Sep 17, 2026
Nasional

Kabut Asap Karhutla Selimuti Kepri, Kasus ISPA Melonjak Tajam

Kualitas udara di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berada dalam kondisi sangat tidak sehat menyusul pekatnya kabut asap kiriman akibat kebakaran hut

Kabut Asap Karhutla Selimuti Kepri, Kasus ISPA Melonjak Tajam

Kualitas udara di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berada dalam kondisi sangat tidak sehat menyusul pekatnya kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Kondisi buruk ini telah berlangsung secara berturut-turut dalam tiga pekan terakhir dan memicu lonjakan signifikan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di berbagai fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data stasiun pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), konsentrasi partikulat halus PM2.5 di beberapa titik strategis, termasuk Batam, Tanjungpinang, dan Bintan, telah menembus ambang batas aman. Udara yang terkontaminasi partikel debu pembakaran biomassa tersebut kini menyelimuti permukiman warga dan membatasi jarak pandang operasional transportasi darat maupun laut.

Kronologi Perburukan Kualitas Udara Tiga Pekan Terakhir

Eskalasi kabut asap dan dampak kesehatannya di Kepulauan Riau tercatat berkembang secara bertahap seiring bertambahnya titik panas (hotspot):

  1. Pekan Pertama: BMKG mendeteksi peningkatan jumlah titik panas karhutla di Sumatra bagian tengah dan selatan serta Kalimantan Barat. Pola pergerakan angin monsun mulai membawa asap lintas batas (transboundary haze) menuju wilayah Kepri, dengan tingkat ISPU bergerak dari status sedang ke level tidak sehat.
  2. Pekan Kedua: Intensitas kabut asap semakin tebal dan mulai mengendap di lapisan atmosfer bawah. Dinas Kesehatan kabupaten/kota mulai mencatat kenaikan kunjungan pasien rawat jalan dengan keluhan iritasi mata, batuk, dan flu di puskesmas setempat sebesar 35 persen.
  3. Pekan Ketiga: Status ISPU resmi melonjak ke kategori Sangat Tidak Sehat. Bau sangit material terbakar tercium pekat di luar ruangan, memicu ledakan kasus ISPA hingga lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata bulanan normal.
"Paparan partikel PM2.5 yang dihirup dalam durasi lama memicu inflamasi saluran napas secara cepat. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma menjadi korban paling terdampak dalam sepekan terakhir," ujar perwakilan pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau.

Dampak Kesehatan dan Kesiapsiagaan Fasilitas Medis

Dinas Kesehatan daerah telah menginstruksikan seluruh rumah sakit dan puskesmas untuk menyiagakan ruang isolasi pernapasan, stok tabung oksigen, serta obat-obatan bronkodilator. Masyarakat diimbau keras untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan dan menjalankan protokol perlindungan kesehatan:

  • Wajib Masker: Menggunakan masker berstandar medis atau N95/KN95 saat harus beraktivitas di ruang terbuka.
  • Perlindungan Dalam Ruangan: Menutup rapat ventilasi, jendela, serta memanfaatkan pembersih udara (air purifier) bila memungkinkan.
  • Hidrasi Optimal: Meningkatkan konsumsi air putih minimal 2 liter per hari guna membantu pengeluaran racun dan menjaga kelembapan tenggorokan.
  • Pemeriksaan Dini: Segera mendatangi fasilitas medis terdekat jika mengalami gejala sesak napas berat, batuk berdarah, atau demam tinggi.

Pemerintah daerah saat ini terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan satgas penanggulangan karhutla untuk memantau pergerakan sebaran asap serta mempertimbangkan opsi penyesuaian kegiatan belajar-mengajar di sekolah menjadi sistem daring jika indeks pencemaran terus memburuk.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User