Kemarau Bongkar Kampung Tenggelam di Bendungan Karian, Warga Berdatangan
BARU SAJA: Sisa permukiman yang lama terkubur air Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, tiba-tiba mencuat ke permukaan saat musim kering melanda.Fenomena ini langsung memicu gelombang nostalgia warga yan...
BARU SAJA: Sisa permukiman yang lama terkubur air Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, tiba-tiba mencuat ke permukaan saat musim kering melanda.
Fenomena ini langsung memicu gelombang nostalgia warga yang dulu menghuni kampung tersebut sebelum proyek bendungan selesai. Reruntuhan fondasi rumah, bekas jalan kampung, dan sisa bangunan sekolah terlihat jelas dari tepian waduk yang menyusut drastis.
Fakta Kunci
- Lokasi: Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten.
- Pemicu: Kemarau ekstrem yang menurunkan volume air bendungan hingga titik terendah dalam lima tahun terakhir.
- Dampak: Bekas kampung yang tenggelam sejak 2019 kembali tersingkap hampir sepenuhnya.
- Reaksi: Ratusan mantan penghuni dan warga sekitar berbondong-bondong menyambangi lokasi untuk bernostalgia dan mengabadikan momen langka.
Menurut keterangan saksi mata, permukaan air Bendungan Karian susut sekitar 12 meter dari batas normal. Surutnya air menyingkap jejak perkampungan yang dulu menjadi rumah bagi setidaknya 350 kepala keluarga. Warga melihat puing-puing bangunan bercampur lumpur kering, serta tiang-tiang tua yang masih berdiri kokoh meski terendam bertahun-tahun.
“Ini seperti kembali ke masa lalu. Saya bisa melihat bekas rumah saya di sana,” ujar seorang mantan penghuni yang ditemui di lokasi. Banyak pengunjung membawa kamera dan ponsel untuk merekam pemandangan langka tersebut.
Kronologi Kemunculan
08:45 WIB — Warga yang melintas di sekitar bendungan pertama kali melaporkan adanya benda asing muncul dari air. Beberapa bilang itu sekadar batu besar, namun setelah diperhatikan ada bentuk ruangan dan tangga.
10:30 WIB — Informasi menyebar cepat melalui pesan berantai dan media sosial. Puluhan warga langsung datang membawa senter dan kamera. Rasa penasaran bercampur rindu membuat mereka rela menembus terik matahari.
13:00 WIB — Kondisi air terus menyusut. Sisa-sisa permukiman semakin jelas: barisan rumah petak, balai desa, bahkan sumur tua tampak menganga di dasar waduk. Sebagian besar masih tertutup lumpur tebal.
Sore hari — Petugas bendungan memasang garis pembatas untuk mencegah warga mendekati reruntuhan yang rawan longsor. Namun antusiasme warga tak terbendung. Mereka hanya diizinkan melihat dari jarak aman sekitar 50 meter.
Menggali Kenangan
Bagi mantan penghuni, kemunculan kampung ini seperti membuka album kenangan yang terkunci. Perkampungan Karian Lama dihuni sejak era 1980-an dan menjadi sentra pertanian lokal sebelum akhirnya direlokasi untuk proyek Bendungan Karian yang diresmikan pada 2019. Kini, di tengah kemarau, warga bisa melihat lagi jalan setapak yang dulu mereka lewati, pohon jati tua yang dulu peneduh, dan lapangan bola tempat anak-anak bermain sore.
“Saya ingat persis letak warung Bu Tuti di pojok sana. Sekarang jadi lumpur semua,” kata seorang ibu sambil menahan haru. Beberapa warga tampak memunguti pecahan keramik dan potongan kayu sebagai kenang-kenangan, meskipun sebenarnya dilarang.
Pemerintah setempat melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air mengimbau warga untuk tetap waspada. Material yang terendam lama bisa rapuh dan membahayakan. Selain itu, kawasan waduk masih menjadi area vital penampung air baku untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga di Banten bagian selatan.
Fenomena ini diperkirakan hanya bertahan selama puncak kemarau. Begitu hujan turun, air waduk akan kembali naik dan menenggelamkan semua jejak masa lalu. Bagi para mantan penghuni, momen ini adalah hadiah alam yang singkat namun penuh makna—sebuah reuni dengan tanah kelahiran yang sudah lama menghilang dari pandangan.
Comments (0)