Kepala BPOM RI Paparkan Konsep Neuroleadership di STIK Lemdiklat Polri

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, membagikan wawasan berharga tentang neuroleadership kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lembaga Pendidikan dan Latih

Jul 08, 2026 - 08:53
0 0
Kepala BPOM RI Paparkan Konsep Neuroleadership di STIK Lemdiklat Polri

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, membagikan wawasan berharga tentang neuroleadership kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lembaga Pendidikan dan Latihan (Lemdiklat) Polri. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa menjadi pemimpin masa depan di era digital tidak cukup hanya bermodalkan jabatan dan pengalaman semata. Para calon pemimpin wajib memahami cara otak bekerja agar mampu mengelola emosi, mengambil keputusan tepat, dan membangun kolaborasi yang efektif.

Apa Itu Neuroleadership?

Neuroleadership merupakan pendekatan kepemimpinan modern yang memanfaatkan ilmu saraf (neuroscience) untuk memahami bagaimana otak manusia berfungsi dalam konteks memimpin. Dengan memahami mekanisme otak, seorang pemimpin dapat mengoptimalkan potensi kognitifnya, mengelola stres, meningkatkan fokus, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan tim. Konsep ini menjadi semakin relevan di tengah kompleksitas tantangan era digital yang menuntut pengambilan keputusan cepat dan adaptif.

Dalam sesi tersebut, Taruna Ikrar memaparkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberi arahan, melainkan juga tentang membangun kesadaran diri. Neuroleadership membantu pemimpin mengenali bias kognitif, pola pikir, dan respons emosional yang seringkali tidak disadari namun memengaruhi kualitas keputusan.

"Transformasi kepemimpinan harus dimulai dari transformasi diri. Seorang pemimpin yang mampu mengelola pikirannya akan mampu membawa perubahan bagi bangsa," ujar Taruna dalam keterangan yang diterima media kami, Senin (6/7/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa pondasi kepemimpinan yang kuat dimulai dari dalam diri sendiri. Ketika seorang pemimpin memahami cara kerja otaknya, ia akan lebih mudah mengendalikan reaksi terhadap tekanan, memotivasi tim dengan lebih efektif, dan menciptakan lingkungan kerja yang inovatif. Hal ini sejalan dengan kebutuhan institusi seperti Polri yang terus bertransformasi menghadapi perubahan zaman.

Lebih lanjut, Taruna menjelaskan bahwa neuroleadership juga mengajarkan pentingnya "neuroplastisitas", yaitu kemampuan otak untuk terus beradaptasi dan membentuk koneksi baru. Bagi para mahasiswa STIK Lemdiklat Polri, pemahaman ini menjadi bekal berharga karena mereka akan menghadapi dinamika tugas yang kompleks di lapangan.

Dengan pendekatan ini, para pemimpin masa depan diharapkan tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan kognitif yang terasah. Mereka akan lebih siap menghadapi situasi krisis, mengelola konflik, dan mengambil keputusan strategis berbasis data serta pemahaman mendalam tentang perilaku manusia.

Kuliah tamu yang disampaikan oleh Kepala BPOM RI ini merupakan bagian dari upaya lembaga untuk memperkuat kompetensi kepemimpinan berbasis sains di kalangan aparat penegak hukum. Diharapkan, integrasi neuroleadership dalam kurikulum pendidikan kepolisian dapat mencetak pemimpin-pemimpin tangguh yang mampu membawa perubahan positif bagi institusi dan masyarakat.

Informasi selengkapnya mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui laporan Beritatercepat.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tasya-kamila

Reporter Teknologi. Reporter teknologi terkini dan rilis produk.

Comments (0)

User