Krisis Air Bersih di Tangsel: 162 Keluarga Keranggan Terdampak

KRISIS AIR BERSIH menerjang Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan 162 kepala keluarga (KK)...

Jul 28, 2026 - 02:22
0 1
Krisis Air Bersih di Tangsel: 162 Keluarga Keranggan Terdampak

KRISIS AIR BERSIH menerjang Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan 162 kepala keluarga (KK) kini menggantungkan hidup pada pasokan darurat karena sumber air lokal benar-benar kering.

Kondisi ini dipicu kemarau panjang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa hujan signifikan. Sumur-sumur dangkal yang menjadi andalan warga tak lagi mengeluarkan air. Sebagian besar warga bahkan harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa ember air bersih yang diantar armada tangki.

Distribusi Darurat dan Respons Cepat

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangsel, melalui keterangan resminya, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengerahkan seluruh armada tangki air ke lokasi terdampak. Distribusi dilakukan dua kali dalam seminggu dengan prioritas pada keluarga yang memiliki bayi, lansia, dan warga berkebutuhan khusus.

  • 162 KK di Kelurahan Keranggan masuk kategori darurat air.
  • Distribusi menggunakan 3 unit tangki berkapasitas 5.000 liter per unit.
  • Setiap KK menerima rata-rata 70–100 liter air bersih per pekan.
  • Posko siaga bencana dibuka di Kantor Kelurahan Keranggan untuk pengaduan dan permintaan bantuan.

Selain tangki milik BPBD, sejumlah perusahaan swasta dan organisasi kemanusiaan mulai menyalurkan bantuan serupa. Namun, jumlah tersebut dinilai masih jauh dari cukup. Seorang warga, Suryanti (45), mengaku sudah dua pekan terakhir tidak bisa mandi atau mencuci dengan air sumur. "Saya harus membeli air dari penjual keliling seharga Rp50.000 per 30 liter. Kalau tidak ada uang, terpaksa pakai air bekas cucian beras untuk mandi," keluhnya.

Penyebab dan Dampak Luas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di wilayah Tangsel dan sekitarnya anjlok hingga 80 persen di bawah normal sepanjang musim kemarau tahun ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Keranggan. Beberapa titik di Kecamatan Pamulang dan Ciputat juga mulai melaporkan gejala kekeringan, meski belum separah di wilayah selatan Tangsel tersebut.

Kekeringan ini disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam lima tahun terakhir. Selain menyulitkan akses air bersih, kondisi ini juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan penurunan kualitas udara akibat debu. Dinas Kesehatan setempat mengimbau warga untuk mewaspadai penyakit kulit dan diare yang kerap muncul saat krisis air bersih.

Solusi Jangka Panjang

Pemerintah Kota Tangsel, melalui PDAM Tirta Kerta Raharja, berencana mempercepat penyambungan jaringan pipa ke wilayah Keranggan yang selama ini belum terjangkau layanan air perpipaan. Proyek ini ditargetkan rampung sebelum puncak musim kemarau tahun depan. Sementara itu, BPBD akan menambah stok tandon air bersih di setiap RW untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan.

"Kami berharap warga tetap tenang dan menghemat air seefisien mungkin. Jangan panik, tetapi laporkan segera jika pasokan tidak sampai," ujar seorang petugas BPBD. Masyarakat bisa menghubungi nomor darurat 112 atau mendatangi posko terdekat untuk mendapatkan bantuan. BMKG memprediksi musim hujan baru akan tiba pada awal November, sehingga krisis ini diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya satu bulan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User