Sep 19, 2026
Hukum

LONDRES — Julian Assange Mengalami Stroke Ringan di Penjara Belmarsh

LONDRES — Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, dilaporkan mengalami serangan stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA) saat mendekam di Penjara Belm

LONDRES — Julian Assange Mengalami Stroke Ringan di Penjara Belmarsh

LONDRES — Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, dilaporkan mengalami serangan stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA) saat mendekam di Penjara Belmarsh, Inggris. Insiden medis yang mengkhawatirkan tersebut diungkapkan langsung oleh tunangannya, Stella Moris, yang menegaskan bahwa kondisi darurat tersebut dipicu oleh tingkat stres berat akibat perjuangan hukum melawan proses ekstradisi ke Amerika Serikat yang tak kunjung usai.

Moris mengungkapkan bahwa Assange didiagnosis mengalami TIA tak lama setelah menghadiri persidangan banding Pengadilan Tinggi London melalui sambungan video (video link) pada 27 Oktober lalu. Gejala medis tersebut muncul secara mendadak di tengah tekanan psikologis intens yang terus membayangi pria berusia 50 tahun itu selama masa penahanannya di penjara berkeamanan maksimum tersebut.

Kondisi Kesehatan Julian Assange Memburuk Secara Signifikan

Transient Ischemic Attack (TIA) merupakan gangguan fungsi otak sementara yang disebabkan oleh terhentinya aliran darah ke otak secara mendadak. Meski dampaknya bersifat sementara, tim medis memperingatkan bahwa TIA adalah sinyal bahaya serius yang menandakan risiko tinggi terjadinya serangan stroke berat yang mematikan di masa mendatang jika tidak mendapat penanganan medis yang memadai.

Setelah mengalami serangan tersebut, Assange langsung menjalani pemeriksaan intensif berupa pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk menilai tingkat kerusakan pada jaringan otaknya. Saat ini, aktivis asal Australia tersebut dilaporkan harus mengonsumsi obat-obatan anti-stroke secara rutin guna mencegah serangan susulan yang dapat berakibat fatal.

"Julian mengalami stroke ringan pada hari pertama persidangan banding Pengadilan Tinggi pada 27 Oktober. Dia benar-benar harus dibebaskan sekarang juga dari penderitaan dan tekanan yang tidak manusiawi ini," tegas Stella Moris melalui pernyataan resminya.

Tekanan Psikologis dan Rekam Medis di Penjara Belmarsh

Kondisi Penjara Belmarsh yang menerapkan sistem pengamanan ketat disinyalir memperparah tingkat stres mental dan fisik Assange. Sejumlah pakar kesehatan internasional dan pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa isolasi berkepanjangan dan ketidakpastian hukum dapat merusak kesehatan fisik maupun mental Assange secara permanen.

Berikut adalah poin-poin kunci terkait kondisi medis terbaru Julian Assange di tahanan:

  • Diagnosis Medis: Menderita Transient Ischemic Attack (TIA) saat mengikuti proses persidangan pada 27 Oktober.
  • Pemeriksaan Otak: Telah menjalani pemindaian MRI untuk memantau kondisi pembuluh darah dan jaringan otak.
  • Terapi Pengobatan: Diwajibkan mengonsumsi rejimen obat anti-stroke dan pengencer darah secara ketat setiap hari.
  • Pemicu Utama: Tekanan mental ekstrem akibat ancaman ekstradisi ke AS serta kondisi penahanan yang ketat.

Ancaman Hukuman di AS dan Gelombang Desakan Internasional

Pemerintah Amerika Serikat berupaya memulangkan Assange untuk mengadili dirinya atas 18 dakwaan pidana, yang sebagian besar berkaitan dengan Undang-Undang Spionase. Dakwaan tersebut dipicu oleh langkah WikiLeaks memublikasikan ribuan dokumen rahasia militer dan kabel diplomatik AS terkait perang di Irak dan Afghanistan pada tahun 2010 silam. Jika terbukti bersalah di pengadilan AS, Assange berpotensi dijatuhi hukuman penjara hingga 175 tahun.

Keluarga, tim pengacara, serta kelompok pendukung kebebasan pers di seluruh dunia kini meningkatkan tekanan kepada pihak berwenang Inggris. Mereka meminta agar hakim membatalkan proses ekstradisi demi alasan kemanusiaan, mengingat risiko fatal yang mengintai kesehatan jiwa dan raga Assange jika proses persidangan maraton ini terus dipaksakan.

Kasus ini terus menarik perhatian luas publik global karena dianggap sebagai preseden berbahaya bagi kebebasan pers internasional. Penahanan berkepanjangan tanpa kejelasan status hukum dinilai banyak pihak sebagai tindakan yang melanggar hak asasi manusia, terutama ketika kondisi fisik sang aktivis kini berada dalam titik mengkhawatirkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User