LONDON — Di tengah memuncaknya ketegangan geopolitik dan ancaman krisis iklim yang kian nyata, jaring pengaman bagi kelompok masyarakat paling rentan di dunia justru mengalami keretakan parah. Laporan komprehensif terbaru dari Active Learning Network for Accountability and Performance (ALNAP) bertajuk The State of the Humanitarian System 2026 mengungkapkan realita pahit: puluhan juta jiwa kini terpaksa bertahan hidup dengan bantuan kemanusiaan yang jauh berkurang akibat pemangkasan anggaran secara masif dari negara-negara donor utama.
Penilaian ALNAP terhadap dinamika kemanusiaan internasional sepanjang periode 2022 hingga 2025 mencatat rekor kelam. Ini menjadi fase dengan penyusutan pendanaan kemanusiaan terbesar dalam sejarah baru-baru ini. Ironisnya, penurunan drastis dana bantuan ini terjadi persis ketika eskalasi peperangan yang melibatkan aktor negara, bencana iklim yang tak menentu, serta gelombang pengungsian paksa mencapai puncaknya.
Krisis Pendanaan Terbesar dan Pergeseran Geopolitik
Kebijakan pengetatan anggaran di sejumlah negara pendonor utama menjadi pemicu utama merosotnya pasokan dana bagi lembaga-lembaga kemanusiaan internasional. Ketika biaya pemulihan bencana dan respons krisis membengkak, dana yang disalurkan justru menyusut tajam. Dampaknya merembet langsung ke lapangan, di mana penyaluran makanan, obat-obatan, hingga tempat bernaung darurat terhenti secara mendadak di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data yang dihimpun dalam laporan tersebut, ketegangan dunia membuat stabilitas masyarakat rentan kian terancam. Berikut adalah ringkasan indikator utama krisis kemanusiaan global hingga akhir periode evaluasi:
| Indikator Kemanusiaan | Statistik Kunci |
|---|---|
| Total Warga Terdampak Konflik | 1 dari 7 Orang di Dunia |
| Total Populasi Pengungsi Global | 117,8 Juta Jiwa |
| Jumlah Pengungsi Lintas Negara | 41,6 Juta Jiwa |
| Penyebab Utama Pengungsian Internal | Konflik Berbasis Negara (Menggeser Bencana Alam) |
Konflik Menggantikan Bencana Alam sebagai Pemicu Utama
Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan ALNAP adalah pergeseran pola pemicu pengungsian. Selama bertahun-tahun, bencana alam kerap menjadi faktor dominan yang memaksa warga meninggalkan rumah mereka. Namun, sepanjang periode 2022–2025, kekerasan berbasis negara dan perang antarwilayah mengambil alih posisi tersebut sebagai penyebab utama pengungsian di dalam negeri.
Hingga penghujung tahun 2025, tercatat sebanyak 117,8 juta orang terpaksa mengungsi di seluruh dunia, angka yang mencakup 41,6 juta pengungsi yang melintasi batas negara. Angka ini menandaskan bahwa sistem kemanusiaan global berada di ambang kolaps jika tidak segera ada intervensi politik dan keuangan yang nyata.
"Pemangkasan anggaran bantuan di saat kebutuhan global berada di titik tertinggi adalah bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan. Jutaan orang kini ditinggalkan tanpa akses makanan dasar dan layanan medis," tegas peneliti ALNAP dalam ulasan laporan tersebut.
Ancaman Nyata bagi Pekerja Kemanusiaan di Lapangan
Tidak hanya penerima manfaat yang menanggung penderitaan berat, para pekerja kemanusiaan di garis depan juga menghadapi risiko keselamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan ALNAP menggarisbawahi peningkatan serangan fisik, penculikan, hingga pembunuhan terhadap personel bantuan medis dan logistik di kawasan konflik.
Kondisi ini menciptakan dilema ganda: di satu sisi anggaran bantuan terus dipangkas oleh donor internasional, sementara di sisi lain akses dan keamanan operasi semakin berbahaya. Jika tren penarikan dana ini terus berlanjut tanpa adanya komitmen baru dari pemimpin dunia, puluhan juta jiwa lainnya terancam kehilangan jaring pengaman paling mendasar dalam kehidupan mereka.
Comments (0)