.
Pemerintah Guinea melalui pernyataan resminya pada Minggu (23/8) mengumumkan bahwa korban jiwa telah mencapai 30 orang. Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian di lokasi kejadian dengan harapan masih ada korban yang dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Berikut urutan kronologi kejadian yang berhasil dihimpun:
- Sabtu malam (22/8): Hujan deras mengguyur wilayah Conakry selama berjam-jam, memicu ketidakstabilan struktur tumpukan sampah raksasa di lokasi pembuangan.
- Minggu dini hari (23/8): Tumpukan sampah runtuh dan longsor menimpa tenda serta gubuk warga yang bermukim di sekitar lokasi, menimbun puluhan orang.
- Minggu siang: Pemerintah Guinea mengumumkan korban tewas mencapai 30 orang dan mengerahkan tim penyelamat untuk mencari korban lainnya.
- Kurang dari sepekan sebelumnya: Pemerintah mengumumkan rencana penutupan lokasi pembuangan dan pemindahan sampah karena ancaman yang ditimbulkannya, terutama saat musim hujan.
Insiden ini terjadi kurang dari sepekan setelah pemerintah Guinea mengumumkan rencana menutup lokasi tersebut dan memindahkan tumpukan sampah karena dianggap membahayakan. Musim hujan di Afrika Barat memang dikenal memicu longsor dan banjir bandang mematikan setiap tahunnya di kota-kota padat yang infrastrukturnya belum berkembang.
Keberadaan permukiman liar di sekitar lokasi pembuangan sampah bukanlah hal baru di Conakry. Banyak warga miskin memilih tinggal di dekat tumpukan sampah karena lahan di sana gratis dan menjadi sumber penghasilan dari kegiatan memulung. Kondisi inilah yang membuat setiap musim hujan menjadi ancaman mematikan bagi ribuan keluarga di permukiman padat tanpa drainase memadai.
AS Deportasi 20 Warga ke Liberia, Awal dari Ribuan Lainnya
Di sisi lain, 20 orang yang dideportasi dari Amerika Serikat tiba di Liberia pada Kamis (20/8). Kedatangan mereka merupakan bagian dari kesepakatan baru yang memungkinkan Liberia menerima hingga 1.200 orang dalam bingkai kebijakan keras imigrasi pemerintahan Trump.
Kelompok pertama ini mendarat di Bandara Internasional Roberts di luar ibu kota Monrovia. Kesepakatan Liberia-AS disebut sebagai salah satu skema deportasi ke negara ketiga terbesar yang dijalankan pemerintahan Trump sejak kembali berkuasa tahun lalu.
Berikut rangkaian peristiwa terkait deportasi tersebut:
- Kamis (20/8): Pesawat membawa 20 deportee mendarat di Bandara Internasional Roberts, Monrovia.
- Tahun 2025: Trump kembali menjabat sebagai presiden dan langsung menggencarkan kebijakan penindakan imigrasi, termasuk negosiasi kesepakatan deportasi ke negara ketiga.
- Kesepakatan baru: Liberia sepakat menerima hingga 1.200 warga yang dideportasi dari AS, menjadikannya salah satu perjanjian terbesar jenisnya.
Menurut laporan media internasional, kesepakatan ini merupakan bagian dari kampanye deportasi besar-besaran yang digencarkan pemerintahan Trump. Sejak kembali berkuasa, Washington telah meneken sejumlah perjanjian serupa dengan beberapa negara, dengan Liberia menjadi salah satu negara penerima terbesar di Afrika.
Kebijakan deportasi ini menuai beragam respons. Di satu sisi, pemerintahan Trump menyebutnya sebagai penegakan hukum imigrasi yang konsisten. Namun, kelompok pegiat hak asasi manusia mengkhawatirkan dampak sosial bagi para deportee yang sering kali telah lama menetap dan membangun kehidupan di Amerika Serikat.
"Kesepakatan ini adalah salah satu skema deportasi ke negara ketiga terbesar yang dijalankan pemerintahan Trump sejak ia kembali menjabat," demikian laporan media internasional.
Dua Wajah Afrika Barat di Tengah Musim Hujan
Kedua peristiwa itu menunjukkan betapa rentannya kawasan Afrika Barat terhadap persoalan kemanusiaan. Di Guinea, bencana longsor sampah menegaskan pentingnya pengelolaan infrastruktur perkotaan yang aman. Sementara di Liberia, gelombang deportasi massal dari AS membawa tantangan baru berupa penyerapan kembali warga yang dipulangkan ke tanah airnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat di Conakry masih bekerja mencari korban, sementara pemerintah Liberia bersiap menerima gelombang deportasi berikutnya. Kedua persoalan ini akan terus menjadi sorotan masyarakat internasional.
[SOCIAL_TWEET]: Longsor sampah di Conakry, Guinea tewaskan 30 orang! 🚨 Sementara itu, AS deportasi 20 warga ke Liberia — awal dari 1.200 orang di bawah kebijakan imigrasi Trump. #LongsorConakry #DeportasiAS #BeritaTercepat[SOCIAL_TG]: BREAKING — Longsor sampah di Conakry tewaskan 30 orang; AS deportasi 20 warga ke Liberia dari total 1.200. Dua peristiwa besar dari Afrika Barat dalam sepekan. Baca selengkapnya di Beritatercepat.com.
Comments (0)