Kualitas Udara Tangsel Sangat Tidak Sehat, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar

BERITATERCEPAT.COM, TANGERANG SELATAN — Kualitas udara di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel) pada Selasa pagi (13/5/2024) tercatat berada pada level sanga

Jul 14, 2026 - 19:44
0 0
Kualitas Udara Tangsel Sangat Tidak Sehat, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar

BERITATERCEPAT.COM, TANGERANG SELATAN — Kualitas udara di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel) pada Selasa pagi (13/5/2024) tercatat berada pada level sangat tidak sehat dengan indeks AQI mencapai 204, berdasarkan data pemantauan situs IQAir per pukul 07.25 WIB. Kondisi ini menempatkan Tangsel sebagai salah satu wilayah dengan polusi udara paling buruk di Indonesia pada jam tersebut.

Berdasarkan standar Air Quality Index (AQI), nilai 201–300 masuk dalam kategori sangat tidak sehat (very unhealthy). Pada level ini, risiko kesehatan meningkat bagi seluruh populasi, tidak hanya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Konsentrasi partikel halus PM2.5—polutan utama di udara Tangsel—tercatat sebesar 113,9 µg/m³, atau 22,8 kali lipat di atas nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang hanya 5 µg/m³.

Lonjakan Polusi di Jam Sibuk Pagi Hari

Data historis menunjukkan bahwa kualitas udara di kawasan Jabodetabek kerap memburuk pada pagi hari, terutama di jam berangkat kerja dan sekolah. Kepadatan lalu lintas, emisi kendaraan bermotor, serta minimnya dispersi udara akibat lapisan inversi termal di atmosfer menjadi faktor utama. Selain itu, kontribusi dari sumber tidak bergerak seperti pabrik dan pembakaran sampah di sekitar Tangsel turut memperparah situasi.

“Pada pagi hari, lapisan udara dekat permukaan cenderung stabil dan tidak banyak bergerak. Polutan yang dilepaskan dari knalpot kendaraan terperangkap di dekat permukaan tanah, sehingga konsentrasinya langsung tinggi saat jam sibuk,” jelas Dr. Andi Setiawan, pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, melalui sambungan telepon.

“Kondisi sangat tidak sehat seperti ini berbahaya bagi siapa saja. Jika Anda memiliki riwayat asma, penyakit jantung, atau paru-paru kronis, sebaiknya benar-benar menghindari aktivitas di luar ruangan. Bahkan orang sehat pun bisa mengalami iritasi saluran napas. Gunakan masker N95 atau KF94 jika terpaksa keluar rumah, dan pastikan memakai dengan benar.”

Rekomendasi untuk Warga Tangsel dan Sekitarnya

Menghadapi polusi udara yang ekstrem, ada beberapa langkah perlindungan yang dapat diterapkan masyarakat:

  • Hindari olahraga luar ruangan. Berlari, bersepeda, atau berjalan kaki di luar saat AQI di atas 200 sangat tidak disarankan karena napas lebih dalam akan menghirup lebih banyak polutan.
  • Gunakan masker respirator. Masker bedah biasa tidak cukup menyaring PM2.5. Pilih masker tipe N95, KN95, atau KF94 yang mampu menyaring minimal 95% partikel halus.
  • Tutup jendela rumah. Cegah udara luar masuk dengan rapat. Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara (air purifier) dengan filter HEPA di dalam ruangan.
  • Pantau AQI secara berkala. Gunakan aplikasi seperti IQAir AirVisual, Nafas, atau website BMKG-ISP untuk memantau kualitas udara sebelum beraktivitas.
  • Kurangi penggunaan kendaraan pribadi. Beralih ke transportasi umum, bersepeda di rute yang minim polusi, atau bekerja dari rumah jika memungkinkan.

Beberapa sekolah di Tangsel yang menerapkan kegiatan olahraga pagi di lapangan terbuka diimbau untuk memindahkan aktivitas tersebut ke dalam ruangan atau menunda hingga kualitas udara membaik. Pihak Dinas Kesehatan Kota Tangsel juga diharapkan segera mengeluarkan imbauan resmi dan menyediakan posko kesehatan bagi warga yang mengalami keluhan pernapasan.

Dampak Jangka Pendek dan Panjang

Paparan akut terhadap udara sangat tidak sehat dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, batuk, sesak napas, dan memperburuk asma. Sedangkan paparan kronis dalam jangka panjang—tiga hingga enam bulan terus-menerus—berhubungan dengan penurunan fungsi paru, peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan bawah, penyakit kardiovaskular, bahkan kanker paru. WHO bahkan mengkategorikan polusi udara sebagai karsinogen Grup 1 untuk manusia.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel pada tahun sebelumnya, sumber utama polusi di wilayah ini berasal dari sektor transportasi darat (65%), industri (20%), dan domestik/pembakaran sampah (15%). Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemkot Tangsel mengenai langkah darurat penanganan polusi hari ini.

BERITATERCEPAT.COM akan terus memantau perkembangan kualitas udara di Jabodetabek dan memberikan informasi terkini. Tetap jaga kesehatan dan batasi aktivitas di luar ruangan selama level AQI belum turun ke level ‘sedang’ (0–100).

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User