Sep 17, 2026
Nusa Tenggara Timur

Korban Tewas Gempa Flores Capai 142 Jiwa, Mayoritas di Pengungsian

JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data korban bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang

Korban Tewas Gempa Flores Capai 142 Jiwa, Mayoritas di Pengungsian

JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data korban bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan data termutakhir, total korban jiwa telah menembus 142 orang, dengan fakta mengejutkan bahwa mayoritas di antaranya meninggal dunia saat berada di lokasi penampungan sementara.

BNPB mencatat sedikitnya 94 orang meninggal dunia di pengungsian akibat dampak tidak langsung pascabencana yang terjadi sejak 15 Agustus 2026 tersebut. Kondisi kesehatan yang memburuk, keterbatasan fasilitas medis lapangan, serta paparan cuaca ekstrem menjadi faktor pemicu utama melonjaknya angka kematian di tenda-tenda darurat.

Kronologi dan Eskalasi Dampak Gempa Flores

Eskalasi jumlah korban terus dipantau oleh tim gabungan sejak guncangan utama merobohkan ribuan infrastruktur warga. Berikut merupakan lini masa perkembangan situasi tanggap darurat di Flores:

  1. 15 Agustus 2026 (Hari Pertama): Gempa dangkal berkekuatan M7,7 melanda Flores dan memicu kepanikan massal. Sebanyak 48 orang dilaporkan meninggal seketika akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara puluhan ribu warga dievakuasi ke dataran tinggi dan posko darurat.
  2. 17–20 Agustus 2026 (Fase Kritis Awal): Gelombang pengungsian memadati titik-titik kumpul. Keterbatasan air bersih, sanitasi buruk, serta minimnya selimut mulai memicu penyebaran penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare, terutama pada kelompok rentan.
  3. 21 Agustus 2026 hingga Kini: Angka kematian di posko pengungsian melonjak signifikan hingga mencapai 94 jiwa, mayoritas merupakan lansia, balita, dan warga dengan penyakit penyerta (komorbid) yang terlambat mendapat rujukan medis.
"Sebagian besar korban yang wafat di pengungsian mengalami dehidrasi berat, hipotermia, serta komplikasi penyakit kronis. Keterisolasian beberapa titik pengungsian akibat jalur logistik yang terputus longsor menjadi tantangan terbesar evakuasi medis," ujar juru bicara penanganan darurat BNPB dalam konferensi pers.

Faktor Kritis di Lokasi Penampungan

Penyelidikan medis lapangan menunjukkan bahwa dampak sekunder bencana alam sering kali lebih mematikan apabila tata kelola posko pengungsian terhambat. Beberapa kendala vital yang saat ini dihadapi para penyintas di Flores meliputi:

  • Kepadatan Tenda Darurat: Kapasitas tenda yang melebihi batas mempercepat transmisi penyakit menular di antara para pengungsi.
  • Krisis Air Bersih dan Sanitasi (WASH): Rusaknya instalasi perpipaan lokal memaksa pengungsi menggunakan sumber air terbatas yang rawan kontaminasi.
  • Distribusi Obat-obatan Terhambat: Kerusakan jalan utama dan jembatan antarwilayah memperlambat pasokan cairan infus, antibiotik, dan oksigen portabel ke pelosok.

Akselerasi Bantuan Medis dan Penanganan Darurat

Guna menekan angka mortalitas di penampungan, pemerintah pusat bersama TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan mempercepat mobilisasi rumah sakit lapangan serta helikopter medis darurat. Fokus utama saat ini dialihkan pada skrining kesehatan berkala bagi kelompok rentan serta pemindahan warga dari tenda darurat ke fasilitas hunian sementara yang lebih layak dan higienis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User