Lapas Narkotika Sungguminasa Panen Kangkung, Wujud Sukses Pembinaan Warga Binaan

SUNGGUMINASA — Tangan-tangan warga binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa bergerak cepat menyusuri jalur sempit yang biasanya hanya dilalui petugas

Jul 08, 2026 - 07:14
0 0

SUNGGUMINASA — Tangan-tangan warga binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa bergerak cepat menyusuri jalur sempit yang biasanya hanya dilalui petugas keamanan. Di bawah terik matahari Selasa (7/7), mereka menuai hasil kerja keras: panen kangkung perdana dari lahan brandgang yang kini disulap menjadi kebun produktif. Ini adalah breakthrough pembinaan yang mengejutkan: dari tanah terbatas, panen menjanjikan.

Dipimpin langsung Kalapas Gunawan bersama Kasi Kegiatan Kerja Ardhi Mahardika, panen ini bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah puncak dari minggu-minggu penantian, penyiraman, dan pemupukan yang dilakukan warga binaan di sela rutinitas pembinaan. Hasilnya: kangkung hijau segar siap masuk pasar dan mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional.

Brandgang Jadi SAE: Menyulap Lahan Sempit Jadi Mesin Edukasi

Awalnya hanya koridor pengamanan. Kini, brandgang — lahan di antara tembok lapas — bertransformasi menjadi Sarjana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Inovasi ini memaksa kreativitas dalam keterbatasan: lahan sempit tidak pernah jadi alasan untuk tidak produktif.

Program SAE di Lapas Narkotika Sungguminasa dirancang sebagai ruang belajar mandiri bagi warga binaan. Mereka tidak hanya menanam, tapi juga mempelajari siklus hidup tanaman, pengelolaan hama sederhana, hingga teknik panen yang tepat. Semua ini berlangsung di bawah supervisi petugas, namun eksekusi sepenuhnya diserahkan kepada warga binaan — membangun rasa memiliki dan tanggung jawab yang selama ini mungkin terkikis.

“Mereka semakin disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki semangat untuk belajar serta berkarya,” kata Gunawan, diamini para pendamping yang melihat perubahan etos kerja para peserta program.

Panen Berdaya Jual: Ekonomi Sirkular di Balik Jeruji

Kangkung yang dipanen tidak berakhir di dapur lapas. Hasil panen akan dipasarkan secara lokal, membalikkan logika lama bahwa narapidana hanya menjadi beban. Justru, dari tangan mereka lahir produk bernilai ekonomi yang menghidupi program itu sendiri. Uang hasil penjualan nantinya diputar kembali untuk membeli benih, pupuk, atau peralatan pendukung — menciptakan siklus pembinaan yang mandiri dan berkelanjutan.

Ini adalah model closed-loop economy mikro yang jarang terdengar dari lembaga pemasyarakatan. Lapas Narkotika Sungguminasa membuktikan bahwa pembinaan berbasis keterampilan bisa berjalan tanpa tergantung sepenuhnya pada anggaran negara. Lebih dari itu, warga binaan belajar bahwa bekerja tidak melulu soal upah — tapi juga tentang harga diri yang tumbuh setiap kali mereka melihat hasil keringat sendiri dihargai di pasar.

Dari Brandgang ke Jalan Pulang

Di balik sayur segar yang mereka petik, ada harapan yang lebih besar. Warga binaan tidak sekadar diajari cara bertani; mereka dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dengan keterampilan nyata dan mental yang lebih kokoh. Ketika masa tahanan usai, stigma seringkali masih membuntuti. Dengan kemampuan bercocok tanam dan pengalaman mengelola lahan sempit menjadi produktif, peluang ekonomi bagi mereka pascabebas menjadi lebih terbuka — entah sebagai petani mandiri, pekerja kebun, atau bahkan pengusaha kecil.

“Melalui pemanfaatan brandgang sebagai Sarana Asimilasi dan Edukasi, warga binaan tidak hanya menghasilkan sayuran yang mendukung program ketahanan pangan, tetapi juga membangun karakter, keterampilan, dan rasa percaya diri sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat. Inilah tujuan utama pembinaan, yaitu menghadirkan perubahan yang nyata dan positif,” ujar Gunawan.

Pernyataan itu bukan retorika. Di kebun mungil itu, terlihat bagaimana warga binaan saling membantu, berbagi tugas, dan merayakan hasil panen kecil dengan tawa. Suasana kebun menciptakan jeda dari kerasnya kehidupan lapas — sebuah ruang hijau yang mengembalikan kemanusiaan. Bahkan, beberapa di antara mereka mulai bereksperimen dengan tanaman lain, menunjukkan rasa ingin tahu yang tumbuh seiring daun-daun kangkung yang dipetik.

Lapas Narkotika Sungguminasa kini menjadi contoh bahwa pembinaan hakiki tidak harus menunggu lahan luas atau dana besar. Dengan mengoptimalkan setiap jengkal tanah yang ada dan menanamkan kepercayaan kepada warga binaan, hasilnya bisa berlipat ganda: panen sayur, dan panen manusia baru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User