Karnaval Asia Afrika 2026 Satukan Budaya dari 26 Negara
BANDUNG — Suasana Jalan Asia Afrika berubah menjadi lautan warna, alunan musik etnik, dan gemuruh tepuk tangan pada Sabtu (4/7). Di bawah langit cerah Kota
BANDUNG — Suasana Jalan Asia Afrika berubah menjadi lautan warna, alunan musik etnik, dan gemuruh tepuk tangan pada Sabtu (4/7). Di bawah langit cerah Kota Bandung, Karnaval Asia Afrika 2026 resmi mempertemukan 26 negara dalam pawai budaya terbesar pasca-pandemi.
Dari Titik Kumpul Hingga Letupan Kembang Api
- Pukul 06.30 WIB – Ratusan peserta dari Asia dan Afrika mulai memadati Taman Sari untuk pemeriksaan kostum dan sesi pemanasan. Tim dari Nigeria sibuk memoles cat tubuh putih-hitam, sementara kontingen Jepang mengenakan yukata musim panas.
- Pukul 07.45 WIB – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil membunyikan sirene tua warisan Konferensi Asia Afrika 1955, pertanda pawai dimulai. “Kita nyalakan lagi semangat yang sama—persaudaraan, bukan perpecahan,” serunya.
- Pukul 08.15 WIB – Barisan terdepan diisi marching band asal India yang membawakan lagu “Vande Mataram”. Di belakangnya, penari Maasai dari Kenya melompat-lompat khas sambil memegang tombak kayu.
- Pukul 09.00 WIB – Kontingen Indonesia tampil spektakuler: 250 penari Saman dari Aceh kompak menabuh dada dan tangan, diikuti parade ondel-ondel Betawi dan tari Kecak mini dari Bali.
- Pukul 10.30 WIB – Seluruh delegasi berkumpul di Alun-Alun Bandung untuk flash mob menyanyikan “Heal the World”, dipimpin penyanyi cilik Afrika Selatan.
- Pukul 11.20 WIB – Pertunjukan ditutup oleh tarian kolosal “Nusantara-Afrika” yang memadukan jaipong dan kuduro, diiringi kembang api selama 15 menit.
Panitia mencatat, total 26 negara hadir, antara lain Jepang, Korea Selatan, India, Pakistan, Mesir, Nigeria, Afrika Selatan, Ethiopia, Sudan, dan tentu Indonesia. Data terakhir menyebutkan 18.500 penonton memadati rute pawai sepanjang 3,5 kilometer, naik 30% dibanding edisi 2024. Dinas Pariwisata Kota Bandung memperkirakan perputaran ekonomi mencapai Rp53 miliar dari sektor akomodasi, transportasi, dan kuliner lokal.
“Kami datang dari Kigali untuk menunjukkan bahwa Afrika bukan hanya soal kemiskinan; kami punya kekayaan budaya yang luar biasa,” ujar Jean-Bosco, penari Rwanda yang membawakan tarian penyambutan Inanga. “Bandung membuat kami merasa seperti keluarga.”
Lebih dari Sekadar Tarian
Karnaval kali ini juga membuka 16 paviliun tematik di Taman Sejarah. Di Paviliun Afrika, pengunjung dapat membuat cap tangan ala Suku Himba. Di Paviliun Arab, pelajar diajak bercerita tentang 1001 Malam. Sementara Paviliun Indonesia menghidangkan kopi Toraja dan menggelar lokakarya membatik.
“Konsep kami memang edu-tainment,” jelas Ketua Panitia Andi Putra. “Anak-anak bisa belajar geografi dan toleransi lewat cara menyenangkan.” Salah satu pengunjung, Raka (11), mengaku takjub bisa mencicipi langsung roti canai buatan ibu-ibu asal Penang. “Enak banget, aku jadi pengen ke Malaysia!” celetuknya.
Keamanan acara dikawal 1.500 personel gabungan TNI-Polri dan petugas kesehatan. Palang Merah Indonesia menangani 47 kasus ringan, mayoritas akibat panas. “Kami siapkan pos hidrasi di setiap 500 meter, dan alhamdulillah semua tertangani cepat,” kata Dr. Santi, koordinator medis.
Warisan Konferensi Asia Afrika
Pawai yang digelar dua tahunan ini pertama diadakan pada 2012 untuk memperingati Konferensi Asia Afrika 1955. Tahun ini, karangan bunga segar diletakkan di depan Gedung Merdeka sebagai simbol penghormatan terhadap para pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan dan kerja sama Selatan-Selatan.
“Semangat KAA harus terus diperbarui. Generasi muda kini harus paham, solidaritas itu bukan abstrak; lewat karnaval ini, solidaritas bisa dilihat, disentuh, dan ditarikan,” kata Ridwan Kamil di hadapan 500 relawan.
Sementara itu, Duta Besar Nigeria untuk Indonesia, Usman Ogah, menegaskan bahwa kegiatan seperti ini mendukung diplomasi rakyat. “Ketika warga Bandung melihat langsung keindahan baju adat kami, stereotip negatif perlahan luntur.”
Menjelang senja, panitia mengumumkan bahwa Karnaval Asia Afrika 2028 akan kembali digelar dengan target 40 negara. “Kami ingin Bandung benar-benar menjadi panggung dunia yang merangkul semua,” pungkas Andi Putra.
[SOCIAL_TWEET]: 26 negara tumplek di Jalan Asia Afrika! Karnaval Asia Afrika 2026 kemarin sukses sajikan tarian, musik, dan workshop budaya dari Nepal sampai Kamerun. Bandung pokoknya kota duniawi! 🌏✨ #AsiaAfricaCarnival #BandungGlobal #SolidaritasKultural[SOCIAL_TG]: 🌍 26 Negara Ramaikan Bandung di Karnaval Asia Afrika 2026! Ada kembang api, kelas membatik Afrika, dan roti canai Penang. Klik buat cuplikan keseruannya!
Comments (0)