Kekeringan Ekstrem, 162 KK di Tangsel Butuh Pasokan Air Bersih
Krisis air bersih makin mencekik warga di Tangerang Selatan. Sedikitnya 162 kepala keluarga di Kelurahan Keranggan kini benar-benar bergantung pada bantuan distribusi air di tengah musim kemarau palin...
Krisis air bersih makin mencekik warga di Tangerang Selatan. Sedikitnya 162 kepala keluarga di Kelurahan Keranggan kini benar-benar bergantung pada bantuan distribusi air di tengah musim kemarau paling brutal dalam lima tahun terakhir. Sumber air andalan mereka—sumur gali dan pompa dangkal—satu per satu kehabisan stok.
Lokasi Darurat dan Data Terbaru
Angka 162 KK itu muncul dari pendataan cepat yang dilakukan aparat setempat bersama relawan pada pekan ini. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibanding awal musim kering dua bulan silam, menandakan laju penguapan dan menyusutnya permukaan air tanah sudah mencapai level kritis. Lingkungan paling parah berada di RW 03 dan RW 05, di mana warga harus berjalan lebih dari satu kilometer demi mendapatkan satu jeriken air layak minum.
Sejumlah titik sumur warga hanya mengeluarkan lumpur, sementara debit air di Kali Angke—yang biasa menjadi penopang—turun drastis hingga menyisakan kubangan keruh. Warga memilih menghemat air bersih hanya untuk minum dan memasak, sedangkan kebutuhan mandi dan cuci menggunakan air sisa yang disimpan berhari-hari.
Distribusi dan Keterbatasan Stok
Untuk mencegah dampak lebih buruk, tangki-tangki air bersih mulai dikirim secara bergilir ke titik kumpul warga. Setiap keluarga rata-rata menerima jatah sekitar 40–60 liter per hari, jumlah yang oleh para relawan diakui masih sangat minim. “Kami atur jadwal ketat biar nggak ada yang kelewat, tapi sering kali kiriman telat karena jumlah armada terbatas,” ujar seorang koordinator lapangan yang enggan disebut nama.
Pemerintah kelurahan sudah mengajukan tambahan armada ke Dinas Sosial dan pihak swasta, namun respons belum maksimal. Beberapa warga bahkan nekat membeli air jeriken dari pedagang keliling dengan harga tiga kali lipat dari normal, memperparah beban ekonomi mereka yang mayoritas pekerja harian.
Risiko Kesehatan Mengintai
Kondisi ini mulai memicu lonjakan kasus diare dan gatal-gatal kulit, terutama pada anak dan lansia. Puskesmas setempat mencatat peningkatan kunjungan hingga 25 persen dalam dua pekan terakhir yang diduga kuat berkaitan dengan penggunaan air tak higienis untuk cuci tangan dan bilas.
Warga berharap musim hujan segera datang, namun Badan Meteorologi memprediksi kemarau masih akan berlangsung setidaknya satu bulan lagi. Dengan situasi itu, distribusi darurat dipastikan terus diperpanjang. “Kami tidak bisa tinggal diam. Solidaritas warga bagus, tapi tetap butuh perhatian lebih dari pemerintah daerah,” ucap seorang tokoh pemuda setempat saat memantau pembagian air di posko darurat.
Comments (0)